DIALOG KRISTEN – HINDU – ASWAJA (NU) – SALAFI

DIALOG KRISTEN, HINDU, ASWAJA (NU) DAN SALAFI

Simulasi ini hanya untuk mengingatkan bagi mereka yang masih suka melakukan amalan tasyabbuh (menyerupai) peribadatan agama lain.

Simulasi ini juga cukup panjang karena di sertai banyak keterangan dan dalil sebagai penguatnya, jadi harap pembaca sabar membacanya hingga selesai. Semoga simulasi ini bisa membuat kita lebih memahami mana yang haq dan mana yang bathil, dan berharap bisa menjadi tambahan ilmu serta wawasan bagi pembaca sekalian dan dapat menambah semangat untuk terus belajar agama yang murni dan selalu tetap istiqomah dalam menjalankan ibadah yang sesuai dengan tuntunan syari’at.

Tersebutlah yang bernama ASWAJA (Istilah ini biasanya di pakai dari ormas NU (yaitu maksudnya singkatan dari Ahlu sunnah wal jamaah), SALAFI, (Ahlu sunnah wal jamaah), KRISTEN dan dari HINDU dalam suatu sesi dialog.

KRISTEN: “Kenapa sih setiap dalam acara peribadatan kalian selalu ngikutin perayaaan ibadahnya agama kami… ??”

ASWAJA: “Ngikutin apa…?? Prasaan kami gak ngikutin ibadahnya kalian kok…?!!”

KRISTEN: “Gak merasa…? Coba perhatikan, kami merayakan hari Natal (hari ulang tahun kelahiran Yesus), lalu kalian ikut-ikutan merayakan kelahiran Nabi kalian yaitu acara Maulid Nabi Muhammad, Kami merayakan hari kenaikan Yesus kristus, kemudian kalian juga ikut-ikutan merayakan hari Isra’ Mi’raj yaitu naiknya Nabi Muhammad ke langit, kami merayakan turunnya Yesus kristus, kalian juga gak mau kalah ingin menyamakannya dengan ikut-ikutan seperti merayakan turunnya Al-Qur’an (Nuzulul Qur’an), kami setiap tahun merayakan tahun baru Masehi milik kami, tapi kalian juga merayakan tahun baru hijriyyah milik kalian. Kami beribadah dengan bernyanyi dan bermain alat musik, kalian juga sekarang mulai beribadah dengan bernyanyi-nyanyi membaca shalawat atau dzikir-dzikir dengan alunan musik..!” Apa gak ngikutin tuuuh…!!”

HINDU: “Iya nih…payah…!! Kalian orang muslim juga malah lebih banyak yang ngikutin perayaan ritual ibadah dari agama kami lho…”

ASWAJA: “Lho, lho, apalagi ini…? Siapa yang ngikutin perayaan ibadah agama kalian sih…? Coba kasi contoh yang mana hayooo…!!”.

HINDU: “Lihat saja, acara tujuh bulanan untuk wanita hamil yang ramai di lakukan orang-orang muslim, padahal itukan asalnya dari agama kami orang Hindu. Lihat saja umat muslim banyak pasang lampu untuk ari-ari bekas si jabang bayi yang baru lahir lalu di taruh depan rumah. Itu juga ritual milik agama kami, Kami memberi sesajen, entah pada pohon, laut, danau, dan lain sebagainya, kalian juga banyak yang niru-niru ikutan seperti itu, belum lagi acara selamatan kematian mulai hari ke 1, 3, 7, 40, 100 sampai hari ke1000, cuma bacaan do’anya saja di rubah pake bahasa Arab. Semua itu adalah acara agama kami…!! Tapi kalian mengikutinya…?!”

ASWAJA: “Enak saja ngaku-ngaku…!! Justru kalian semua agama Kristen dan Hindu pada ngikutin kami..!! Asal tau ya…kami gak ngikutin acara-acara ibadah agama kalian tapi hanya meneruskan warisan dari leluhur kami dahulu yaitu para wali kami Walisongo, jadi kalianlah yang ngikutin kami…!!”.

KRISTEN: “Eh, mbok di pikir dulu kalo bicara ya, emang duluan siapa agamanya…? Agama Islam yang di bawa Nabi Muhammad baru ada sekitar 1400 tahun yang lalu sedangkan agama kami Nasrani sudah ada sekitar 2000an tahun yang lalu. Gak masuk akal kalo kami yang ngikutin kalian…!”.

HINDU: “Hehehe, apalagi agama kami Hindu. Agama kami lebih dulu dari agama kalian. Agama kami sudah ada sejak 2500 tahun sebelum Masehi, jadi sudah ada sekitar 4500 tahun yang lalu. Sedangkan di Indonesia, agama kamilah yang paling tua dan pertama. Gak masuk akal kalo kami yang mengikuti ibadah agama kalian, apalagi yang namanya ritual KEJAWEN dan ritual TAHLILAN untuk orang yang sudah meninggal, waalaaaah…mirip abis tuh’ dengan ibadah kami…! hehehe…”

KRISTEN: “Betul…betul…betul.. belum lagi kalian sebagian ummat Islam banyak yang berpartisipasi merayakan hari perayaan agama kami Kristen, seperti tahun baru Masehi, hari Valentine Day, hari ulang tahun kelahiran seseorang, hari Hallowen, hari April Mop, hari Ibu, dan lain-lain…”

ASWAJA: “Mana buktinya kalo memang acara-acara ibadah agama itu milik agama kalian….?? Jangan ngaku-ngaku saja, tunjukan sama kami…!!”

HINDU: “kalian Islam tidak percaya…? Oke saya kasi contoh salah satu saja, misalnya acara tahlilan. Coba kalian buka kitab SAMAWEDHA halaman: 373 ayat pertama, bunyinya dalam bahasa SANSEKERTA sebagai berikut: “PRATYASMAHI BIBISATHE KUWI KWIWEWIBISHIBAHRA ARAM GAYAMAYA JENGI
PETRISADA DWENENARA ?”

Apa kalian Islam masih belum yakin…?

Kalian buka lagi dalam kitab SAMAWEDHA SAMHITA buku satu, bagian satu, di halaman: 20. Bunyinya: “PURWACIKA PRATAKA PRATAKA PRAMOREDYA RSI BARAWAJAH MEDANTITISUDI PURMURTI TAYURWANTARA MAWAEDA DEWATA AGNI CANDRA GAYATRI AYATNYA AGNA AYAHI WITHAIGRANO HAMYADITAHI LILTASTASI BARNESI AGNE”.

Di paparkan dengan jelas dalam kitab Wedha agama kami bahwa: “Lakukanlah pengorbanan pada orang tuamu dan lakukanlah kirim do’a pada orang tuamu di hari ke 1, 3, 7, 40, 100, mendhak pisan, mendhak pindho, nyewu(1000 harinya)”.

KRISTEN: “Sama kalau begitu, dalam perayaan agama kami seperti ulang tahun itu juga adalah asalnya dari agama kami, mau bukti ? Baik saya sebutkan…!!

“Dan terjadilah pada hari ke tiga, HARI KELAHIRAN Fira’un, maka Fira’un mengadakan perjamuan untuk semua pegawainya. Ia meninggikan kepala juru minuman dan kepala juru roti itu di tengah-tengah para pegawainya”.
(Injil ; Kejadian 40:20)

“Tetapi pada HARI ULANG TAHUN Herodes, menarilah anak Herodes yang perempuan, Herodiaz, di tengah-tengah meraka akan menyukakan hati Herodes”.
(Matius14 : 6)

“Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada HARI ULANG TAHUNNYA mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea”.
(Markus: 6:21)

Dengan jelas di paparkan dalam kitab kami Injil bahwa acara ulang tahun itu adalah ajaran agama kami tapi kenapa kalian Islam malah ikut-ikutan merayakannya ?,

KRISTEN dan HINDU: “Baiklah ASWAJA…sekarang kami juga ingin tau bukti alasan kalian meniru-niru agama kami, sebutkan satu ayat saja dalam Al-Qur’an maupun dalam hadits Nabi kalian yang menerangkan bahwa semua ritual-ritual peribadatan itu adalah ajaran milik agama kalian muslim, kalau tidak ada bukti jangan ngaku-ngaku yaaa…!!”.

ASWAJA: “%#%”%!&&+%….” (sambil garuk-garuk kepala yang sedang tidak gatal).

– Di tengah percakapan munculah seorang muslim Ahlus sunnah sebut saja namanya ”SALAFI”

SALAFI: “Wahai teman-teman semua, sebenarnya dari tadi saya sudah menyimak apa yang kalian perdebatkan, dan sebenarnya saya juga tidak mau ikut terlibat dalam perdebatan kalian ini, tapi berhubung sepertinya di antara kalian tidak ada yang mau mengalah dan masing-masing ngotot saling meng-klaim paling berhak nemiliki acara-acara ibadah itu, maka di sini mungkin saya bisa membantu meluruskanya dan mudah-mudahan kita dapat berdialog dengan sehat, rukun dan tetap menjaga persatuan di antara kita”.

Untuk KRISTEN dan HINDU: “Ambilah semua acara-acara kalian, kami tidak butuh acara-acara seperti itu. Karena kami sudah punya acara sendiri yang telah di tetapkan dalam agama kami Islam, kami tidak mengikuti ritual agama-agama kalian. Dan acara-acara seperti itu sesungguhnya tidak pernah di lakukan oleh orang-orang Muslim yang tegak di atas sunnah. Dalam jama’ah kami (yaitu Ahlus Sunnah), tidak ada yang namanya perayaan Maulid Nabi, perayaan Isra’ dan Mi’raj, perayaan tahun baru Hijriyah ataupun peringatan tahun baru Masehi, perayaan tujuh bulanan untuk wanita hamil, selamatan kematian (tahlilan), dan lain sebagainya yang semuanya kalian sebutkan tadi itu”.

KRISTEN dan HINDU: “Lho…?? Kalian ASWAJA dan SALAFI kan sama-sama muslim, kok malah saling berbeda…? Yang ASWAJA merayakan acara-acara itu, sedangkan yang SALAFI tidak merayakannya…? Aneh sekali, satu agama tapi beda-beda…?!”.

SALAFI: “Kenapa kalian heran dengan kami…? Bukankah kalian sendiri juga memiliki banyak perbedaan dan perpecahan…? Agama Kristen memiliki banyak sekte, seperti Protestan, Katholik, Advent, Ortodok, dan lain-lain. Bahkan dalam agama kami di sebutkan bahwa kaum Nasrani terpecah menjadi 72 golongan. Begitu juga dengan agama Hindu yang memiliki banyak sekte dan juga kasta seperti Saiwa, Waisnawa, dan Sakta. Tidakkah kalian tahu hal itu…? Sedangkan agama Islam memang terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu yaitu Al Jamaah (Ahlus sunnah wal Jamaah)”.

Selengkapnya kalian dengar dari Nabi kami Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda::

ﻗﺎﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ : “ ﺃﻻ ﻭ ﺇﻥ ﻣﻦ ﻗﺒﻠﻜﻢ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﺍﻓﺘﺮﻗﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺛﻨﺘﻴﻦ ﻭ ﺳﺒﻌﻴﻦ ﻣﻠﺔ ، ﻭ ﺇﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﻠﺔ ﺳﺘﻔﺘﺮﻕ ﻋﻠﻰ ﺛﻼﺙِ ﻭ ﺳﺒﻌﻴﻦ : ﺛﻨﺘﺎﻥ ﻭ ﺳﺒﻌﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ ، ﻭﻭﺍﺣﺪﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻨﺔ، ﻭ ﻫﻲ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ” ‏(ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ ﻭ ﻏﻴﺮﻩ ﻭ ﺣﺴﻨﻪ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ )

“Telah terpecah orang-orang Yahudi menjadi 71 golongan dan terpecah orang Nashara menjadi 72 golongan. Dan akan terpecah ummatku menjadi 73 golongan. Semuanya dalam neraka, kecuali satu golongan. Para sahabat bertanya: “Siapakah mereka, wahai Rasulullah ?”- Beliau berkata: “Mereka adalah orang yang berdiri di atas apa yang aku dan para sahabatku berdiri di atasnya”.
(HR. Abu Daud dan di shahihkan Syaikh Al Albani dalam shahih Sunan Abu Daud 3/115).

Jadi, menurut pemahaman kami salaf sebagai Ahlus sunnah, di larang berbuat tasyabbuh (menyerupai) ibadahnya orang kafir, atau tata cara peribadatan kalian berdua…

Camkan ini untuk kalian KRISTEN dan HINDU:

Bahwa agama yang di ridhai di sisi Allah Ta’ala adalah agama Islam, sebagaimana di sebutkan dalam kitab suci kami Al-Qur’an Allah Ta’ala berfirman:

ﺇﻥ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻹﺳﻼﻡ

“Sesungguhnya agama yang di ridhai disisi Allah adalah Islam”.
(QS. Ali-Imran : 19).

Dan juga bahwa kami Islam adalah agama yang sudah sempurna, agama kami tidak butuh penambahan-penambahan ritual apapun dalam perkara ibadah, apalagi sampai ikut-ikutan prosesi ibadah agama kalian, sebagai mana dalam kitab suci agama kami di sebutkan Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺃَﻛْﻤَﻠْﺖُ ﻟَﻜُﻢْ ﺩِﻳﻨَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﺗْﻤَﻤْﺖُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻧِﻌْﻤَﺘِﻲ ﻭَﺭَﺿِﻴﺖُ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡَ ﺩِﻳﻨًﺎ

“Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”.
(QS. Al-Ma’idah : 3).

