DIALOG IKHWAN SALAFI DENGAN QUBURIYYUN

DIALOG DENGAN QUBURIYYUN

Alkisah…

Suatu ketika, tersebutlah seorang QUBURIYYUN mengajak seorang IKHWAN SALAFI ke sebuah kuburan keramat.

IKHWAN : “ Lho… kok kita malah kemari ?? ”.

QUBURIYYUN : “ Iya…mampir sebentar. ada sedikit keperluan ”.

IKHWAN : “ Ada keperluan apa dikuburan malam-malam begini ? ”.

QUBURIYUUN : “ Besok pagi kita kan mau pergi safar, jadi kita perlu ziarah kemari ”.

IKHWAN : “ Memang apa hubungannya pergi safar dengan ziarah kubur ?? ”.

QUBURIYYUN : “ Ya ada.supaya kepergian kita nanti lebih selamat dan dimudahkan Allah ”.

IKHWAN : “ Lho ? Kalau ingin selamat dan dimudahkan kenapa tidak berdo’a dan minta langsung kepada Allah saja ? kenapa harus ada acara ke kuburan ? ”.

QUBURIYYUN : “ Ziarah kubur itu dianjurkan dalam Islam, banyak dalilnya. jangan seperti Wahabi yang melarang ziarah kubur…!! ”.

IKHWAN: “ Wahabi melarang ziarah kubur ? kata siapa ? Ingat saudaraku, ziarah kubur adalah Sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam, dan banyak sekali dalil yang menerangkannya, dari sepengetahuan saya bahwa Wahabi tidak ada yang melarang untuk ziarah kubur, bahkan Wahabi juga ziarah kubur, yang melarang bukan Wahabi, tapi Allah dan Rasul-Nya yaitu jenis ziarah kubur yang menyelisihi syari’at ”.

QUBURIYYUN : “ Emang seperti apa ziarah kubur yang syari’at ? ”.

IKHWAN : “ Kita dianjurkan ziarah kubur hanya sebatas mengucapkan salam kepada penghuni kubur dan mendo’akannya, selain itu untuk mengingatkan kita kepada kematian ”.

QUBURIYYUN : “ Nah, saya juga seperti itu ziarah kuburnya. Jadi ziarah saya ini sesuai syari’at, terus kenapa kamu mempermasalahkannya ? ”.

IKHWAN : “ Bukankah tadi kamu mengatakan, bahwa niatmu ziarah kubur disini supaya kepergian kita besok bisa lebih selamat dan dimudahkan Allah ? ”.

QUBURIYYUN : “ Iya, bukankah itu termasuk dari memohon permintaan dan berdo’a juga ? apa yang salah ? ”.

IKHWAN : “ Berarti kamu meminta keselamatan dan kemudahan kepada orang yang sudah meninggal atau meminta kepada penghuni kubur ini, hati-hati wahai saudaraku perbuatan yang seperti itu nanti malah akan menjatuhkan kamu ke dalam perkara syirik, karena meminta keselamatan dan kemudahan kepada selain Allah. Bukankah yang bisa memberikan keselamatan dan kemudahan hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala ? ”.

QUBURIYYUN : “ Saya tidak meminta keselamatan dan kemudahan kepada penghuni kubur ini, Saya juga tahu bahwasanya hanya Allah yang mampu memberikan keselamatan dan kemudahan “.

IKHWAN : “ Kalau kamu mengetahuinya, lantas kenapa harus mendatangi kuburan ini untuk minta keselamatan ?? Kenapa tidak berdo’a langsung kepada Allah dirumah atau dimasjid saja ? ”.

QUBURIYYUN : “ Saya hanya bertawassul (menjadikan wasilah/perantara) kepada penghuni kuburan ini. karena pemiliki kuburan ini adalah orang shalih atau wali Allah, saya meminta kepada penghuni kubur ini agar mendo’akan atau menyampaikan permintaan saya kepada Allah. Saya tidak meminta langsung kepada penghuni kubur ini, tapi hanya menjadikan dia sebagai perantara saja ”.

IKHWAN : “ Kenapa kamu menjadikan orang yang sudah meninggal sebagai perantara ? bukankah dia sendiri sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang ? Ketika orang ini masih hidup saja, dia tidak mampu memberi kamu keselamatan, apalagi ketika dia telah meninggal, itu lebih tidak mampu lagi. Hanya Allah yang mampu memberi keselamatan dan atas izin-Nya ”.

QUBURIYYUN : “ Kamu jangan berkata seperti itu, penghuni kubur ini adalah orang shalih, nanti kamu bisa kualat jika berkata seperti itu…!! Wali Allah itu tidak sama dengan orang biasa ”.