Artinya agama kami ini sudah sempurna, dalam ajaran agama kami Islam tidak boleh ada penambahan ritual-ritual ibadah baru lagi, maka itu Al jamaah kami tidak pernah melakukan dan mengadakan ritual-ritual ibadah seperti itu, Jika ada kaum muslimin yang melakukannya, maka itu tidak semua melakukannya, tapi hanya segelintir atau hanya oknumnya saja, di sebabkan karena ketidaktahuannya akan hal itu”.

KRISTEN dan HINDU: “Baiklah kalo begitu, hanya saja tadi kami ingin tahu tentang orang Islam yang semisal si ASWAJA ini, apakah dia punya landasan dalam ucapannya perihal ibadah yang niru-niru agama kami itu, tapi si ASWAJA ini rupanya tidak punya argumen untuk membantah kami, ternyata cuma oknum saja…kasihan…!”.

– Di penghujung dialog si KRISTEN dan si HINDU hanya diam, tinggal menyimak dialognya antara SALAFI dan ASWAJA.

ASWAJA: “Hmmmm…berarti kami ini oknum ya saudaraku SALAFI..? Kalo begitu kami gak mau jadi oknum lagi ah, kami mau ngikutin SALAFI saja, biar gak jadi oknum…!!”.

SALAFI: “Hmmm…juga…aaah, sekarang antum masih jadi oknum ya akhi, karena antum masih taqlid (ikut-ikutan/mengekor) perkataan ana…”

ASWAJA: “Nah lho ? Berarti kami harus ngikutin siapa dong…?”.

SALAFI: “Ittiba’ lah (ikuti petunjuk) Allah Subhanahu wa ta’ala (Al-Qur’an) dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam(As-Sunnah shahih) bukannya taqlid (mengikuti atau mengekor alias membeo) kepada siapapun termasuk memgekor (taqlid) kepada ana…!!

Allah Ta’ala berfirman:

ﻗُﻞْ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗُﺤِﺒُّﻮﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓَﺎﺗَّﺒِﻌُﻮﻧِﻲ ﻳُﺤْﺒِﺒْﻜُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻜُﻢْ ﺫُﻧُﻮﺑَﻜُﻢْ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻏَﻔُﻮﺭٌ ﺭَﺣِﻴﻢٌ

“Qul In Kuntum Tuhibbuunallooha fattabi’uunii yuhbibkumulloohu wa yagfir lakum dlunuubakum walloohu gofuuruurrohiim”

Artinya: Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Al Imran : 31)

Dengarlah ya akhi ASWAJA, biar antum tidak jadi oknum, makanya dalam hal ibadah antum jangan membiasakan Ikut-ikutan orang saja (taqlid buta), sedangkan kalian ASWAJA dalam beribadah cenderung lebih suka taqlid buta kepada orang yang di anggap alim, jadi setiap ucapan orang alim itu kalian langsung percaya dengan manggut-manggut seperti kerbau di cocok hidungya tanpa berani membantah atas apa yang telah di ucapkan oleh orang alim tersebut seolah-olah apa yang telah di sampaikankannya semuanya pasti benar, ini biasanya di dorong karena faktor figur seseorang kyai atau ustadz akhirnya timbul ta’ashub fanatik kepada satu orang saja, seharusnya kalian menelitinya lebih dalam lagi kepada orang yang lebih tinggi ke ilmuannya bukan taqlid buta seperti itu, sedangkangkan taqlid itu sendiri artinya mengikuti sesuatu tanpa dalil dan ini sangat di larang dalam agama, beda halnya dengan Ittiba’ (mengkuti tuntunan) adalah perkara yang di puji dalam agama.

Begitu banyak dalil dari Al-Qur’an maupun hadits yang menjadi hujjah akan batilnya taqlid ini di antaranya adalah firman Allah Ta’ala:

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻗِﻴﻞَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﺗّﺒِﻌُﻮﺍ ﻣَﺂ ﺃَﻧﺰَﻝَ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻗَﺎﻟُﻮﺍْ ﺑَﻞْ ﻧَﺘّﺒِﻊُ ﻣَﺂ ﺃَﻟْﻔَﻴْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺁﺑَﺂﺀَﻧَﺂ ﺃَﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺁﺑَﺎﺅُﻫُﻢْ ﻻَ ﻳَﻌْﻘِﻠُﻮﻥَ ﺷَﻴْﺌﺎً ﻭَﻻَ ﻳَﻬْﺘَﺪُﻭﻥَ

“Dan apabila di katakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah di turunkan Allah” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. – “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk ?”.
(QS. Al-Baqarah : 170).

Allah Aza wa Jalla berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

ﻭَﻛَﺬَ ﻟِﻚَ ﻣَﺂ ﺃَﺭْ ﺳَﻠْﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻚَ ﻓِﻲ ﻗَﺮْﻳَﺔٍ ﻣِﻦْ ﻧَّﺬِﻳْﺮٍ ﺇِﻻَّ ﻗَﺎﻝَ ﻣُﺘْﺮَ ﻓُﻮﻫَﺂ ﺇِﻧَّﺎ ﻭَﺟَﺪْﻧَﺂ ﺀَﺍﺑَﺂﺀَﻧَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺃُﻣَّﺔٍ ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺀَﺍﺛَﺮِﻫِﻢْ ﻣُّﻘْﺘَﺪُﻭْﻥَ ۝ ﻗَـﻞَ ﺃَﻭَﻟَﻮْ ﺟِﺌْﺘُﻜُﻢْ ﺑِﺄَﻫْـﺪَﻯ ﻣِﻤَّﺎ ﻭَﺟَﺪْﺗُّﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺀَﺍﺑَﺂﺀَﻛُﻢْۖ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺇِﻧَّﺎ ﺑِﻤَﺂ ﺃُﺭْﺳِﻠْﺘُﻢْ ﺑِﻪِ ﻛَﻔِﺮُﻭﻥَ ۝

“Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekadar pengikut jejak-jejak mereka.’ – Rasul itu berkata, ‘Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih baik dari pada apa yang kamu peroleh dari (agama) yang di anut nenek moyangmu ?” – Mereka menjawab, “Sungguh kami mengingkari (agama) yang kamu di perintahkan untuk menyampaikannya”.
(QS. Az-Zukhruf : 23-24).

Allah Aza wa jalla berfirman:

ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻘْﻒُ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻟَﻚَ ﺑِﻪِ ﻋِﻠْﻢٌ ﺇِﻥَّﺍﻟﺴَّﻤْﻊَ ﻭَﺍﻟْﺒَﺼَﺮَ ﻭَﺍﻟْﻔُﺆَﺍﺩَ ﻛُﻞُّ ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻨْﻪُ ﻣَﺴْﺌُﻮﻻ

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui dalil-nya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan di minta pertanggungan jawabnya”.
(QS. Al-Isra’ : 36).

Begitupun para ulama telah membahas masalah taqlid ini seperti:

Al-Imam Ath-Thahawi Rahimahullah berkata:

“Tidaklah taqlid kecuali orang yang fanatik atau bodoh”.
(Ibnu ‘Abidin dalam Rasmul Mufti [I/23]. Lihat Muqaddimah Shifat Shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, [hal. 45]).

Imam As-Suyuthi Rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya orang yang taqlid itu tidak di namakan orang yang berilmu”.
(Di nukil As-Sindi dalam hasyiyah-nya/terhadap Sunan Ibnu Majah 1/7 dan dia menetapkannya)

Bagaimana bisa seorang yang taqlid (muqallid) di namakan sebagai orang yang berilmu padahal ia hanya mendasarkan perkataan dan perbuatannya hanya dengan konsep “ikut-ikutan” ? Hakekat seorang muqallid, tidaklah membangun amalnya dengan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan pengetahuan ijma.

Orang awam yang taqlid (ikut-ikutan/mengekor) umumnya akan mengambil perkataan seorang yang di anggap alim, tokoh, panutan, guru, buya atau kyai di kampungnya sebagai rujukannya dalam beribadah. Dan kemudian mereka menjadikan orang-orang tersebut sebagai satu-satunya pedoman dalam menentukan hukum syari’at, padahal orang-orang yang telah di ikutinya itu bukanlah seorang yang ma’shum (terlepas dari dosa) itu pasti. Sesungguhya, orang alim, kyai, buya, guru dan lain-lain yang di jadikan pedoman tadi, telah berlepas diri dari sikap mereka yang jumud (kaku) dan ta’ashshub (fanatik). Sebagaimana telah di sebutkan dalam firman Allah Ta’ala:

ﺇِﺫْ ﺗَﺒَﺮَّﺍَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺍﺗُّﺒِﻌُﻮْﺍ ﻣِﻦَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺍﻟﺘَّﺒَﻌُﻮْﺍ ﻭَﺭَﺍَﻭُﺍﺍﻟْﻌَـﺬَﺍﺏَ ﻭَﺗَﻘَﻄَّﻌَﺖْ ﺑِﻬِﻢُ ﺍﻟْﺄَﺳْﺒَﺎﺏُ ۝

“Ketika orang-orang yang di ikuti (itu) berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus”.
(QS. Al-Baqarah: 166).

Al-Imam Ibnu Abdil Barr Rahimahullah berkata:

“Para ulama berpendapat dengan (menggunakan) ayat ini (sebagai hujjah) untuk menyalahkan taqlid”.
(Lihat Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi [II/160] – Jami’ Bayanil Ilmi wa Ahlihi [2/978] ).

Imam Ibnu Abdil Barr Rahimahullah berkata:

“Hal itu di sebabkan taqlidnya mereka terhadap (agama) nenek moyang mereka, sehingga mereka tidak mau mengikuti petunjuk Rasul”.
(Lihat: Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi [II/160]-Jami’ Bayanil Ilmi wa Ahlihi [2/977]).

Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiyallahu’anhu berkata:

“Ketahuilah, janganlah kalian taqlid kepada seseorang dalam agamanya. Jika orang itu beriman, maka beriman (juga orang yang taqlid padanya). Dan jika orang itu kafir, maka kafir (juga orang yang taqlid padanya). Karena itu, tidak ada teladan dalam hal keburukan”.
(Lihat: Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi [II/168]).

Demikianpun para imam empat madzhab juga melarang dalam masalah taqlid ini. Bahkan ke empat imam madzhab tersebut sangat tegas melarang dalam masalah taqlid ini misalnya Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah berkata:

ﻛُﻞُّ ﻣَﺎ ﻗُﻠْﺖُ ﻓَﻜَﺎﻥَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺧِﻼَﻑُ ﻗَﻮْﻟِﻲْ ﻣِﻤَّﺎ ﻳَﺼِﺢُّ ﻓَﺤَﺪِﻳْﺚُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺃَﻭْﻟَﻰ، ﻓَﻼَ ﺗُﻘَﻠِّﺪُﻭْﻧِﻲ

“Setiap dari perkataanku, kemudian ada riwayat yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyelisihi perkataanku, maka hadits Nabi (harus) di utamakan. Maka janganlah kalian taqlid (mengikuti) kepadaku”.
(Di riwayatkan oleh ibnu Abi Hatim dalam Adab Asy-Syafi’i [hal. 93], Ibnu Qayyim dalam I’lamul Muwaqqi’in [IV/45-46], Abu Nu’aim dan Ibnu ‘Asakir [XV/9/2] dengan sanad yang shahih. Lihat juga Muqaddimah Shifat Shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, [hal. 52]).

Begitu juga Imam-imam lainya seperti Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah juga telah menegaskan, beliau berkata:

ﻻ ﺗﻘﻠﺪﻧﻲ، ﻭﻻ ﺗﻘﻠﺪ ﻣﺎﻟﻜﺎً، ﻭﻻ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ، ﻭﻻ ﺍﻷﻭﺯﺍﻋﻲ، ﻭﻻ ﺍﻟﺜﻮﺭﻱ، ﻭﺧﺬ ﻣﻦ ﺣﻴﺚ ﺃﺧﺬﻭﺍ

“Jangan taqlid (mengikuti) kepada pendapatku, juga pendapat Malik, Asy Syafi’i, Al Auza’i maupun Ats Tsauri. Tetapi ambilah dari mana mereka mengambil (dalil)”.
(Di riwayatkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al I’lam 2/302. Di nukil dari Ashl Sifah Shalatin Nabi, 32).

Nah, intinya antum janganlah mengikuti petunjuk siapapun dalam urusan agama tapi ikutilah dalil yaitu petunjuk Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (As-sunnah).

Tambahan dari ana akan bahayanya taqlid ini agar kalian ASWAJA perhatikan…! Para nabi terdahulu saja yaitu nabi sebelum di utusnya nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam seandainya sekarang mereka masih hidup tentu mereka para nabi tersebut akan mengikuti petunjuknya baginda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, nah, apalagi ummat muslim jaman sekarang ini yang tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan para nabi, coba antum simak Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda-Nya:

ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ: “ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻱْ ﻧَﻔْﺲُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻟَﻮْ ﺑَﺪَﺍ ﻟَﻜُﻢْ ﻣُﻮْﺳَﻰ ﺛُﻢَّ ﺍﺗَّﺒَﻌْﺘُﻤُﻮْﻩُ ﻭَﺗَﺮَﻛْﺘُﻤُﻮْﻧِﻲْ ﻟَﻀَﻠَﻠْﺘُﻢْ ﻋَﻦْ ﺳَﻮَﺍﺀِ ﺍﻟﺴَّﺒِﻴْﻞِ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺣَﻴًّﺎ ﻭَﺃَﺩْﺭَﻙَ ﻧُﺒُﻮَّﺗِﻲْ ﻻَﺗَّﺒَﻌَﻨِﻲْ ”.

“Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa hadir di tengah kalian lalu kalian mengikutinya dan meninggalkanku, maka sungguh kalian telah tersesat dari jalan yang lurus. Kiranya Musa hidup dan menjumpai kenabianku, dia pasti mengikutiku”.
(HR. Ad-Darimi dalam Sunannya [441] dan di riwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad -nya [III/470-471, IV/265-266, 3/471, 4/466, 3/387 ] Lihat Al-Misykah [177] di keluarkan oleh Abdur Razzaq dalam Mushannafnya [6/Fl 3], lbnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya [9/47] dan Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Ilmi [2/805] Syaikh Al-Albani berkata dalam Irwa’ [6/34, “Hasan”]).

Syaikh Nashiruddin Al-Albani Rahimahullahu berkata:

“Jika Musa Kalimullah saja tidak boleh Ittiba’ (mengikuti tuntunan) kecuali kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaimana dengan yang lainnya ? Hadits ini merupakan dalil yang qath‘i atas wajibnya mengikuti Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam hal ittiba’, dan ini merupakan konsekuensi syahadat‘anna Muhammadan Rasulullah”, karena itulah Allah sebutkan dalam ayat di atas (Ali lmran : 31) bahwa ittiba’ kepada Rasulullah bukan kepada yang lainnya adalah dalil kecintaan Allah kepadanya”.
(Muqaddimah Bidayatus Sul fi Tafdhili Rasul hal. 5-6).

Dapat di pahami artinya adalah apabila kita meninggalkan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu kita mengikuti Nabi Musa Alaihi salam, yang notabene adalah seorang Nabi mulia yang pernah di ajak bicara secara langsung oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, maka kita akan tersesat dari jalan yang lurus. Lantas bagaimana pendapat kita apabila kita meninggalkan Sunnah Nabi demi mengikuti para kyai, tokoh agama, ustadz, mubaligh, cendekiawan dan sebagainya yang sangat jauh ilmunya bila di bandingkan dengan Nabi Musa Alaihi salam…??
(Lihat: kitab Muqaddimah Bidayatus Suul hal. 6 oleh Syaikh Al-Albani).

Demikianlah masalah taqlid ini adalah perbuatan terlarang dalam agama ini karena teladan yang baik untuk di ikuti adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun seandainya kaum muslim ada beda pendapat atau perselisihan dalam suatu perkara, maka hendaknya segala sesuatunya di kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah, jangan di kembalikan pada petunjuk kelompok-kelompok tertentu. In syaa Allah kita akan menjadi seorang Ahlus Sunnah sejati. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺃَﻃِﻴﻌُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺃَﻃِﻴﻌُﻮﺍ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝَ ﻭَﺃُﻭﻟِﻲ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮِ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻓَﺈِﻥْ ﺗَﻨَﺎﺯَﻋْﺘُﻢْ ﻓِﻲ ﺷَﻲْﺀٍ ﻓَﺮُﺩُّﻭﻩُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻟْﺂﺧِﺮِ ﺫَﻟِﻚَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻭَﺃَﺣْﺴَﻦُ ﺗَﺄْﻭِﻳﻠًﺎ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian. Jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah segala (keputusanya) hanya kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya”.
(QS. An-Nisa’ : 59).

Ketahuilah ya akhi ASWAJA…dalam perkataan mereka si KRISTEN dan HINDU yang mengklaim bahwa acara-acara ibadah itu adalah ajaran milik agama mereka itu adalah sangat benar milik agama mereka. Perlu di ketahui bahwa sebenarnya mereka kaum kafir seperti si KRISTEN dan si HINDU ini hanya berpura-pura saja seolah-olah enggan jika ajaran agamanya itu di ikuti oleh ummat muslim, padahal justru sebaliknya mereka kaum kafir sangat gembira ketika umat Islam ini mengikuti mereka, sebagai dalil bahwasannya orang-orang kafir ini bergembira dengan perbuatan kaum muslimin yang menyerupai ibadah mereka adalah firman Allah Ta’ala:

ﻭَﻟَﻦْ ﺗَﺮْﺿَﻰ ﻋَﻨْﻚَ ﺍﻟْﻴَﻬُﻮﺩُ ﻭَﻻ ﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭَﻯ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﺘَّﺒِﻊَ ﻣِﻠَّﺘَﻬُﻢْ ﻗُﻞْ ﺇِﻥَّ ﻫُﺪَﻯ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻬُﺪَﻯ ﻭَﻟَﺌِﻦِ ﺍﺗَّﺒَﻌْﺖَ ﺃَﻫْﻮَﺍﺀَﻫُﻢْ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺟَﺎﺀَﻙَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻣَﺎ ﻟَﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣِﻦْ ﻭَﻟِﻲٍّ ﻭَﻻ ﻧَﺼِﻴﺮٍ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sampai kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). “Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.
(QS. Al-Baqarah : 120).

Tapi kenapa kalian ASWAJA justru bangga dengan meng-klaim bahwa ibadah-ibadah itu adalah bagian dari ajaran Islam…? Bahkan mengatakan bahwa mereka si KRISTEN dan si HINDU lah yang justru meniru Islam…?? sangat di sayangkan kalian kaum Aswaja yang berpaham Islam tradisi malah getol dan bersemangat mengamalkan cara-cara peribadatanya mereka (orang kafir). Sedangkan perbuatan meniru-niru agamanya orang kafir ini adalah perbuatan Tasyabbuh (menyerupai), dan ini sangat di larang dalam Islam, Sebagai mana hadits dari Abdullah Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

ﻣَﻦْ ﺗَﺸَﺒَّﻪَ ﺑِﻘَﻮْﻡٍ ﻓَﻬُﻮَ ﻣِﻨْﻬُﻢْ

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum (tasyabbuh), maka dia termasuk golongan dari mereka”.
(HR. Abu Daud [no.4031] dan di nyatakan shahih oleh syaikh Al-Albani dalam Ash-shahihah [1/676] dan Al-Irwa` [no.2384]).

Ibnu Katsir Rahimahullah berkata:

ﻭﻟﻬﺬﺍ ﻧﻬﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﺃﻥ ﻳﺘﺸﺒﻬﻮﺍ ﺑﻬﻢ ﻓﻲ ﺷﻲﺀ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﺍﻷﺻﻠﻴﺔ ﻭﺍﻟﻔﺮﻋﻴﺔ

“Oleh karena itu, Allah melarang orang-orang yang beriman untuk menyerupai mereka (orang kafir) dalam hal apapun, baik dalam perkara pokok (ushuliyyah) maupun cabang (furu’iyyah)”.
(Tafsir Ibnu Katsir, 8/20, tahqiq: Saamiy bin.Muhammad Salaamah; Daarith-Thayyibah, Cet. 2/1420).

Dari Abi Sa’id Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺳَﻌِﻴﺪٍ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﺘَﺘَّﺒِﻌُﻦَّ ﺳَﻨَﻦَ ﻣَﻦْ ﻗَﺒْﻠَﻜُﻢْ ﺷِﺒْﺮًﺍ ﺑِﺸِﺒْﺮٍ ﻭَﺫِﺭَﺍﻋًﺎ ﺑِﺬِﺭَﺍﻉٍ ﺣَﺘَّﻰ ﻟَﻮْ ﺳَﻠَﻜُﻮﺍ ﺟُﺤْﺮَ ﺿَﺐٍّ ﻟَﺴَﻠَﻜْﺘُﻤُﻮﻩُ ﻗُﻠْﻨَﺎ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟْﻴَﻬُﻮﺩَ ﻭَﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭَﻯ ﻗَﺎﻝَ ﻓَﻤَﻦْ

“Kalian benar-benar akan meniru sunnah (jalan/tata cara) orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai-sampai sekiranya mereka memasuki lubang biawak kalian pun juga turut mengikutinya. ”Kami (para sahabat) bertanya: ”Apakah Yahudi dan Nasrani ?” – Rasulullah menjawab: ”siapa lagi. ?”.
(HR. Bukhari, Bab MaDzakaro ’An Bani Isra’il 11/272).

Bahkan bukan acara-acara seperti itu saja yang di larang tasyabbuh, tapi tasyabbuh dalam hal-hal lain pun seperti hari libur di hari Ahad (Minggu) misalnya, ini juga sebenarnya sudah termasuk meniru-niru orang kafir dan ini merupakan perbuatan yang melampaui batas. Lihat negara yang 100% penduduknya beragama muslim seperti Arab Saudi sebagaimana dalam keputusan Al-Lajnah Ad-Daimah (Lembaga Fatwa Arab Saudi semacam MUI di Indonesia) menyebutkan dalam fatwanya:

“Tidak boleh mengkhususkan hari Sabtu atau Ahad sebagai hari libur, atau menjadikan keduanya sebagai hari libur karena hal itu termasuk meniru-niru orang Yahudi dan Nashara. Karena sesungguhnya Yahudi meliburkan hari Sabtu dan Nashara meliburkan hari Ahad dalam rangka memuliakan kedua hari tersebut…”
(Lihat: Fatawa Al-Lajnah, 2/75).

Kemudian lebih rinci Imam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah menjelaskan:

“Tidak boleh bagi kaum muslimin untuk meniru-niru mereka dalam hal-hal yang di khususkan untuk perayaan-perayaan mereka. Tidak pula dalam makanan, pakaian, mandi, menyalakan api, meliburkan kebiasaan bekerja atau beribadah, atau yang selainnya. Dan tidak boleh untuk mengadakan pesta, memberikan hadiah, atau menjual sesuatu yang membantu dan bertujuan untuk acara tersebut. Serta tidak boleh membiarkan anak-anak kecil atau yang seusianya untuk bermain-main kaitannya dengan perayaan tersebut dan tidak boleh memasang hiasan (menghiasi rumah/ tempat tertentu dalam rangka menyemarakkan perayaan tersebut, pent)”.
(Lihat: Majmu’ Fatawa, 25/329).

Nah, hari libur saja merupakan perbuatan meniru-niru hari liburnya orang kafir, karena jelas di kedua hari itu hari Sabtu dan hari Ahad adalah hari ibadahnya kaum kafir, bukankah artinya itu kita ummat Islam ikut mensyi’arkan atau turut berpartisipasi dalam menghormati ritual ibadahnya mereka…? Lalu bagaimana dengan perayaan ibadah lainya seperti yang banyak di anut oleh kaum muslim saat ini…? Tentu itu lebih sesat lagi menyerupai ibadahnya orang kafir karena jelas-jelas tidak ada tauladanya dari Rasululullah dan para sahabatnya serta tidak ada petunjuk dari para ulama Ahlu Sunnah yaitu para Imam empat madzhab. Sejatinya hari libur umat Islam adalah hari Jum’at, karena di hari itu umat muslim seluruh dunia ini di wajibkan untuk menjalankan seruan-Nya (Allah) untuk ibadah shalat Jum’at, dengan begitu tentu lebih afdhal karena di dalamnya terdapat dua amalan pahala yang besar yaitu menunaikan kewajiban shalat Jum’at dan menyemarakkan serta mensyi’arkan agama Allah Ta’ala yang mulia ini.

Ingat ya akhi ASWAJA…bahwa setiap perkara ibadah dalam urusan agama ini hendaknya kita mengacu kepada tuntunan Al-Qur’an dan hadits shahih, jika kita melakukan amalan ibadah yang tidak ada contoh atau tidak ada ada perintahnya dalam syari’at, maka itu artinya kita telah melakukan perbuatan amalan baru yang di ada-adakan dalam agama (bid’ah), sedangkan bid’ah adalah perbuatan sesat, sebagai mana dalam hadits shahih bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, setiap memulai khutbah biasanya beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan:

ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ ﻓَﺈِﻥَّ ﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟْﻬُﺪَﻯ ﻫُﺪَﻯ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﺷَﺮُّ ﺍﻷُﻣُﻮﺭِ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ ﻭَﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah. (Al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (As-Sunnah)). Seburuk-buruk perbuatan adalah (perkara agama) yang di ada-adakan, setiap (perkara agama) yang di ada-adakan adalah BID’AH, dan SETIAP BID’AH ADALAH KESESATAN…!”.
(HR. Muslim no. 867).

Dan untuk mewujudkan itu semua, maka hendaknya antum menuntut ilmu syar’i dengan benar, dengan menimba ilmu agama kepada kyai, atau ustadz yang zuhud yang berjalan di atas pemahaman salafushalih”.

ASWAJA: “Tapi menurut kyai saya katanya acara-acara ibadah-ibadah itu ada dalilnya, karena banyak ulama yang membolehkanya bahkan mengerjakannya…bagaimana yang sebenarnya wahai saudaraku SALAFI…!?”.

SALAFI: “Inilah salah satu ucapan yang biasa ana dengar dari orang awam pada umumnya, yang mana dalam menyampaikan sesuatu perkara dalam urusan agama mereka kerap bersandarkan atas perkataan para kyai-nya atau ustadznya seperti halnya antum, padahal mereka para kyai atau ustadz itu hanyalah manusia biasa yang setiap dalam perkataannya kadang bisa salah dan kadang bisa juga benar, mereka bukan nabi yang terbebas dari kesalahan. Seharusnya dalam mencari ilmu agama itu kita cermati terlebih dahulu lagi dalil-dalil yang di sampaikan oleh siapapun, baik itu guru, kyai atau dari ustadz kita sekalipun, janganlah belajar hanya berpedoman kepada satu guru saja apalagi taqlid buta atau sampai fanatik dengan satu guru kita tersebut, bukankah Imam Syafi’i dalam mencari ilmu memiliki banyak guru hingga 1500 guru…? Tapi yang terkenal dan di percaya atas ke ilmuannya oleh beliau hanya Imam Malik, ketahuilah akhi…kyai atau ustadz kita sendiri juga terkadang ada yang mengambil ilmu dari “mencuri dengar” dan terkadang juga mereka hanya berdalil berdasarkan pendapat pribadi, juga ada di antaranya mereka mengambil dalil yang instan saja tanpa penelitian terlebih dahulu, bahkan mereka juga ada seperti orang awam yang suka bertaqlid kepada ajaran leluhur mereka. Setiap belajar ilmu agama kita harus extra hati-hati dan perlu memilah-milah dalam mencari guru, jika tidak nanti kita akan terjerumus ke penyimpangan dalam ibadah. Jika kita ragu atas ilmu yang di dapat dari mereka maka tanyakan lagi kepada kyai lainnya yang lebih dalam ilmunya, jangan kita asal telan saja atas ilmu yang di berikan dari kyai kita tapi cermati lagi dalil-dalinya, ke absahan kitabnya, para rawinya, dan sanadnya, tanyakan lagi dalil-dalil tersebut kepada guru yang bisa di percaya ke ilmuannya, agar dalam prakteknya kita tidak terjadi penyimpangan dalam agama, seperti menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal”.