IKHWAN : “ Wahai saudaraku…itu namannya pengkultusan kepada makhluk, sedangkan perbuatan seperti itu dilarang dalam agama, bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah melarang umatnya untuk mengkultuskan beliau secara berlebih-lebihan :

  ﺗُﻄْﺮُﻭﻧِﻲ ﻛَﻤَﺎ ﺃَﻃْﺮَﺕْ ﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭَﻯ ﺍﺑْﻦَ ﻣَﺮْﻳَﻢَ ﻓَﺈِﻧَّﻤَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻓَﻘُﻮﻟُﻮﺍ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟُﻪُ

“ Janganlah kalian memujiku secara berlebihan seperti kaum Nasrani memuji Isa alaihissalam putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba Allah, maka panggillah aku dengan hamba Allah dan Rasulullah ”.
(HR. Al-Bukhari no. 3261).

Jadi mengkultuskan beliau saja yang jelas-jelas adalah Rasul Allah kita tidak boleh, apalagi sampai mengkultuskan penghuni kubur ini yang noto bene adalah manusia biasa. Untuk itu lebih baik kita berdo’a dan meminta langsung kepada Allah subhanahu wa ta’ala secara langsung tanpa melalui perantara kepada siapapun apalagi kepada orang yang sudah meninggal sebagaimana Allah subhanahu wa ta’la berfirman :

ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺭَﺑُّﻜُﻢُ ﺍﺩْﻋُﻮﻧِﻲ ﺃَﺳْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢ

“ Dan Rabbmu berfirman : Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu ”.
(QS. Al-Mukmin : 60).

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺳَﺄَﻟَﻚَ ﻋِﺒَﺎﺩِﻱ ﻋَﻨِّﻲ ﻓَﺈِﻧِّﻲ ﻗَﺮِﻳﺐٌ ﺃُﺟِﻴﺐُ ﺩَﻋْﻮَﺓَ ﺍﻟﺪَّﺍﻉِ ﺇِﺫَﺍ ﺩَﻋَﺎﻥِ ﻓَﻠْﻴَﺴْﺘَﺠِﻴﺒُﻮﺍ ﻟِﻲ ﻭَﻟْﻴُﺆْﻣِﻨُﻮﺍ ﺑِﻲ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺮْﺷُﺪُﻭﻥَ

“ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran ”.
(QS. Al-Baqarah : 186).

Dan disebutkan dalam Sunan Ibnu Majah dari hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu dia berkata, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﺴْﺎَٔﻝِ ﺍﻟﻠﻪ ﻳَﻐْﻈَﺐْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ

“ Barang siapa yang tidak meminta kepada Allah ta’ala, maka Allah ta’ala murka kepadanya ”.
(HR. Ibnu Majah dan lainnya).

QUBURIYYUN : “ Kamu telah keliru dalam memahami makna tawassul. Sesungguhnya bila ada salah seorang diantara kita mempunyai urusan dengan seorang raja atau penguasa atau menteri yang memiliki kedudukan yang sangat besar, maka ia tidak mungkin menghadap kepadanya secara langsung, karena ia merasa tidak akan diperhatikan nantinya. makanya kita mencari seorang yang dikenal oleh raja tersebut, yang dekat dengannya, yang didengar olehnya, lalu kita jadikan dia sebagai perantara antara kita dengan raja atau penguasa itu. dengan begitu, niscaya urusan kita akan diperhatikan oleh raja. Begitu juga halnya antara saya dengan orang shalih tersebut, yang mana orang shalih itu adalah perantara saya dalam meminta kepada Allah ”.

IKHWAN : “ Astaghfirullah…!! Tidakkah kamu sadar atas ucapan itu, bahwa sesungguhnya kamu baru saja menyamakan Allah dengan makhluk-Nya…?? Bahkan menyamakan Allah dengan makhluk-Nya yang zhalim dan keji…!! wal iyadzubillah…!! ”.

QUBURIYYUN : “ Maksudnya ? saya tidak ada menyamakan Allah dengan makhluknya. saya hanya mengambil Qiyas, bukankah Qiyas juga merupakan sumber hukum ? ”.