Afwan akhi ASWAJA ana jadi kepanjangan dalam menyampaikan nasehat ini…tapi baiklah, untuk sementara ana akan mencoba menjawab atas pertanyaan antum tadi itu, kenapa katanya. kyai antum mengatakan bahwa itu ada dalilnya dan mereka juga membolehkan bahkan kyai antum sendiri juga turut mengerjakannya, bukan begitu akhi ?

Begini wahai akhi ASWAJA…sebenarnya cukup panjang kalau mau ana paparkan di sini….tapi in syaa Allah ana akan coba menjawab sesuai dengan kemampuan yang ana ketahui walaupun hanya secara ringkasnya saja, mudah-mudahan dengan keterangan ringkas ini cukup menjadi jawaban atas syubhat-syubhat yang telah merasuki dalam pikiran antum saat ini… semoga antum senantiasa mendapat rahmat dan petunjuk serta hidayahnya Allah Subhanahu wa ta’ala”.

Wahai akhi…ketahuilah, bahwa sesungguhnya perayaan atau seremonial yang di syari’atkan dalam Islam itu hanya ada dua saja yaitu hari raya Iedhul Fitri dan hari raya Iedhul Adha (hari raya Haji) dalam setahun di tambah perayaan sepekan yaitu setiap hari Jumat di mana pada hari Jumat itu ummat muslim meramaikan untuk pergi sholat Jum’at di mesjid selain dari pada yang tiga itu sependek pengetahuan ana sudah tidak ada perayaan-perayaan ibadah apapun lagi karena tidak ada satupun dalil yang memerintahkan akan bolehnya atau anjurannya untuk acara-acara lainya baik dari Al Qur’an maupun As sunnah atau dalam kitab-kitab para ulama salaf, dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺇﻥَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﺑْﺪَﻟَﻜُﻢُ ﺑِﻬِﻤَﺎ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ: ﻳَﻮْﻡً ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻭَﻳَﻮْﻡَ ﺍﻷﺿﺤﻰ

“Allah sungguh telah menggantikannya dengan hari yang lebih baik darinya, yaitu: Hari Iedul Adh-ha, dan Hari Iedul Fitri”.
(HR. An-Nasa’i [/3/179/5918] dan di nyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam shahih Al-Jami’ [no.4460]).

Artinya perayaan-perayaan yang lain itu adalah terlarang dalam Islam, apalagi perayaan ibadah yang biasa kalian amalkan seperti perayaan Maulid Nabi, perayaan Isra’ dan Mi’raj Nabi, acara tahlilan untuk mayit, merayakan tahun baru Hijriyyah, hari ulang tahun kelahiran seseorang, dan segala macam tetek bengek yang biasa kalian amalkan sebagai mana yang di perdebatkan tadi, itu semua adalah bukan bagian dari ajaran Islam, mengapa demikian…??”.

Mari kita renungkan wahai akhi ASWAJA…! Seandainya acara-acara peribadatan seperti itu baik tentu para sahabatlah yang akan lebih dahulu mengamalkannya (Tafsir Ibnu Katsir 7/278) , tapi nyatanya tidak satupun ada riwayat yang menukil bahwa para sahabat seperti ‘Umar Ibnu Al-Khaththaab, Ali Bin Abi Thalib, Abu Bakar Ash Siddiq, ‘Utsman Bin Affan, Mu’awiyyah atau Imam madzhab yang empat hingga para imam yang segenerasi dengan mereka melakukannya. Padahal mereka adalah orang-orang terbaik dan orang-orang yang paling bersemangat dalam beribadah kepada Allah Ta’ala, apalah artinya jika di bandingkan dengan orang seperti kita…?”

Tapi mengapa mereka tidak melakukannya..? Ya… karena mereka sangat berilmu, paham akan kesempurnaan Islam, dan mereka paling takut jika beribadah menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya. Apabila generasi terbaik saja tidak melakukannya padahal sebenarnya mereka bisa melakukanya, ya pastilah berarti itu bukan bagian dari ajaran agama, dan itu di pahami oleh beliau-beliau, apabila di lakukan itulah bid’ah.

Jika orang-orang terbaik dari ummat ini saja tidak melakukannya, lalu faktor apa yang menyebabkan orang sekarang sibuk melakukannya ? Apakah orang sekarang merasa dirinya lebih alim dan lebih tinggi ilmunya atau merasa lebih hebat dari para shahabat serta para Imam-imam madzhab terdahulu ? Ataukah orang sekarang menganggap Rasulullah dan para sahabat serta para ulama dahulu tahu akan ibadah-ibadah itu tapi mereka sengaja menyembunyikannya ? Sungguh betapa jelasnya kesesatan dari mereka yang melakukannya..!”.

Dengar ya akhi ASWAJA…sesungguhnya para ulama-ulama ahli hadits terdahulu sebenarnya sudah lelah berusaha mencari kesana kemari dan sudah bolak-balik membuka di berbagai kitab-kitab, tapi ternyata mereka tidak satupun menemukan riwayat yang menukil akan di bolehnya semua ibadah-ibadah bid’ah tersebut.

Baik di sini ana akan bahas salah satu perayaan yang munkar dari sekian banyak perayaan munkar seperti yang kita bahas tadi misalnya acara tahlilan untuk mayit yang banyak di lakukan oleh ummat muslim di negeri kita ini, seorang ulama besar yang bernadzhab Imam Syafi’i Imam An-Nawawi Rahimahullah mengungkapkan mengenai peribadatan seperti yang kalian perdebatkan itu, salah satunya misalnya acara tahlilan, beliau dengan tegas mengatakan bahwa itu tidak ada dalilnya, beliau berkata:

ﻭﺇﻣﺎ ﺇﺻﻼﺡ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻃﻌﺎﻣﺎ ﻭﻳﺠﻤﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻠﻢ ﻳﻨﻘﻞ ﻓﻴﻪ ﺷﻲﺀ ﻏﻴﺮ ﻣﺴﺘﺤﺒﺔ ﻭﻫﻮ ﺑﺪﻋﺔ.

“Adapun penghidangan makanan oleh keluarga mayit berikut berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut (acara tahlilan) bahwa itu tidak ada dalil naqlinya, dan hal tersebut merupakan perbuatan yang di benci (makruh tahrim). (Jelasnya) perbuatan tersebut termasuk bid’ah”.
(Al-Majmu’ Syarhul-Muhadzdzab [5/186] Daarul-Fikr, Beirut, [1417]).

Jadi acara tahlilan itu adalah salah satunya dari sekian banyak perayaan tasyabbuh yang tidak ada dalilnya. Begitupun untuk ritual-ritual lainnya, itu juga semua tidak ada dalilnya.

Di sini ana akan mencoba mengangkat sedikit cerita yang banyak merebak di masyarakat negeri kita ini yaitu tentang acara tahlilan, mungkin antum sendiri dulu juga pernah mengeluarkan perkataan ini kepada orang yang tidak mengamalkannya, Begini…ada di sebagian umat muslim sekarang ini yang beranggapan bahwa, jika manusia itu meninggal dunia apabila tidak di tahlil-kan berarti sama seperti mengubur kucing….astaghfirullah hal adzim…! Wahai akhi ASWAJA…ketahuilah, ini adalah pemahaman yang keliru dan pemikiran tanpa ilmu, lihatlah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat sayang kepada putri beliau Fatimah, tapi begitu putri beliau meninggal beliau sama sekali tidak mentahlilkan putrinya barang sehari pun, apa di anggap Rasulullah sama seperti mengubur kucing..? Begitupun istri beliau yang sangat beliau cintai Khadijah Radhiyallahu ‘anha juga meninggal di masa hidup beliau, akan tetapi sama sekali tidak beliau tahlil-kan. Jangankan hari ke-3, 7, 40, 100, sampai 1000 hari bahkan sehari saja tidak beliau tahlil-kan. Apakah beliau sama seperti mengubur kucing…?”.

Demikian juga kerabat-kerabat beliau yang beliau sangat cintai meninggal di masa hidup beliau, seperti paman beliau Hamzah bin Abdul Muthhalib, sepupu beliau Ja’far bin Abi Thalib, dan juga sekian banyak sahabat-sahabat beliau yang meninggal di medan pertempuran, tidak seorangpun dari mereka yang di tahlil-kan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa sama seperti mengubur kucing….?”.

Begitu pula jika kita beranjak kepada zaman Al-Khulafaa’ Ar-Rasyidin (Abu Bakar As Siddiq, ‘Umar Ibnu Khatthaab, ‘Utsman Bin Affan, dan Ali Bin Abi Thalib) tidak seorangpun yang melakukan tahlilan terhadap saudara mereka atau sahabat-sahabat mereka yang meninggal dunia. Apakah di anggap sama seperti mengubur kucing…? Sedangkan manusia jika meninggal dunia tentu untuk memakamkannya ada cara tersendiri yaitu melalui cara-cara yang di syari’atkan seperti di mandikan, di kafani, di sholatkan dan di do’akan, sedangkan kucing tidak seperti itu, lalu apakah sama seperti mengubur kucing…? Inilah pemahaman sangat dangkal…!!”.

Baiklah ana lanjutkan, ada satu contoh lagi tentang perayaan yang lain dari sekian banyak perayaan bid’ah lainya, salah satunya seperti perayaan Maulid nabi, ini ramai di peringati oleh sebagian ummat muslim di negeri ini, padahal ini jelas amalan yang menyerupai kaum Kristen yang memperingati kelahiran Yesusnya, sedangkan mengenai tanggal kelahiran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri itu masih di perselisihkan oleh para ulama, namun menurut pendapat yang rajih (kuat) tanggal lahir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tanggal 9 Rabi’ul awwal bukan 12 Rabi’ul awwal. Sedangkan menurut penelitian para ulama justru tanggal 12 Rabi’ul awwal itulah adalah tanggal wafatnya beliau shallallahu ‘alahi wa sallam, jadi apa yang di peringati oleh ummat muslim ini dengan cara bergembira ria, makan-makan, berpesta pora, kumpul dan bercampur baur (ikhtilat)) antara laki-laki dan perempuan yang bukan makhram, sholawat yang di iringi musik saat ini hakekatnya bukan memperingati hari kelahiran Nabi tapi justru sebaliknya yaitu mereka sedang bergembira ria, berbahagia memperingati wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apalagi amalan perayaan maulid itu sendiri sudah jelas tidak ada keterangan atau sandaran dalam Islam baik secara garis besar ataupun secara terperinci, seorang ulama besar Imam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata:

ﻓﺈﻥ ﻫﺬﺍ ﻟﻢ ﻳﻔﻌﻠﻪ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﻣﻊ ﻗﻴﺎﻡ ﺍﻟﻤﻘﺘﻀﻲ ﻟﻪ ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻟﻤﺎﻧﻊ ﻣﻨﻪ ، ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻫﺬﺍ ﺧﻴﺮًﺍ ﻣﺤﻀًﺎ ﺃﻭ ﺭﺍﺟﺤًﺎ ﻟﻜﺎﻥ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺃﺣﻖ ﺑﻪ ﻣﻨﺎ ، ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﺃﺷﺪ ﻣﺤﺒﺔ ﻟﺮﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺗﻌﻈﻴﻤًﺎ ﻟﻪ ﻣﻨﺎ ، ﻭﻫﻢ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﺃﺣﺮﺹ . ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻛﻤﺎﻝ ﻣﺤﺒﺘﻪ ﻭﺗﻌﻈﻴﻤﻪ ﻓﻲ ﻣﺘﺎﺑﻌﺘﻪ ﻭﻃﺎﻋﺘﻪ ﻭﺇﺗﺒﺎﻉ ﺃﻣﺮﻩ ، ﻭﺇﺣﻴﺎﺀ ﺳﻨﺘﻪ ﺑﺎﻃﻨًﺎ ﻭﻇﺎﻫﺮًﺍ ، ﻭﻧﺸﺮ ﻣﺎ ﺑﻌُﺚ ﺑﻪ ، ﻭﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺑﺎﻟﻘﻠﺐ ﻭﺍﻟﻴﺪ ﻭﺍﻟﻠﺴﺎﻥ . ﻓﺈﻥ ﻫﺬﻩ ﻃﺮﻳﻘﺔ ﺍﻟﺴﺎﺑﻘﻴﻦ ﺍﻷﻭﻟﻴﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻬﺎﺟﺮﻳﻦ ﻭﺍﻷﻧﺼﺎﺭ ﻭﺍﻟﺬﻳﻦ ﺍﺗﺒﻌﻮﻫﻢ ﺑﺈﺣﺴﺎﻥ

”Sesungguhnya ini (maulid) tidak pernah di lakukan oleh salaf (pendahulu), padahal faktor pendorongnya ada, sedangkan faktor penghalangnya tidak ada. Seandainya ini baik atau agak kuat, tentu salaf lebih berhak (melakukan hal ini) dari pada kita; karena sesungguhnya kecintaan dan pengagungan mereka terhadap Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wa sallam lebih dari yang kita lakukan dan mereka sangat bersemangat dalam segala kebaikan. Sempurnanya kecintaan dan pengagungan terhadapnya hanya terdapat pada kesetiaan mengikuti jejaknya, menaatinya, melaksanakan perintahnya, menghidupkan sunnahnya lahir dan bathin, menjelaskan ajarannya, serta berjihad demi semua itu dengan hati, tangan, dan lisan. Inilah jalan yang ditempuh oleh para pendahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan”.
(Lihat Iqtidlaa’ Shirathil-Musthaqiim, [2/615.]).