IKHWAN : “ Perlu diketahui dalam masalah Qiyas ini, memang ada disebagian ulama generasi sekarang yang membolehkan ber-Qiyas untuk menentukan perkara ibadah, namun ijma’ (sepakat) ulama ahlu Sunnah waljamaah mengatakan bahwa Qiyas tidak bisa dijadikan sebagai sumber hukum dalam agama, sebagaimana yang berlaku dizaman para sahabat dan para ulama salaf terdahulu tidak menggunakannya, bahkan mereka tidak mengenal istilah Qiyas ini, apalagi untuk menggunakannya. Yang rajih (kuat) adalah Qiyas tidak bisa dijadikan sumber hukum dalam perkara ibadah, kalau dianggap sumber hukum, maka itupun jika keadaan darurat, dan karena dengan qias ini akhirnya orang akan begitu mudah membuat-buat syari’at baru dalam agama ini. Ingatlah saudaraku…Islam tegak hanya diatas dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah shahih setelah itu ijma’, sedangkan Qiyas bukan landasan untuk menentukan hukum dalam perkara ibadah, dalam ibadah harus jelas Dalil dan tuntunannya, kalau aqidah dibawa kedalam Qiyas, maka akan rusaklah agama ini, karena dengan begitu tentu setiap orang dan siapapun dia semua akan bisa berbuat sesuka hatinya dan sekehendak hawa nafsunya dalam beragama, pada akhirnya timbullah seperti sekarang ini banyak ibadah tambahan, bercampur aduk yang tidak ada sumbernya sama sekali, rancu, rusak dan penyimpangan lainya.

Ingat saudaraku…!! ibadah tidak bisa direka-reka atau dikarang-karang sendiri sesuai selera kita, perkara aqidah jangan dianggap sepele atau ringan, karena ini menyangkut tanggung jawab manusia dengan tuhannya kelak diakhirat, apalagi yang kamu Qiyaskan adalah sama saja dengan menyamakan Allah dengan raja atau penguasa, yang faktanya banyak yang zhalim, diktator, sewenang wenang, dan tidak memperhatikan kemaslahatan rakyatnya, yang mana mereka telah menjadikan antara dirinya dan rakyatnya dengan tirai pemisah dan pengawal, sehingga rakyatnya tidak mungkin menghadap rajanya kecuali dengan perantara atau sarana, bahkan sering. didapati dengan suap menyuap…!! Sekiranya seseorang menghadap penguasa secara langsung, berbicara dengannya tanpa perantara atau pengawal, apakah hal itu bukan sikap yang lebih sempurna dan lebih terpuji baginya, ataukah ketika ia menghadapnya dengan cara perantara yang kemungkinan butuh waktu yang terkadang panjang dan terkadang pendek ? ”.

QUBURIYYUN : ” (Terdiam sejenak sambil nelan ludah) “.

IKHWAN : “ Kamu tahu dengan khalifah ’Umar Ibnu Al-Khathab radhiallahu ‘anhuma, bukan ?? Beliau adalah salah satu khalifah kebanggaan umat muslim dipenjuru dunia ini,  beliau sebagai khalifah yang sangat dekat dengan rakyatnya, sehingga orang yang miskin atau lemah, sekalipun mampu bertemu secara langsung dan bercakap cakap dengan beliau, tanpa harus ada perantara atau pengawal. maka perhatikanlah, apakah penguasa yang seperti ini lebih baik dan lebih utama ataukah penguasa yang menjadi acuan Qiyas kamu terhadap Allah yang harus melalui perantara ? Menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya yaitu penguasa yang adil saja sangat dilarang, apalagi menyerupakan Allah dengan penguasa yang zhalim, jahat atau buruk ?! ”.

QUBURIYYUN : “ Baiklah kalau begitu, bukankah tidak ada dalil yang melarang bertawassul kepada orang yang sudah meninggal ? jika hal itu dilarang, mana dalilnya ?? ”.

IKHWAN : “ Dengar wahai saudaraku…tawassul merupakan salah satu bentuk dari ritual ibadah, jadi segala macam bentuk ibadah itu harus disertai dalil. Ada kaidahnya para ulama dalam kaidah Ushul Fiqih yang berbunyi:

ﻓَﺎﻷَﺻْﻞُ ﻓَﻲ ﺍﻟْﻌِﺒَﺎﺩَﺍﺕِ ﺍﻟﺒُﻄْﻼَﻥُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻘُﻮْﻡَ ﺩَﻟِﻴْﻞٌ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻷَﻣْﺮِ

” Bahwa hukum asal semua ibadah itu adalah terlarang sebelum ada dalil yang memerintahkan-Nya “.

Artinya dapat dipahami bahwa jika tidak ada dalil yang memerintahkan-Nya berarti ibadah itu terlarang, kalau kamu berkata bahwa melakukan tawasul itu boleh hanya dengan berpendapat bahwa hal tersebut tidak ada Dalil yang melarangnya, itulah sebuah pemahaman yang keliru, taqlid buta dan berdalil hanya dengan hawa nafsu. dan inilah diantara penyebab agama ini menjadi rusak sebagai mana Rasulullah shalalluhu ‘alaihi wassalam bersabda :

” Yang menyebakan agama ini cacat ialah hawa nafsu “.
(HR. Asysyhaab).