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan Hafizhahullah berkata:

“…Dan perbuatan ini (perayaan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak pernah di lakukan pada masa-masa terbaik umat ini, akan tetapi ini hanyalah perbuatan yang di ada-adakan pada abad ke-6 Hijriyah dalam rangka mengikuti Nashara yang merayakan hari kelahiran Al-Masih ‘Alaihis salam dan sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang dari meniru-niru mereka”.
(Lihat Al-Khuthab Al-Mimbariyyah, hal. 89).

Kemudian Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah juga menyatakan:

“Dan termasuk mengikuti mereka (orang-orang kafir) di dalam perayaan-perayaan baik yang bersifat syirik ataupun bid’ah adalah seperti memperingati perayaan-perayaan hari kelahiran, baik kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kelahiran para pemimpin atau penguasa. Dan kadang-kadang perayaan-perayaan yang sifatnya syirik dan bid’ah ini di beri nama dengan penyebutan hari-hari atau pekan-pekan. Seperti hari kemerdekaan, hari ibu, atau pekan kebersihan”.
(Lihat: Al-Khuthab, hal. 43).

Lebih parah lagi banyak kita saksikan di masyarakat negeri kita ini yang melakukan acara tujuh bulanan untuk wanita hamil dan memasang lampu untuk ari-ari bayi yang baru lahir, perbuatan semacam ini begitu masyhur dilakukan oleh umat muslim, padahal ini jelas ajarannya agama Hindu, seorang mantan pandeta Hindu bernama pendeta Budi Winarno, setelah masuk Islam bernama Abdul Aziz, beliau ditanya tentang ritual itu (lihat: http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.nl/2010/06/apakah-3-bulanan-telonan-7-bulanan.html?m=1).

”Apakah Telonan, Mitoni dan Tingkepan dari ajaran Islam ? (Telonan: Upacara tiga bulan masa kehamilan, Mitoni dan Tingkepan: Upacara tujuh bulan masa kehamilan; biasanya dengan mandi-mandi)”.

Di jawab oleh beliau:

“Telonan, Mitoni dan Tingkepan yang sering kita jumpai ditengah-tengah masyarkat adalah tradisi masyarakat Hindu. Upacara ini di lakukan dalam rangka memohon keselamatan anak yang ada didalam rahim (kandungan). Upacara ini biasa di sebut Garba Wedana (Garba: perut, Wedana: sedang mengandung). Selama bayi dalam kandungan di buatkan tumpeng selamatan Telonan, Mitoni, Tingkepan”.
(terdapat dalam Kitab Upadesa hal. 46).

Intisari dari sesajinya adalah:

1. Pengambean: yaitu upacara pemanggilan atman (urip).
2. Sambutan: yaitu upacara penyambutan atau peneguhan letak atman (urip) si jabang bayi.
3. Janganan: yaitu upacara suguhan terhadap “Empat Saudara” (sedulur papat) yang menyertai kelahiran sang bayi, yaitu: darah, air, barah, dan ari-ari. (orang Jawa menyebut: kakang kawah adi ari-ari).

Hal ini di lakukan untuk panggilan kepada semua kekuatan-kekuatan alam yang tidak kelihatan tapi mempunyai hubungan langsung pada kehidupan sang bayi dan juga pada panggilan kepada empat saudara yang bersama-sama ketika sang bayi di lahirkan, untuk bersama-sama di upacarai, di beri pensucian dan suguhan agar sang bayi mendapat keselamatan dan selalu di jaga oleh unsur kekuatan alam. Sedangkan upacara terhadap ari-ari, ialah setelah ari-ari terlepas dari si bayi lalu di bersihkan dengan air yang kemudian di masukkan ke dalam tempurung kelapa selanjutnya di masukkan ke dalam kendil atau guci. Ke dalamnya di masukkah tulisan “AUM” agar sang Hyang Widhi melindungi. Selain itu di masukkan juga berbagai benda lain sebagai persembahan kepada Hyang Widhi. Kendil kemudian di tanam di pekarangan, di kanan pintu apabila bayinya laki-laki, di kiri pintu apabila bayinya perempuan”.

Ari-ari yang di beri penerangan lampu, di sebagian daerah menggunakan media ember, Kendil yang berisi ari-ari di timbun dengan baik, dan pada malam harinya di beri lampu, selama tiga bulan. Apa yang di perbuat kepada si bayi maka di berlakukan juga kepada empat saudara tersebut. Kalau si bayi setelah di mandikan, maka airnya juga di siramkan kepada kendil tersebut.
(Kitab Upadesa, tentang ajaran-ajaran Agama Hindu, oleh: Tjok Rai Sudharta, MA. dan Drs. Ida Bagus Oka Punia Atmaja, cetakan kedua 2007).

(Di kutip dari buku: Santri Bertanya Mantan Pendeta [Hindu] Menjawab).

Kemudian keharaman acara ini bisa di lihat pula dalam keputusan muktamar NU Ke-5 di Pekalongan, pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1349 H / 7 September 1930 M. Lihat halaman : 58.

Pertanyaan:
“Bagaimana hukumnya melempar kendi yang penuh air hingga pecah pada waktu orang-orang yang menghadiri UPACARA PERINGATAN BULAN KETUJUH dari umur kandungan pulang dengan membaca shalawat bersama-sama, dan dengan harapan supaya mudah kelahiran anak kelak. Apakah hal tersebut hukumnya haram karena termasuk membuang-buang uang (tabzir) ?”.

Jawab:
“Ya, perbuatan tersebut hukumnya HARAM karena termasuk tabdzir”.

Memang tidak di pungkiri sebagian umat muslim dalam mengamalkan mengubur ari-ari ini karena ada terdapat dalil namun sayang hadits tersebut adalah dha’if (lemah) dan tidak bisa di jadikan hujjah, berikut hadits yang di maksud tersebut:

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, bahwa beliau mengatakan:

ﻛﺎﻥ ﻳﺄﻣﺮ ﺑﺪﻓﻦ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ ﻣﻦ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﺍﻟﺸﻌﺮ ﻭﺍﻟﻈﻔﺮ ﻭﺍﻟﺪﻡ ﻭﺍﻟﺤﻴﻀﺔ ﻭﺍﻟﺴﻦ ﻭﺍﻟﻌﻠﻘﺔ ﻭﺍﻟﻤﺸﻴﻤﺔ

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengubur tujuh hal potongan badan manusia; rambut, kuku, darah, haid, gigi, gumpalan darah, dan ari-ari”.

Mari kita telusuri:
Hadits ini di sebutkan dalam Kanzul Ummal no.18320 dan As-Suyuthi dalam Al-Jami As-Shagir dari Al-Hakim, dari ‘Aisyah”.

Al-Munawi dalam Syarhnya, mengatakan:

ﻭﻇﺎﻫﺮ ﺻﻨﻴﻊ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﺃﻥ ﺍﻟﺤﻜﻴﻢ ﺧﺮﺟﻪ ﺑﺴﻨﺪﻩ ﻛﻌﺎﺩﺓ ﺍﻟﻤﺤﺪﺛﻴﻦ، ﻭﻟﻴﺲ ﻛﺬﻟﻚ، ﺑﻞ ﻗﺎﻝ : ﻭﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ، ﻓﺴﺎﻗﻪ ﺑﺪﻭﻥ ﺳﻨﺪ ﻛﻤﺎ ﺭﺃﻳﺘﻪ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ ” ﺍﻟﻨﻮﺍﺩﺭ “ ، ﻓﻠﻴﻨﻈﺮ

“Zhahir yang di lakukan penulis (As-Suyuthi) bahwa Al-Hakim meriwayatkan hadits ini dengan sanadnya sebagaimana kebiasaan ahli hadits. Namun kenyataannya tidak demikian. Akan tetapi, beliau hanya mengatakan, “..dari ‘Aisyah”, kemudian Al-Hakim membawakannya tanpa sanad, sebagaimana dalam kitabnya An-Nawadir. Silahkan di rujuk.
(Lihat: Faidhul Qadir, 5:198).

Karena itu para ulama menilai hadits ini sebagai hadits dha’if (lemah), sehingga tidak bisa di jadikan sebagai hujjah.
(Lihat Silsilah Ahadits Dha’ifah, 5:382).

Semakna dengan hadits ini adalah riwayat yang di bawakan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Abdul Jabbar Bin Wail dari bapaknya, beliau mengatakan:

ﺃﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﺄْﻣُﺮُ ﺑِﺪَﻓْﻦِ ﺍﻟﺸَّﻌْﺮِ ﻭَﺍﻟْﺄَﻇْﻔَﺎﺭِ

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengubur rambut dan kuku”.
(Lihat Syu’abul Iman , no. 6488).

Setelah membawakan hadits ini, Al-Baihaqi memberikan komentar:

ﻫَﺬَﺍ ﺇِﺳْﻨَﺎﺩٌ ﺿَﻌِﻴﻒٌ ﻭَﺭُﻭِﻱَ ﻣِﻦْ ﺃَﻭْﺟُﻪٍ، ﻛُﻠُّﻬَﺎ ﺿَﻌِﻴﻔَﺔٌ

“Sanad hadits ini dha’if (lemah). Hadits yang semisal di sebutkan dalam beberapa riwayat dan semuanya dha’if (lemah)”.

Dengan demikian jelaslah bahwa acara tujuh bulanan untuk wanita hamil dan memasang lampu untuk ari-ari bayi yang baru lahir adalah ajaran agama Hindu dan begitupun tentang hadits-haditsnya yang semuanya itu adalah dha’if (lemah) tidak bisa di jadikan hujjah.

Selanjutnya, berikut hal penting yang perlu kita perhatikan terkait masalah semacam ini.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

ﻭَﻻ ﺗَﻠْﺒِﺴُﻮﺍ ﺍﻟْﺤَﻖَّ ﺑِﺎﻟْﺒَﺎﻃِﻞِ ﻭَﺗَﻜْﺘُﻤُﻮﺍ ﺍﻟْﺤَﻖَّ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ

“Dan janganlah kamu mencampur adukkan Kebenaran dengan Kebathilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran sedangkan kamu mengetahuinya”.
(QS. Al-Baqarah : 42).

Allah Subhanahu wa ta’ala menyuruh kita untuk tidak boleh mencampur adukkan ajaran agama islam (kebenaran) dengan ajaran agama Hindu dan KRISTEN atau agama lain (kebathilan) tetapi kita malah ikut perkataan manusia bahwa mencampur adukkan agama itu boleh, Apa manusia itu lebih pintar dari Allah ?.

Selanjutnya dengarkan Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺩْﺧُﻠُﻮﺍ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴِّﻠْﻢِ ﻛَﺎﻓَّﺔً ﻭَﻻ ﺗَﺘَّﺒِﻌُﻮﺍ ﺧُﻄُﻮَﺍﺕِ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺇِﻧَّﻪُ ﻟَﻜُﻢْ ﻋَﺪُﻭٌّ ﻣُﺒِﻴﻦٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”.
(QS. Al-Baqarah : 208).

Allah menyuruh kita dalam berislam MENYELURUH, tidak setengah-setengah, artinya TIDAK SETENGAH HINDU, SETENGAH KRISTEN SETENGAH ISLAM…!!.

Maka jelaslah dengan begitu artinya peribadatan yang banyak di lakukan oleh masyarakat muslim saat ini adalah peribadatan yang mengada-ada, di buat-buat atau mengarang-ngarang sendiri (bid’ah).

Ringkasnya dalam nasehat ana ini, sebenarnya amalan bid’ah yang telah membudaya di negeri kita ini pada dasarnya adalah tak lepas dari Al-istihsan (anggapan baik) dengan dalih karena di dalam perayaan-perayaan ibadah itu, baik tahlilan, Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, Yasinan yang rutin setiap malam jumat, tujuh bulanan untuk wanita hamil, dan lain-lain itu dengan alasan karena di dalamnya terdapat bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an serta bacaan shalawat kepada Nabi, lalu jika di lakukan akan mendapat pahala. Memang benar bahwa membaca Al-Qur’an serta bershalawat kepada Nabi telah di sunnahkan dalam Islam dan itu suatu amalan yang terpuji, tapi perlu di garis bawahi bahwa dalam beribadah itu kita butuh dalil, janganlah sembarangan mengikuti sekehendak nafsu kita hanya karena istihsan (anggapan baik) lalu kita bebas melakukanya tanpa ada contoh atau perintahnya dari Allah dan Rasul-Nya, padahal jika amalan itu tidak ada perintahnya maka amalan tersebut akan sia-sia, apa lagi membaca Al-Qur’an dan bershalawat-nya di tempat-tempat bid’ah seperti itu. Jika amalan-amalan itu baik tentu para sahabatlah yang akan mendahului kita mengamalkannya.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻼً ﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺃَﻣْﺮُﻧَﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩ

“Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan dalam urusan agama ini yang tidak ada perintah dari kami, maka tertolak”.
(HR. Bukhari no.2679 dan HR. Muslim no.1718).