Kalau dikatakan bahwa tawasul itu boleh dilakukan dengan berpendapat karena hal itu tidak ada dalil yang melarangnya, lalu bagaimana jika dalam dua shalat Ied (hari raya Iedul Fitri dan Iedul Adha) yang asalnya tidak ada adzan dan Iqamah, lalu kemudian kita adakan adzan dan Iqamah, apakah boleh ? Begitupun dalam shalat Maghrib yang asal perintahnya adalah tiga raka’at kemudian kita rubah menjadi empat raka’at apakah itu juga boleh ? Atau misalnya dalam shalat Shubuh yang asalnya dikerjakan hanya dua raka’at kemudian kita tambah satu raka’at hingga menjadi tiga raka’at, apakah itu juga boleh ? Bukankah dalam shalat Ied itu jika kita tambah adzan dan Iqamahnya juga tidak ada larangannya dalam agama…?? Begitu juga dalam shalat Maghrib dan shalat Shubuh, bukankah jika kita tambah jumlah raka’atnya itu juga tidak ada larangannya ? Tapi kenapa semua itu kita tidak dilarang melakukanya bahkan berdosa ? Jawabnya, karena jelas itu tidak ada perintahnya dari Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, seyogyanya dalam melakukan sesuatu amalan itu harus berdasarkan ada perintah dalam syari’at-Nya dan janganlah menganggap semuanya boleh dikerjakan tanpa ada perintah dari Allah dan Rasul-Nya, jika setiap amalan yang tidak ada perintahnya baik dalam Al-Qur’an maupun dalam As-Sunnah sudah jelas artinya itu adalah amalan yang mengada-ada atau membuat-buat sendiri (Bid’ah), perbuatan seperti ini tidak akan bermanfaat bahkan sesat dan berdosa, sebagaimana Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda

ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﻓِﻰ ﺃَﻣْﺮِﻧَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ

“ Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak”.
(HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻼً ﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺃَﻣْﺮُﻧَﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ

“ Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak”.
(HR. Muslim no. 1718).

Hadits dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan :

ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ ﻓَﺈِﻥَّ ﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟْﻬُﺪَﻯ ﻫُﺪَﻯ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﺷَﺮُّ ﺍﻷُﻣُﻮﺭِ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ ﻭَﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah (Al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (As-Sunnah). Dan seburuk-buruk perbuatan adalah perbuatan yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan dalam agama itu adalah bid’ah, setiap BID’AH adalah SESAT…! ”.
(HR. Muslim no. 867).

Dalam riwayat An-Nasa’i Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓَﻼ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ ، ﺇِﻥَّ ﺃَﺻَﺪَﻕَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ، ﻭَﺃَﺣْﺴَﻦَ ﺍﻟْﻬَﺪْﻱِ ﻫَﺪْﻱُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ، ﻭَﺷَﺮَّ ﺍﻷُﻣُﻮﺭِ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ ، ﻭَﻛُﻞَّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ، ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼﻟَﺔٌ ، ﻭَﻛُﻞَّ ﺿَﻼﻟَﺔٍ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

“ Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan yang disesatkan oleh Allah tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (As-Sunnah). Seburuk-burukk perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap BID’AH adalah KESESATAN dan setiap kesesatan tempatnya di NERAKA…!!”.
(HR. An-Nasa’i no. 1578, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan An Nasa’i).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ﺃُﻭﺻِﻴﻜُﻢْ ﺑِﺘَﻘْﻮَﻯ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟﺴَّﻤْﻊِ ﻭَﺍﻟﻄَّﺎﻋَﺔِ ﻭَﺇِﻥْ ﻋَﺒْﺪًﺍ ﺣَﺒَﺸِﻴًّﺎ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣَﻦْ ﻳَﻌِﺶْ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺑَﻌْﺪِﻯ ﻓَﺴَﻴَﺮَﻯ ﺍﺧْﺘِﻼَﻓًﺎ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺴُﻨَّﺘِﻰ ﻭَﺳُﻨَّﺔِ ﺍﻟْﺨُﻠَﻔَﺎﺀِ ﺍﻟْﻤَﻬْﺪِﻳِّﻴﻦَ ﺍﻟﺮَّﺍﺷِﺪِﻳﻦَ ﺗَﻤَﺴَّﻜُﻮﺍ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﻋَﻀُّﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺑِﺎﻟﻨَّﻮَﺍﺟِﺬِ ﻭَﺇِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﻭَﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺕِ ﺍﻷُﻣُﻮﺭِ ﻓَﺈِﻥَّ ﻛُﻞَّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah BID’AH dan SETIAP BID’AH adalah KESESATAN ”.
(HR. At-Tirmidzi no. 2676. ia berkata : “hadits ini hasan shahih”).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ﺇِﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﺠَﺐَ ﺍﻟﺘَّﻮْﺑَﺔَ ﻋَﻦْ ﻛُﻞِّ ﺻَﺎﺣِﺐِ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺪَﻉْ ﺑِﺪْﻋَﺘَﻪُ

“Sungguh Allah menghalangi taubat dari setiap pelaku BID’AH (mengada-ada dalam perkara agama) sampai ia meninggalkan Bid’ahnya ”.
(HR. Ath-Thabarani dalam al-Ausath no. 4334. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 54).