Sedangkan para sahabat (Al-Khulafaa’ Ar-Raasyidin) dan para ulama telah menerangkan masalah istihsan (anggapan baik) ini, di antaranya Abdullah Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata:

ﻋَﻦْ ﺍﺑﻦِ ﻋُﻤَﺮَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ، ﻗَﺎﻝَ : ﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔٌ ﻭَﺇِﻥْ ﺭَﺁﻫَﺎﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺣَﺴَﻨَﺔً

“Setiap perkara baru (bid’ah) adalah sesat, walaupun manusia memandangnya baik”.
(Lihat riwayat Al-Lalika 1/192-i fii syarah Ushuul I’tiqaad no.205 ahlis sunnah wal jama’ah 1/104 no.126 dan Li ibni Baththah,1/219, Asy-Syamilah-‘Ukbari dalam Al-Ibaanah no.205 1/339 dengan sanad shahih).

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata:

ﻭَﻛَﻢْ ﻣِﻦْ ﻣُﺮِﻳﺪٍ ﻟِﻠْﺨَﻴْﺮِ ﻟَﻦْ ﻳُﺼِﻴﺒَﻪُ

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya”.
(HR. Ad Darimi. Di katakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid [bagus] ).

Juga dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

ﻗُﻞْ ﻫَﻞْ ﻧُﻨَﺒِّﺌُﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟْﺄَﺧْﺴَﺮِﻳﻦَ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟًﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺿَﻞَّ ﺳَﻌْﻴُﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻫُﻢْ ﻳَﺤْﺴَﺒُﻮﻥَ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﻳُﺤْﺴِﻨُﻮﻥَ ﺻُﻨْﻌًﺎ

“Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya ?” yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya”.
(QS. Al-Kahfi [18] :103-104).

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

ﺃَﻓَﻤَﻦْ ﺯُﻳِّﻦَ ﻟَﻪُ ﺳُﻮﺀُ ﻋَﻤَﻠِﻪِ ﻓَﺮَﺁﻩُ ﺣَﺴَﻨًﺎ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳُﻀِﻞُّ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻭَﻳَﻬْﺪِﻱ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ

“Maka apakah orang yang di jadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan) ? maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang di kehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang di kehendaki-Nya”.
(QS. Faathir : 8).

Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah mengatakan:

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻻﺳﺘﺤﺴﺎﻥُ ﺗﻠﺬُّﻥٌ

“Sesungguhnya anggapan baik (Al-istihsan) hanyalah menuruti selera hawa nafsu”.
(Lihat Ar-Risalah, hal. 507) Dan juga dalam kitab Al-Umm [7/293-304] terdapat pasal yang indah berjudul: Pembatal Istihsaan/Menganggap Baik Menurut Akal [Ibthaalul-Istihsaan]).

Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah juga berkata:

ﻣَﻦ ﺍﺳْﺘَﺤْﺴَﻦَ ﻓَﻘَﺪْ ﺷَﺮَﻉَ

“Barangsiapa yang menganggap baik (istihsan) sesuatu (menurut pendapatnya), sesungguhnya ia telah membuat satu syara’ (agama baru)”.
(Lihat Al-Mankhuul oleh Al-Ghazali hal. 374, Jam’ul-Jawaami’ oleh Al-Mahalli 2/395, dan yang lainnya).

Mengenai pendapat kyai antum yang mengatakan bahwa perayaan itu ada dalilnya…?

Baik ana sanggah, untuk singkatnya bahwa semua perayaan-perayaan itu tidak ada satupun petunjuknya atau dalilnya dalam syari’at baik secara umum ataupun secara khusus, baik secara garis besar ataupun secara terperinci, jikapun anggapan dari mereka yang mengatakan bahwa itu ada dalilnya tiada lain bahwa dalilnya di paksakan yang memang bukan dalilnya, dan umumnya mereka cenderung berpedoman kepada hadits dha’if (lemah) dan haditsnya maudhu’ (palsu) atau hadits dha’if dan hadits palsu namun lafazdnya sesuai kemauan mereka. Atau hadits itu shahih, tetapi di pahami dengan keliru atau salah dalam pendalilan….atau haditsnya shahih tapi maknanya sengaja di pelintir kesana kemari untuk melegalisasi atas perbuatan mereka yang rusak.

Ingat…agama ini adalah agama dalil apabila beribadah tanpa dalil berarti ibadah tersebut adalah ibadah bid’ah (mengada-mengada), adapun di sebagian masyarakat muslim yang berdalil dengan perkataan para ulama maka hal itu perlu di tinjau ulang apakah pendapat ulama itu sesuai dengan Al-Qur’an dan hadits shahih ataukah malah menyelisihinya, apabila perkataan ulama menyelisihi hadits maka perkataannya harus kita tolak dan hadits shahih yang harus kita utamakan karena pendapat ulama bukan dalil, jika menyelisihi syari’at wajib kita tolak…! Apalagi hanya sekedar pendapat para kyai, habib, buya, da’i, atau ustadz kita yang sangat jauh ilmunya di bandingkan dengan para ulama terdahulu tentu akan lebih-lebih lagi akan kita tolak pendapatnya jika bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits shahih. Sebagaimana di katakan oleh ke empat imam madzhab terutama Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah yang banyak mengeluarkan nasehat untuk umat ini, bahwa mereka para ulama sendiri telah melarang kita mengambil pendapat dari mereka jika pendapat mereka itu bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits shahih,

Berikut ana nukilkan beberapa perkataan para ulama:

Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimullah berkata:

ﺇِﺫَﺍ ﻭَﺟَﺪْﺗُﻢْ ﻓِﻲ ﻛِﺘَﺎﺑِﻲ ﺧِﻼَﻑَ ﺳُﻨَّﺔِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻓَﻘُﻮﻟُﻮﺍ ﺑِﺴُﻨَّﺔِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺩَﻋُﻮﺍ ﻣَﺎ ﻗُﻠْﺖُ – ﻭﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ – ﻓَﺎﺗَّﺒِﻌُﻮﻫَﺎ ﻭَﻻَ ﺗَﻠْﺘَﻔِﺘُﻮﺍ ﺇِﻟﻰَ ﻗَﻮْﻝِ ﺃَﺣَﺪٍ. ) ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﻓﻲ. ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ 1 /63

“Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku.” – dan dalam riwayat lain Imam Asy-Syafi’i mengatakan: “maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan perkataan orang…!”
(Lihat: Al-Majmu’ syarh Al-Muhadzdzab 1/63).

Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah berkata:

ﻋِﻨْﺪَ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟﻨَّﻘْﻞِ ﺑِﺨِﻼَﻑِ ﻣَﺎ ﻗُﻠْﺖُ ﻓَﺄَﻧﺎَ ﺭَﺍﺟِﻊٌ ﻋَﻨْﻬَﺎ e ﻛُﻞُّ ﻣَﺴْﺄَﻟَﺔٍِ ﺻَﺢَّ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﺍﻟْﺨَﺒَﺮُ ﻋَﻦْ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪ (ﻓِﻲ ﺣَﻴَﺎﺗِﻲ ﻭَﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻲ) ﺃﺑﻮ ﻧﻌﻴﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﻠﻴﺔ 9 /107

“Setiap masalah yang disana ada hadits shahihnya menurut para ahli hadits, lalu hadits tersebut bertentangan dengan pendapatku, maka aku menyatakan rujuk (meralat) dari pendapatku tadi baik semasa hidupku maupun sesudah matiku”.
(Lihat Hilyatul Auliya’ 9/107).

Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah berkata:

ﻛُﻞُّ ﻣَﺎ ﻗُﻠْﺖُ ﻓَﻜَﺎﻥَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺧِﻼَﻑُ ﻗَﻮْﻟِﻲْ ﻣِﻤَّﺎ ﻳَﺼِﺢُّ ﻓَﺤَﺪِﻳْﺚُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺃَﻭْﻟَﻰ، ﻓَﻼَ ﺗُﻘَﻠِّﺪُﻭْﻧِﻲ

“Setiap dari perkataanku, kemudian ada riwayat yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyelisihi perkataanku, maka hadits Nabi (harus) di utamakan. Maka janganlah kalian taqlid (mengikuti) kepadaku”.
(Di riwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam Adab Asy-Syafi’i hal. 93, Ibnu Qayyim dalam I’lamul Muwaqqi’in IV/45-46, Abu Nu’aim dan Ibnu Asakir XV/9/2 dengan sanad yang shahih. Lihat juga Muqaddimah Shifat shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal. 52).

Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah berkata:

ﺃﺟﻤﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻣﻦ ﺍﺳﺘﺒﺎﻧﺖ ﻟﻪ ﺳﻨﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻪ ﺃﻥ ﻳﺪﻋﻬﺎ ﻟﻘﻮﻝ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ

“Para ulama bersepakat bahwa jika seseorang sudah di jelaskan padanya sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam tidak boleh ia meninggalkan sunnah itu demi membela pendapat siapapun”.
(Di riwayatkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al I’lam 2/361. Dinukil dari Ashl Sifah Shalatin Nabi, 28).

Dalam lafadz lainya Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah berkata:

ﺇِﺫَﺍ ﺻَﺢَّ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚُ ﻓَﻬُﻮَ ﻣَﺬْﻫَﺒِﻲ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺻَﺢَّ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚُ ﻓَﺎﺿْﺮِﺑُﻮﺍ. ﺑِﻘَﻮْﻟِﻲ ﺍﻟْﺤَﺎﺋِﻂَ ) ﺳﻴﺮ ﺃﻋﻼﻡ ﺍﻟﻨﺒﻼﺀ
( 3285 – 3/3284 )

“Kalau ada hadits shahih, maka itulah madzhabku, dan kalau ada hadits shahih maka lemparkanlah pendapatku ke (balik) tembok”.
(Lihat Siyar a’laamin Nubala’3/3284-3285).

Juga Imam Abu Hanifah Rahimahullah berkata:

ﺇِﺫَﺍ ﻗُﻠْﺖُ ﻗَﻮْﻻً ﻳُﺨُﺎﻟِﻒُ ﻛِﺘَﺎﺏَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻭَﺧَﺒَﺮَ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮْﻝِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻓَﺎﺗْﺮُﻛُﻮْﺍ ﻗَﻮْﻟِﻲ

“Jika aku mengatakan suatu pendapat yang menyelisihi Kitabullah dan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tinggalkanlah pendapatku”.
(Di riwayatkan oleh Imam Al-Fullani dalam Iqazhul Himam hal. 50. Lihat juga Muqaddimah Shifat Shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal. 48).

Al-Imam Malik Rahimahullah berkata:

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﺑَﺸَﺮٌ ﺃُﺧْﻄِﻰﺀُ ﻭَﺃُﺻِﻴْﺐُ ﻓَﺎﻧْﻈُﺮُﻭﺍ ﻓِﻲ ﻗَﻮْﻟِﻲ ﻓَﻜُﻞُّ ﻣَﺎ. ﻭَﺍﻓَﻖَ ﺍﻟﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﺍﻟﺴُّﻨَّﺔَ ﻓَﺨُﺬُﻭْﺍ ﺑِﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳُﻮَﺍﻓِﻖْ ﺍﺍﻟﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﺍﻟﺴُّﻨَّﺔّ ﻓَﺎﺗْﺮُﻛُﻮْﻩُ

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa, yang kadang bisa salah dan kadang benar. Cermatilah setiap pendapatku, jika itu sesuai Al-Qur’an dan hadits, maka ambillah. Jika itu tidak sesuai Al-Qur’an dan hadits, maka tinggalkanlah”.
(Di riwayatkan Ibnu Abdil Barr dalam Al-Jami [2/32], Ibnu Hazm dalam Ushul Al-Ahkam [6/149]. Dinukil dari Ashl Sifah Shalatin Nabi, 27).

Ingat…siapapun orangnya tetap dia adalah manuasia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan dosa entah itu mereka para ulama, kyai, ustadz, atau da’i, mubaligh dan lainya itu, mereka sama hanyalah manusia biasa, tidaklah ada yang ma’shum (terlepas dari kesalahan dan dosa) mereka juga bisa tergelincir,seperti manusia awam pada umumnya. Sebafaimana Imam Malik Rahimahullah beliau berkata:

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﺑَﺸَﺮٌ ﺃُﺧْﻄِﻰﺀُ ﻭَﺃُﺻِﻴْﺐُ ﻓَﺎﻧْﻈُﺮُﻭﺍ ﻓِﻲ ﻗَﻮْﻟِﻲ ﻓَﻜُﻞُّ ﻣَﺎ. ﻭَﺍﻓَﻖَ ﺍﻟﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﺍﻟﺴُّﻨَّﺔَ ﻓَﺨُﺬُﻭْﺍ ﺑِﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳُﻮَﺍﻓِﻖْ ﺍﺍﻟﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﺍﻟﺴُّﻨَّﺔّ ﻓَﺎﺗْﺮُﻛُﻮْﻩُ

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa, yang kadang bisa salah dan kadang benar. Cermatilah setiap pendapatku, jika itu sesuai Al-Qur’an dan hadits shahih, maka ambillah. Jika itu tidak sesuai Al-Qur’an dan hadits shahih, maka tinggalkanlah”.
(Di riwayatkan Ibnu Abdil Barr dalam Al-Jami [2/32], Ibnu Hazm dalam Ushul Al-Ahkam [6/149]. Dinukil dari Ashl Sifah Shalatin Nabi, 27).

Bahkan seorang sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam seperti Ali Bin Abi Thalib Radhiyallaahu ‘anhu sendiri disebutkan pernah mengatakan tentang ketidak ma’shuman dirinya:

ﻓﻼ ﺗﻜﻔﺮﻭﺍ ﻋﻦ ﻣﻘﺎﻟﺔ ﺑﺤﻖ، ﺃﻭ ﻣﺸﻮﺭﺓ ﺑﻌﺪﻝ، ﻓﺈﻧِّﻲ ﻟﺴﺖ ﻓﻲ ﻧﻔﺴﻲ ﺑﻔﻮﻕ ﺃﻥ ﺃﺧﻄﺊ، ﻭﻻ ﺁﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﻓﻌﻠﻲ، ﺇﻟَّﺎ ﺃﻥ ﻳﻜﻔﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻧﻔﺴﻲ ﻣﺎ ﻫﻮ ﺃﻣﻠﻚ ﺑﻪ ﻣﻨِّﻲ

“Janganlah kamu berhenti dari mengatakan kebenaran, atau bermusyawarah dengan adil. Sebab aku pada diriku tidak terbebas dari kesalahan dan aku tidak menjamin hal itu dari perbuatanku, kecuali bila Allah mencukupkan dari diriku sesuatu yang Dia lebih memilikinya daripadaku”.
(Lihat Nahjul-Balaaghah, hal 485: Daarul-Ma’rifah, tanpa tahun, Beirut).

Dan Sulaiman Ath-Taimi Rahimahullah juga berkata:

ﻟَﻮْ ﺃَﺧَﺬْﺕَ ﺑِﺮُﺧْﺼَﺔِ ﻛُﻞِّ ﻋَﺎﻟِﻢٍ ، ﺃَﻭْ ﺯَﻟَّﺔِ ﻛُﻞِّ ﻋَﺎﻟِﻢٍ ، ﺍﺟْﺘَﻤَﻊَ ﻓِﻴﻚَ ﺍﻟﺸَّﺮُّ ﻛُﻠُّﻪُ

“Andai engkau mengambil pendapat yang mudah-mudah saja dari para ulama, atau mengambil setiap ketergelinciran dari pendapat para ulama, pasti akan terkumpul padamu seluruh keburukan”.
(Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul)

Nah jelaskan bahwa para ulama saja melarang kita mengikuti pendapatnya jika pendapatnya tersebut bertentangan dengan dalil shahih, apalagi jika kita dengan berani mengambil pendapat dari kyai, habib, buya, ustadz kita sendiri yang kita anggap paling benar…?!

Terakhir sebagai penutup dari dialog kita ini akan ana simpulkan, begini….

Pada dasarnya mereka para kyai, ustadz atau da’i tersebut baik dari negeri kita atau negara manapun melakukan itu tiada lain hanya berdasarkan:

1. Karena Al-istihsan (anggapan baik) sebagaimana sebelumnya sudah ana paparkan tadi, sedangkan anggapan baik ini sudah ana jelaskan berikut dalil-dalil dari Al-Qur’an dan hadits shahih serta perkataan dari para ulama.

2. Karena mereka berpedoman kepada hadits dha’if (lemah) dan haditsnya maudhu’ (palsu) atau hadits dha’if dan hadits palsu namun lafazdnya sesuai kemauan mereka. Atau hadits itu shahih, tetapi difahami dengan keliru atau salah dalam pendalilan….atau haditsnya shahih tapi maknanya sengaja dipelintir kesana kemari untuk melegalisasi atas perbuatan mereka yang rusak.

Kemudian tadi antum katakan mereka para kyai atau ustadz itu masih enggan untuk meninggalkanya…?”

Ketahuilah, mereka para kyai, ustadz atau da’i itu bukannya tidak tahu akan larangan itu, tapi mereka sengaja berpura-pura tidak tahu sehingga sengaja memutar-mutar berbagai dalil, padahal mereka tahu bahwa itu memang bukan dalilnya sehingga mereka paksakan untuk di jadikan dalil, jikapun mereka tidak tahu itu paling hanya segelintir orang saja, dan umumnya mereka para da’i, ustadz atau para kyai itu masih enggan untuk meninggalkannya, tiada lain hanya di karenakan:

1. Mereka takut kehilangan atau takut ditinggalkan jemaahnya.

2. Mereka takut kehilangan nama besarnya atau pamornya.

3. Mereka itu takut dikucilkan oleh orang-orang di kampungnya.

4. Yang tak kalah penting mereka di karenakan takut akan kehilangan proyek-proyek besar mereka…itu saja.

Untuk di camkan oleh antum…bahwa semua dalil-dalil yang di jadikan hujjah oleh para ahlu bid’ah untuk melegalkan atas perbuatan mereka yang rusak itu, sesungguhnya telah lebih dahulu di ketahui oleh para sahabat dan para ulama terdahulu, tapi dalil-dalil itu tidak di amalkan oleh mereka karena mereka lebih berilmu dan mereka sangat berhati-hati dalam memakai serta mencermati hadits.

Dan sesungguhnya mereka ahlu bid’ah itu sudah tidak punya landasan lagi untuk membantahnya, karena hujjah-hujjah mereka semuanya telah di patahkan oleh para ulama-ulama ahli hadits.

Kesimpulanya bahwa acara-acara ibadah itu bukan ajaran kita Islam sebagaimana pengakuan antum tadi, Jadi pengakuan si KRISTEN dan HINDU itu mengatakan bahwa acara-acara itu semua adalah ajaran dari agama mereka adalah …BENAR…!.

Baiklah ya akhi…hanya ini yang bisa ana sampaikan, semoga bermanfaat buat antum. Maaf jika ada kekeliruan dalam penyampaian ini karena segala kekurangan adalah murni datangnya dari ana Al fakir dan segala kesempurnaan adalah datangnya haq milik Allah Ta’ala. semoga antum mendapat rahmat dan petunjuk serta hidayahnya Allah Ta’ala”.

Taqabalallahu minna wa minkum…

ASWAJA: “Syukron…atas pencerahannya akhi…semoga Allah Ta’ala juga melimpahkan rahmat serta karunianya kepada antum dan di panjangkan umur agar bisa selalu berdakwah di atas manhaj salaf, demi memurnikan aqidah untuk kaum muslimin. Ana kira apa yang antum sampaikan sudah cukup jelas dan memuaskan, dan biarpun ringkas namun sangat menyentuh hati ana, tidak ada alasan lagi bagi ana untuk membantah sesuatu yang benar”.

Penjelasan yang betul-betul ilmiah…akhirnya ana sadar bahwa ibadah ana selama ini adalah suatu kebodohan dan kesia-sia-an, karena telah jatuh kedalam kubang bid’ah yang hina serta kenistaan dan kesesatan yang nyata. Sekarang hati ana menjadi lebih tenang, lebih sejuk dan hilang sudah segala syubhat-syubhat yang ada dalam pikiran ana, dengan begini berarti kedepanya ana harus lebih teliti dan extra hati-hati serta harus memilah-milah lagi dalam mencari kyai, guru atau ustadz untuk belajar mencari ilmu agama. Karena ana tidak mau masuk dua kali ke dalam jurang yang sama”.
_____________________

Simulasi ini di ambil dari sebuah sumber, bukan karya dari penulis. Memang telah melalui pengeditan untuk kesempurnaanya, namun penulis tetap menjaga hasil karya orang lain dengan tidak mengurangi makna dari sumber aslinya.

Simulasi ini sama sekali tidak ada maksud untuk
menyerang atau menyinggung di salah satu kelompok tertentu, tapi ini hanya sekedar nasehat agar kita semua menghindari perbuatan tasyabbuh (menyerupai) agama lain.

SEKIAN

DIALOG IKHWAN SALAFI DENGAN QUBURIYYUN

DIALOG DENGAN QUBURIYYUN

Alkisah…

Suatu ketika, tersebutlah seorang QUBURIYYUN mengajak seorang IKHWAN SALAFI ke sebuah kuburan keramat.

IKHWAN : “ Lho… kok kita malah kemari ?? ”.

QUBURIYYUN : “ Iya…mampir sebentar. ada sedikit keperluan ”.

IKHWAN : “ Ada keperluan apa dikuburan malam-malam begini ? ”.

QUBURIYUUN : “ Besok pagi kita kan mau pergi safar, jadi kita perlu ziarah kemari ”.

IKHWAN : “ Memang apa hubungannya pergi safar dengan ziarah kubur ?? ”.

QUBURIYYUN : “ Ya ada.supaya kepergian kita nanti lebih selamat dan dimudahkan Allah ”.

IKHWAN : “ Lho ? Kalau ingin selamat dan dimudahkan kenapa tidak berdo’a dan minta langsung kepada Allah saja ? kenapa harus ada acara ke kuburan ? ”.

QUBURIYYUN : “ Ziarah kubur itu dianjurkan dalam Islam, banyak dalilnya. jangan seperti Wahabi yang melarang ziarah kubur…!! ”.

IKHWAN: “ Wahabi melarang ziarah kubur ? kata siapa ? Ingat saudaraku, ziarah kubur adalah Sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam, dan banyak sekali dalil yang menerangkannya, dari sepengetahuan saya bahwa Wahabi tidak ada yang melarang untuk ziarah kubur, bahkan Wahabi juga ziarah kubur, yang melarang bukan Wahabi, tapi Allah dan Rasul-Nya yaitu jenis ziarah kubur yang menyelisihi syari’at ”.

QUBURIYYUN : “ Emang seperti apa ziarah kubur yang syari’at ? ”.

IKHWAN : “ Kita dianjurkan ziarah kubur hanya sebatas mengucapkan salam kepada penghuni kubur dan mendo’akannya, selain itu untuk mengingatkan kita kepada kematian ”.

QUBURIYYUN : “ Nah, saya juga seperti itu ziarah kuburnya. Jadi ziarah saya ini sesuai syari’at, terus kenapa kamu mempermasalahkannya ? ”.

IKHWAN : “ Bukankah tadi kamu mengatakan, bahwa niatmu ziarah kubur disini supaya kepergian kita besok bisa lebih selamat dan dimudahkan Allah ? ”.

QUBURIYYUN : “ Iya, bukankah itu termasuk dari memohon permintaan dan berdo’a juga ? apa yang salah ? ”.

IKHWAN : “ Berarti kamu meminta keselamatan dan kemudahan kepada orang yang sudah meninggal atau meminta kepada penghuni kubur ini, hati-hati wahai saudaraku perbuatan yang seperti itu nanti malah akan menjatuhkan kamu ke dalam perkara syirik, karena meminta keselamatan dan kemudahan kepada selain Allah. Bukankah yang bisa memberikan keselamatan dan kemudahan hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala ? ”.

QUBURIYYUN : “ Saya tidak meminta keselamatan dan kemudahan kepada penghuni kubur ini, Saya juga tahu bahwasanya hanya Allah yang mampu memberikan keselamatan dan kemudahan “.

IKHWAN : “ Kalau kamu mengetahuinya, lantas kenapa harus mendatangi kuburan ini untuk minta keselamatan ?? Kenapa tidak berdo’a langsung kepada Allah dirumah atau dimasjid saja ? ”.

QUBURIYYUN : “ Saya hanya bertawassul (menjadikan wasilah/perantara) kepada penghuni kuburan ini. karena pemiliki kuburan ini adalah orang shalih atau wali Allah, saya meminta kepada penghuni kubur ini agar mendo’akan atau menyampaikan permintaan saya kepada Allah. Saya tidak meminta langsung kepada penghuni kubur ini, tapi hanya menjadikan dia sebagai perantara saja ”.

IKHWAN : “ Kenapa kamu menjadikan orang yang sudah meninggal sebagai perantara ? bukankah dia sendiri sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang ? Ketika orang ini masih hidup saja, dia tidak mampu memberi kamu keselamatan, apalagi ketika dia telah meninggal, itu lebih tidak mampu lagi. Hanya Allah yang mampu memberi keselamatan dan atas izin-Nya ”.

QUBURIYYUN : “ Kamu jangan berkata seperti itu, penghuni kubur ini adalah orang shalih, nanti kamu bisa kualat jika berkata seperti itu…!! Wali Allah itu tidak sama dengan orang biasa ”.

IKHWAN : “ Wahai saudaraku…itu namannya pengkultusan kepada makhluk, sedangkan perbuatan seperti itu dilarang dalam agama, bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah melarang umatnya untuk mengkultuskan beliau secara berlebih-lebihan :

  ﺗُﻄْﺮُﻭﻧِﻲ ﻛَﻤَﺎ ﺃَﻃْﺮَﺕْ ﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭَﻯ ﺍﺑْﻦَ ﻣَﺮْﻳَﻢَ ﻓَﺈِﻧَّﻤَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻓَﻘُﻮﻟُﻮﺍ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟُﻪُ

“ Janganlah kalian memujiku secara berlebihan seperti kaum Nasrani memuji Isa alaihissalam putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba Allah, maka panggillah aku dengan hamba Allah dan Rasulullah ”.
(HR. Al-Bukhari no. 3261).

Jadi mengkultuskan beliau saja yang jelas-jelas adalah Rasul Allah kita tidak boleh, apalagi sampai mengkultuskan penghuni kubur ini yang noto bene adalah manusia biasa. Untuk itu lebih baik kita berdo’a dan meminta langsung kepada Allah subhanahu wa ta’ala secara langsung tanpa melalui perantara kepada siapapun apalagi kepada orang yang sudah meninggal sebagaimana Allah subhanahu wa ta’la berfirman :

ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺭَﺑُّﻜُﻢُ ﺍﺩْﻋُﻮﻧِﻲ ﺃَﺳْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢ

“ Dan Rabbmu berfirman : Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu ”.
(QS. Al-Mukmin : 60).

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺳَﺄَﻟَﻚَ ﻋِﺒَﺎﺩِﻱ ﻋَﻨِّﻲ ﻓَﺈِﻧِّﻲ ﻗَﺮِﻳﺐٌ ﺃُﺟِﻴﺐُ ﺩَﻋْﻮَﺓَ ﺍﻟﺪَّﺍﻉِ ﺇِﺫَﺍ ﺩَﻋَﺎﻥِ ﻓَﻠْﻴَﺴْﺘَﺠِﻴﺒُﻮﺍ ﻟِﻲ ﻭَﻟْﻴُﺆْﻣِﻨُﻮﺍ ﺑِﻲ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺮْﺷُﺪُﻭﻥَ

“ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran ”.
(QS. Al-Baqarah : 186).