QUBURIYYUN : “ Kamu ternyata adalah orang yang cukup berilmu saudaraku, tapi baiklah…dengarkan, bahwa sudah banyak kejadian, dan ini nyata, yaitu banyak orang yang datang ke kuburan ini kemudian bertawassul kepada penghuni kubur ini, lalu tidak lama kemudian permintaan dan do’anya terkabul dagangan sepi kemudian datang kekuburan ini dagangan jadi laris manis, ingin punya anak datang kesini akhirnya terkabul punya anak, ingin dapat jodoh pun banyak yang akhirya segera nikah setelah ziarah kesini, para caleg pun banyak yang berhasil setelah datang kesini, dan masih banyak lagi contohnya, ini benar-benar terjadi, sehingga semakin banyak orang yang mendatangi kuburan ini kemudian hajat dan do’a-do’a mereka banyak yang terkabul, seandainya tawassul seperti itu salah, lantas kenapa Allah mengabulkan permintaan mereka ? ”.

IKHWAN : “ Terkabulnya do’a dan permintaan-permintaan seperti itu adalah ujian dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk orang-orang tersebut, dan bukan berarti perbuatan mereka yang dikabulkan tersebut merupakan tolak ukur kebenaran, apalagi jika orang-orang menyangka ini semua karena sebab penghuni kubur ini yang memiliki keutamaan dan karamah, tidak seperti itu, itu adalah pemahaman yang keliru. yang perlu kamu ketahui juga, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala juga memberikan ujian kepada hamba-Nya dengan cara memudahkan kemaksiatan untuknya. Dan ini adalah suatu perkara yang terjadi pada ummat-ummat terdahulu dan juga pada ummat ini “.

QUBURIYYUN : “ Maksudnya ?? saya belum paham…?!”.

IKHWAN : “ Saya kasih contoh, salah satu ujian dari Allah dengan cara memberikan kemudahan dalam bermaksiat adalah seperti kisahnya Bani Isra’il yang melanggar aturan pada hari Sabtu (Lihat QS. Al-A’raf : 163). Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan Bani Isra’il untuk memancing ikan pada hari Sabtu, dan mereka tetap dalam kondisi seperti itu beberapa waktu lamanya. kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menguji mereka dengan adanya ikan-ikan besar pada hari Sabtu, ikan-ikan besar itu muncul dengan sangat banyak kepermukaan laut pada hari Sabtu, sedangkan dihari lainnya tidak mereka dapati. maka Bani Isra’il membuat tipu daya dan strategi. mereka kemudian meletakkan jaring dan.memasangnya pada hari Jum’at, lalu jika ikan-ikan itu muncul pada hari Sabtu pastilah ikan-ikan itu akan terperangkap dan mereka tidak akan bisa keluar dari jaring itu. dan bila hari Ahad tiba, maka mereka pergi mengambil jaring tersebut dan mendapatkan banyak ikan didalamnya. dengan tipu daya mereka akhirnya Allah meng-Adzab mereka dengan merubahnya menjadi kera.

Nah begitupun halnya dengan do’a-do’a mereka yang dikabulkan oleh Allah karena tawassulnya kepada orang yang sudah meninggal. Allah subhanahu wa ta’ala sengaja memberikan ujian kepada mereka dengan memberikan kemudahan dalam bermaksiat, hingga tiba akan waktunya datang adzab dari Allah berupa berbagai macam musibah atas diri mereka, ini nyata dan banyak terjadi…Wallahul musta’an ”.

QUBURIYYUN : “ Astaghfirullah…lantas bagaimana halnya dengan dalil-dalil yang menyebutkan tentang bolehnya tawassul kepada orang yang sudah meninggal itu..? ”.

IKHWAN : “ wahai saudaraku, sesungguhnya tawasul dalam islam itu ada yang sunnah dan ada yang bid’ah bahkan ada yang syirik, yang sunnah misalnya bertawasul dengan menyebut nama-nama Allah atau bertawasul dengan orang yang masih hidup. Misalnya kita minta kepada kedua orang tua kita yang masih hidup agar didoakan perjalanan kita supaya selamat sampai tujuan. Nah bentuk-bentuk tawasul seperti ini dibolehkan. Bukan bertawasul kepada orang yang sudah meninggal seperti yang kamu lakukan ini karena ini namanya syirik meminta kepada penghuni kubur. Adapun.mengenai dalil-dalil yang membolehkan tawasul itu menurut sepengetahuan saya bahwa tidak ada satupun dalil yang membolehkan bertawasul dengan orang yang sudah meninggal, adapun ada sebagian orang yang melakukan itu mereka biasanya tidak lepas dari sifat ghuluw (berlebih-lebihan/melampaui batas) kepada individu yang dianggap shalih dan itupun mereka para pelaku tawasul seperti ini biasanya banyak berdalil dengan qiyas, ra’yu (akal/logika) atau menggunakan hadits-hadits palsu atau haditsnya shahih tapi salah dalam pendalilan, ada juga dengan alasan anggapan ihtisan (anggapan baik). Baiklah saudaraku, untuk membahas dalil-dalil itu nanti kita cari waktu tersendiri untuk menjelaskannya karena itu butuh waktu yang luang dan panjang. Tapi intinya disini akan saya jelaskan secara ringkas saja, bahwa seluruh dalil yang dipakai oleh orang-orang yang membolehkan tawassul dengan orang yang telah mati itu ada dua kemungkinan :

1. Dalil itu dha’if (lemah) dan dalilnya maudhu’ (palsu) atau hadits dha’if dan palsu namun lafazdhnya sesuai kemauan mereka.

2. Dalil itu Shahih, tetapi difahami dengan keliru (salah dalam pendalilan atau hadits shahih yang maknanya sengaja dipelintir kesana kemari untuk melegalisasi atas perbuatan mereka yang rusak).

Atsar-atsar yang membolehkan Tawasul (meminta dikuburan) itu pada umumnya lemah bahkan palsu karena semuanya bertentangan dengan Al-Qur’an.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺭَﺑُّﻜُﻢُ ﺍﺩْﻋُﻮﻧِﻲ ﺃَﺳْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢْ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺴْﺘَﻜْﺒِﺮُﻭﻥَ ﻋَﻦْ
ﻋِﺒَﺎﺩَﺗِﻲ ﺳَﻴَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﺩَﺍﺧِﺮِﻳﻦَ

” Dan Tuhanmu berfirman : ” Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina “.
(QS. Al-Mu’min Ayat : 60).

” Wahai saudaraku Quburiyyun, kamu tahu hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang dikenal dengan hadits “Syaddur Rihal”…?? “.

” Hadits itu menjelaskan bahwa kita sebagai umatnya dilarang berpergian dalam rangka ibadah (safar) selain menuju ketiga mesjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid Al-Aqsha, dan Masjid Nabawi “.

Dengarlah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ﻟَﺎ ﺗُﺸَﺪُّ ﺍﻟﺮِّﺣَﺎﻝُ ﺇِﻟَّﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺛَﻠَﺎﺛَﺔِ ﻣَﺴَﺎﺟِﺪَ : ﻣَﺴْﺠِﺪِ ﺍﻟْﺤَﺮَﺍﻡِ، ﻭَﻣَﺴْﺠِﺪِ ﺍﻟْﺄَﻗْﺼَﻰ،ﻭَﻣَﺴْﺠِﺪِﻱ

“ Tidaklah diikat pelana unta (tidak dilakukan perjalanan jauh safar) kecuali menuju tiga masjid : Masjidil Haram, Masjid Al-Aqsha, dan masjidku (Masjid Nabawi) ”.
(HR. Al-Bukhari, no. 1197, HR. Muslim dalam shahihnya no. 1397 dari Abu Sa’id Al Khudri).

Maksud bahwa ” Mengikat pelana unta ” sama dengan ” safar “.
Dan Imam ibnu Hajar Al-Asqalany Asy-Syafi’i rahimahullah berkata : “ Yang dimaksud dengan ( ﻭَﻻَ ﺗُﺸَﺪُّ ﺍﻟﺮِّﺣَﺎﻝُ ) adalah larangan bersafar menuju selainnya (tiga masjid itu) “.

Juga Ath-Thibi rahimahullah menjelaskan :

“ Larangan dengan gaya bahasa bentuk penafian (negasi) seperti ini lebih tegas dari pada hanya kata larangan semata, seolah-olah dikatakan sangat tidak pantas melakukan ziarah ke selain tempat-tempat ini“.
(Lihat : Fathul Bari, 3/64).

Artinya kita tidak boleh safar ke tempat tertentu selain ketiga mesjid itu, padahal mesjid sudah jelas-jelas tempat ibadah tapi kita tidak diperbolehkan, apalagi mengunjungi kuburan yang jelas tempat ajang kemusyrikan…!!

Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya penghuni kubur ini sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi. semua amalan-amalanya telah terputus, kecuali hanya tiga perkara yaitu anak shalih yang mendo’akan kedua orang tuanya, ilmu yang bermanfaat, dan amal Jariyyah.

Seharusnya kamu lah yang mendo’akannya agar dia selamatdari adzab kubur dan api neraka, bukannya kamu yang malah meminta dia untuk mendo’akan kamu, terbalik itu …!!

Penghuni kubur justru sangat membutuhkan do’a dari kita yang masih hidup, karena kita tidak tahu apa yang dia alami didalam kubur ini. Sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menganjurkan umatnya jika kita memasuki kuburan agar kita mendo’akannya, inilah ziarah kubur yang disyari’atkan dan yang Islami.

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“ Wahai Rasulullah apakah yang harus aku ucapkan kepada mereka (kaum Muslimin, bila aku menziarahi mereka) ? ”. – Beliau menjawab : “ Katakanlah :

ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟﺪِّﻳَﺎﺭِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﺇِﻥْ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻜُﻢْ ﻻَﺣِﻘُﻮْﻥَ ﻧَﺴْﺄَﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﻨَﺎ ﻭَﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟْﻌَﺎﻓِﻴَﺔَ .

” Semoga dicurahkan kesejahteraan atas kalian wahai ahli kubur dari kaum mukminin dan muslimin. Dan mudah-mudahan Allah memberikan rahmat kepada orang yang telah mendahului kami dan kepada orang yang masih hidup dari antara kami dan insya Allah kami akan menyusul kalian “.
(HR. Ahmad VI/221, Muslim no. 974 dan an-Nasa-i IV/93, dan lafazdh ini milik Muslim).

Buraidah radhiallahu ‘anhu berkata :

“ Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada mereka (para sahabat) apabila mereka memasuki pemakaman (kaum muslimin) hendaknya mengucapkan :

ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟﺪِّﻳَﺎﺭِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﺇِﻥْ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻜُﻢْ ﻻَﺣِﻘُﻮْﻥَ ﻧَﺴْﺄَﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﻨَﺎ ﻭَﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟْﻌَﺎﻓِﻴَﺔَ .

” Mudah-mudahan dicurahkan kesejahteraan atas kalian, wahai ahli kubur dari kaum mukminin dan muslimin. Dan insya Allah kami akan menyusul kalian. Kami mohon kepada Allah agar mengampuni kami dan kalian “.
(HR. Al-Imam Muslim no.975, an-Nasa-i IV/94, ibnu Majah no.1547, Ahmad V/353, 359 dan 360. Lafazdh hadits ini adalah lafazdh Ibnu Majah, shahih).

Dari ‘Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :

“ Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila selesai menguburkan mayat, beliau berdiri lalu bersabda : “ Mohonkanlah ampunan untuk saudaramu dan mintalah keteguhan,sesungguhnya sekarang dia sedang ditanya ”.
(HR. Abu Dawud dan Hakim).

Selain itu bahwa penghuni kubur ini sudah tidak bisa mendengar perkataan apa-apa dari manusia yang hidup, sebagai mana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺴْﺘَﻮِﻱ ﺍﻟْﺄَﺣْﻴَﺎﺀُ ﻭَﻟَﺎ ﺍﻟْﺄَﻣْﻮَﺍﺕُ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳُﺴْﻤِﻊُ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻧْﺖَ ﺑِﻤُﺴْﻤِﻊٍ ﻣَﻦْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻘُﺒُﻮﺭِ

“ Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur dapat mendengar “.
(QS. Al-Faathir : 22).

Dan andaikan mereka penghuni kubur bisa mendengar seruan dari orang yang hidup, merekapun tidak sanggup berbuat apa-apa…Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

ﺗَﺪْﻋُﻮﻫُﻢْ ﻻَ ﻳَﺴْﻤَﻌُﻮﺍْ ﺩُﻋَﺂﺀَﻛُﻢْ ﻭَﻟَﻮْ ﺳَﻤِﻌُﻮﺍْ ﻣَﺎ ﺍﺳْﺘَﺠَﺎﺑُﻮﺍْ ﻟَﻜُﻢْ ﻭَﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻳَﻜْﻔُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺸِﺮْﻛِـﻜُﻢْ ﻭَﻻَ ﻳُﻨَﺒّﺌُﻚَ ﻣِﺜْﻞُ ﺧَﺒِﻴﺮٍ

” In tad’uuhum laayasma’uu du’aa-akum walaw sami’uu maaistajaabuu lakum wayawma lqiyaamati yakfuruuna bisyirkikum walaayunabbi-uka mitslu khabiir “.

” Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu ; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh yang maha mengetahui “.
(QS. Al–Fathir : 14).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

ﺃَﻣَّﻦ ﻳُﺠِﻴﺐُ ﺍﻟْﻤُﻀْﻄَﺮَّ ﺇِﺫَﺍ ﺩَﻋَﺎﻩُ ﻭَﻳَﻜْﺸِﻒُ ﺍﻟﺴُّﻮﺀَ ﻭَﻳَﺠْﻌَﻠُﻜُﻢْ ﺧُﻠَﻔَﺎﺀ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺃَﺇِﻟَﻪٌ ﻣَّﻊَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﻠِﻴﻠًﺎ ﻣَّﺎ ﺗَﺬَﻛَّﺮُﻭﻥَ

“ Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan Kamu (manusia) sebagai khalifah dibumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain) ? amat sedikitlah kamu mengingati (Nya) ”.
(QS. An-Naml : 62).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

ﺇِﻧّﻚَ ﻻَ ﺗُﺴْﻤِﻊُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺗَﻰَ ﻭَﻻَ ﺗُﺴْﻤِﻊُ ﺍﻟﺼّﻢّ ﺍﻟﺪّﻋَﺂﺀَ ﺇِﺫَﺍ ﻭَﻟّﻮْﺍْ ﻣُﺪْﺑِﺮِﻳﻦ

” Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang “.
(QS. An-Naml ayat : 80).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

ﻭَﻻَ ﺗَﺪْﻉُ ﻣِﻦ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻣَﺎ ﻻَ ﻳَﻨﻔَﻌُﻚَ ﻭَﻻَ ﻳَﻀُﺮُّﻙَ ﻓَﺈِﻥ ﻓَﻌَﻠْﺖَ ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﺇِﺫًﺍ ﻣِّﻦَ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦ

” Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu) maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zdhalim “.
(QS. Yunus : 106).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺿَﻞُّ ﻣِﻤَّﻦْ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﻦْ ﻟَﺎ ﻳَﺴْﺘَﺠِﻴﺐُ ﻟَﻪُ ﺇِﻟَﻰٰ
ﻳَﻮْﻡِ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻭَﻫُﻢْ ﻋَﻦْ ﺩُﻋَﺎﺋِﻬِﻢْ ﻏَﺎﻓِﻠُﻮﻥَ

” Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sesembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (do’anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka “.
(QS. Al-Ahqaaf : 5).

Adapun mayit yang mendengar suara langkah orang yang mengantarnya (ketika berjalan meninggalkan kuburnya) setelah dia dikubur, maka itu adalah pendengaran khusus yang ditetapkan oleh Nash (dalil), dan tidak lebih dari itu (tidak lebih dari sekedar mendengar suara terompah mereka), karena hal itu diperkecualikan dari dalil-dalil yang umum yang menunjukkan bahwa orang yang meninggal tidak bisa mendengar (suara orang yang masih hidup), sebagaimana yang telah lalu.

Dan sekali lagi janganlah kita terjebak dengan perbuatan yang tidak pernah disyari’atkan dalam agama, apalagi memohon do’a ke kuburan seperti ini, karena kalau tidak kita akan tergolong orang yang telah berbuat kesyirikan…na’uzubillahi minzalik…mari kita bertaubat dan hindari perbuatan seperti ini. Dan ancaman dosa syirik ini telah banyak disebutkan dalam Al-Qur’an  diantarannya, Allah subhanahu wa ta’ala :

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻻ ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺃَﻥْ ﻳُﺸْﺮَﻙَ ﺑِﻪِ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮُ ﻣَﺎ ﺩُﻭﻥَ ﺫَﻟِﻚَ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﺸْﺮِﻙْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻘَﺪِ ﺍﻓْﺘَﺮَﻯ ﺇِﺛْﻤًﺎ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ ‏( ٤٨‏)

” Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) jika Dia (Allah) dipersekutukan dengan yang lain, dan Dia (Allah) mengampuni segala dosa selain (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa besar “.
(QS. An Nisaa’ : 48).

Quburiyyun : ” %&$#@+:?/#….Glekk !! ”
__________________

Semoga simulasi dialog dapat diambil pelajaran dan manfaatnya. Hanya pada Allah subhanahu wa ta’ala kita memohon hidayah dan pentunjukNya.

Di nukil dari beberapa sumber.

Diarsipkan
https://arie49.wordpress.com
http://ariedoank49.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s