Dan disebutkan dalam Sunan Ibnu Majah dari hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu dia berkata, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﺴْﺎَٔﻝِ ﺍﻟﻠﻪ ﻳَﻐْﻈَﺐْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ

“ Barang siapa yang tidak meminta kepada Allah ta’ala, maka Allah ta’ala murka kepadanya ”.
(HR. Ibnu Majah dan lainnya).

QUBURIYYUN : “ Kamu telah keliru dalam memahami makna tawassul. Sesungguhnya bila ada salah seorang diantara kita mempunyai urusan dengan seorang raja atau penguasa atau menteri yang memiliki kedudukan yang sangat besar, maka ia tidak mungkin menghadap kepadanya secara langsung, karena ia merasa tidak akan diperhatikan nantinya. makanya kita mencari seorang yang dikenal oleh raja tersebut, yang dekat dengannya, yang didengar olehnya, lalu kita jadikan dia sebagai perantara antara kita dengan raja atau penguasa itu. dengan begitu, niscaya urusan kita akan diperhatikan oleh raja. Begitu juga halnya antara saya dengan orang shalih tersebut, yang mana orang shalih itu adalah perantara saya dalam meminta kepada Allah ”.

IKHWAN : “ Astaghfirullah…!! Tidakkah kamu sadar atas ucapan itu, bahwa sesungguhnya kamu baru saja menyamakan Allah dengan makhluk-Nya…?? Bahkan menyamakan Allah dengan makhluk-Nya yang zhalim dan keji…!! wal iyadzubillah…!! ”.

QUBURIYYUN : “ Maksudnya ? saya tidak ada menyamakan Allah dengan makhluknya. saya hanya mengambil Qiyas, bukankah Qiyas juga merupakan sumber hukum ? ”.

IKHWAN : “ Perlu diketahui dalam masalah Qiyas ini, memang ada disebagian ulama generasi sekarang yang membolehkan ber-Qiyas untuk menentukan perkara ibadah, namun ijma’ (sepakat) ulama ahlu Sunnah waljamaah mengatakan bahwa Qiyas tidak bisa dijadikan sebagai sumber hukum dalam agama, sebagaimana yang berlaku dizaman para sahabat dan para ulama salaf terdahulu tidak menggunakannya, bahkan mereka tidak mengenal istilah Qiyas ini, apalagi untuk menggunakannya. Yang rajih (kuat) adalah Qiyas tidak bisa dijadikan sumber hukum dalam perkara ibadah, kalau dianggap sumber hukum, maka itupun jika keadaan darurat, dan karena dengan qias ini akhirnya orang akan begitu mudah membuat-buat syari’at baru dalam agama ini. Ingatlah saudaraku…Islam tegak hanya diatas dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah shahih setelah itu ijma’, sedangkan Qiyas bukan landasan untuk menentukan hukum dalam perkara ibadah, dalam ibadah harus jelas Dalil dan tuntunannya, kalau aqidah dibawa kedalam Qiyas, maka akan rusaklah agama ini, karena dengan begitu tentu setiap orang dan siapapun dia semua akan bisa berbuat sesuka hatinya dan sekehendak hawa nafsunya dalam beragama, pada akhirnya timbullah seperti sekarang ini banyak ibadah tambahan, bercampur aduk yang tidak ada sumbernya sama sekali, rancu, rusak dan penyimpangan lainya.

Ingat saudaraku…!! ibadah tidak bisa direka-reka atau dikarang-karang sendiri sesuai selera kita, perkara aqidah jangan dianggap sepele atau ringan, karena ini menyangkut tanggung jawab manusia dengan tuhannya kelak diakhirat, apalagi yang kamu Qiyaskan adalah sama saja dengan menyamakan Allah dengan raja atau penguasa, yang faktanya banyak yang zhalim, diktator, sewenang wenang, dan tidak memperhatikan kemaslahatan rakyatnya, yang mana mereka telah menjadikan antara dirinya dan rakyatnya dengan tirai pemisah dan pengawal, sehingga rakyatnya tidak mungkin menghadap rajanya kecuali dengan perantara atau sarana, bahkan sering. didapati dengan suap menyuap…!! Sekiranya seseorang menghadap penguasa secara langsung, berbicara dengannya tanpa perantara atau pengawal, apakah hal itu bukan sikap yang lebih sempurna dan lebih terpuji baginya, ataukah ketika ia menghadapnya dengan cara perantara yang kemungkinan butuh waktu yang terkadang panjang dan terkadang pendek ? ”.

QUBURIYYUN : ” (Terdiam sejenak sambil nelan ludah) “.

IKHWAN : “ Kamu tahu dengan khalifah ’Umar Ibnu Al-Khathab radhiallahu ‘anhuma, bukan ?? Beliau adalah salah satu khalifah kebanggaan umat muslim dipenjuru dunia ini,  beliau sebagai khalifah yang sangat dekat dengan rakyatnya, sehingga orang yang miskin atau lemah, sekalipun mampu bertemu secara langsung dan bercakap cakap dengan beliau, tanpa harus ada perantara atau pengawal. maka perhatikanlah, apakah penguasa yang seperti ini lebih baik dan lebih utama ataukah penguasa yang menjadi acuan Qiyas kamu terhadap Allah yang harus melalui perantara ? Menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya yaitu penguasa yang adil saja sangat dilarang, apalagi menyerupakan Allah dengan penguasa yang zhalim, jahat atau buruk ?! ”.

QUBURIYYUN : “ Baiklah kalau begitu, bukankah tidak ada dalil yang melarang bertawassul kepada orang yang sudah meninggal ? jika hal itu dilarang, mana dalilnya ?? ”.

IKHWAN : “ Dengar wahai saudaraku…tawassul merupakan salah satu bentuk dari ritual ibadah, jadi segala macam bentuk ibadah itu harus disertai dalil. Ada kaidahnya para ulama dalam kaidah Ushul Fiqih yang berbunyi:

ﻓَﺎﻷَﺻْﻞُ ﻓَﻲ ﺍﻟْﻌِﺒَﺎﺩَﺍﺕِ ﺍﻟﺒُﻄْﻼَﻥُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻘُﻮْﻡَ ﺩَﻟِﻴْﻞٌ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻷَﻣْﺮِ

” Bahwa hukum asal semua ibadah itu adalah terlarang sebelum ada dalil yang memerintahkan-Nya “.

Artinya dapat dipahami bahwa jika tidak ada dalil yang memerintahkan-Nya berarti ibadah itu terlarang, kalau kamu berkata bahwa melakukan tawasul itu boleh hanya dengan berpendapat bahwa hal tersebut tidak ada Dalil yang melarangnya, itulah sebuah pemahaman yang keliru, taqlid buta dan berdalil hanya dengan hawa nafsu. dan inilah diantara penyebab agama ini menjadi rusak sebagai mana Rasulullah shalalluhu ‘alaihi wassalam bersabda :

” Yang menyebakan agama ini cacat ialah hawa nafsu “.
(HR. Asysyhaab).

Kalau dikatakan bahwa tawasul itu boleh dilakukan dengan berpendapat karena hal itu tidak ada dalil yang melarangnya, lalu bagaimana jika dalam dua shalat Ied (hari raya Iedul Fitri dan Iedul Adha) yang asalnya tidak ada adzan dan Iqamah, lalu kemudian kita adakan adzan dan Iqamah, apakah boleh ? Begitupun dalam shalat Maghrib yang asal perintahnya adalah tiga raka’at kemudian kita rubah menjadi empat raka’at apakah itu juga boleh ? Atau misalnya dalam shalat Shubuh yang asalnya dikerjakan hanya dua raka’at kemudian kita tambah satu raka’at hingga menjadi tiga raka’at, apakah itu juga boleh ? Bukankah dalam shalat Ied itu jika kita tambah adzan dan Iqamahnya juga tidak ada larangannya dalam agama…?? Begitu juga dalam shalat Maghrib dan shalat Shubuh, bukankah jika kita tambah jumlah raka’atnya itu juga tidak ada larangannya ? Tapi kenapa semua itu kita tidak dilarang melakukanya bahkan berdosa ? Jawabnya, karena jelas itu tidak ada perintahnya dari Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, seyogyanya dalam melakukan sesuatu amalan itu harus berdasarkan ada perintah dalam syari’at-Nya dan janganlah menganggap semuanya boleh dikerjakan tanpa ada perintah dari Allah dan Rasul-Nya, jika setiap amalan yang tidak ada perintahnya baik dalam Al-Qur’an maupun dalam As-Sunnah sudah jelas artinya itu adalah amalan yang mengada-ada atau membuat-buat sendiri (Bid’ah), perbuatan seperti ini tidak akan bermanfaat bahkan sesat dan berdosa, sebagaimana Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda

ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﻓِﻰ ﺃَﻣْﺮِﻧَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ

“ Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak”.
(HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻼً ﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺃَﻣْﺮُﻧَﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ

“ Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak”.
(HR. Muslim no. 1718).

Hadits dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan :

ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ ﻓَﺈِﻥَّ ﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟْﻬُﺪَﻯ ﻫُﺪَﻯ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﺷَﺮُّ ﺍﻷُﻣُﻮﺭِ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ ﻭَﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah (Al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (As-Sunnah). Dan seburuk-buruk perbuatan adalah perbuatan yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan dalam agama itu adalah bid’ah, setiap BID’AH adalah SESAT…! ”.
(HR. Muslim no. 867).

Dalam riwayat An-Nasa’i Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓَﻼ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ ، ﺇِﻥَّ ﺃَﺻَﺪَﻕَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ، ﻭَﺃَﺣْﺴَﻦَ ﺍﻟْﻬَﺪْﻱِ ﻫَﺪْﻱُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ، ﻭَﺷَﺮَّ ﺍﻷُﻣُﻮﺭِ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ ، ﻭَﻛُﻞَّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ، ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼﻟَﺔٌ ، ﻭَﻛُﻞَّ ﺿَﻼﻟَﺔٍ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

“ Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan yang disesatkan oleh Allah tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (As-Sunnah). Seburuk-burukk perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap BID’AH adalah KESESATAN dan setiap kesesatan tempatnya di NERAKA…!!”.
(HR. An-Nasa’i no. 1578, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan An Nasa’i).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ﺃُﻭﺻِﻴﻜُﻢْ ﺑِﺘَﻘْﻮَﻯ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟﺴَّﻤْﻊِ ﻭَﺍﻟﻄَّﺎﻋَﺔِ ﻭَﺇِﻥْ ﻋَﺒْﺪًﺍ ﺣَﺒَﺸِﻴًّﺎ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣَﻦْ ﻳَﻌِﺶْ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺑَﻌْﺪِﻯ ﻓَﺴَﻴَﺮَﻯ ﺍﺧْﺘِﻼَﻓًﺎ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺴُﻨَّﺘِﻰ ﻭَﺳُﻨَّﺔِ ﺍﻟْﺨُﻠَﻔَﺎﺀِ ﺍﻟْﻤَﻬْﺪِﻳِّﻴﻦَ ﺍﻟﺮَّﺍﺷِﺪِﻳﻦَ ﺗَﻤَﺴَّﻜُﻮﺍ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﻋَﻀُّﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺑِﺎﻟﻨَّﻮَﺍﺟِﺬِ ﻭَﺇِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﻭَﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺕِ ﺍﻷُﻣُﻮﺭِ ﻓَﺈِﻥَّ ﻛُﻞَّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah BID’AH dan SETIAP BID’AH adalah KESESATAN ”.
(HR. At-Tirmidzi no. 2676. ia berkata : “hadits ini hasan shahih”).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ﺇِﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﺠَﺐَ ﺍﻟﺘَّﻮْﺑَﺔَ ﻋَﻦْ ﻛُﻞِّ ﺻَﺎﺣِﺐِ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺪَﻉْ ﺑِﺪْﻋَﺘَﻪُ

“Sungguh Allah menghalangi taubat dari setiap pelaku BID’AH (mengada-ada dalam perkara agama) sampai ia meninggalkan Bid’ahnya ”.
(HR. Ath-Thabarani dalam al-Ausath no. 4334. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 54).

QUBURIYYUN : “ Kamu ternyata adalah orang yang cukup berilmu saudaraku, tapi baiklah…dengarkan, bahwa sudah banyak kejadian, dan ini nyata, yaitu banyak orang yang datang ke kuburan ini kemudian bertawassul kepada penghuni kubur ini, lalu tidak lama kemudian permintaan dan do’anya terkabul dagangan sepi kemudian datang kekuburan ini dagangan jadi laris manis, ingin punya anak datang kesini akhirnya terkabul punya anak, ingin dapat jodoh pun banyak yang akhirya segera nikah setelah ziarah kesini, para caleg pun banyak yang berhasil setelah datang kesini, dan masih banyak lagi contohnya, ini benar-benar terjadi, sehingga semakin banyak orang yang mendatangi kuburan ini kemudian hajat dan do’a-do’a mereka banyak yang terkabul, seandainya tawassul seperti itu salah, lantas kenapa Allah mengabulkan permintaan mereka ? ”.

IKHWAN : “ Terkabulnya do’a dan permintaan-permintaan seperti itu adalah ujian dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk orang-orang tersebut, dan bukan berarti perbuatan mereka yang dikabulkan tersebut merupakan tolak ukur kebenaran, apalagi jika orang-orang menyangka ini semua karena sebab penghuni kubur ini yang memiliki keutamaan dan karamah, tidak seperti itu, itu adalah pemahaman yang keliru. yang perlu kamu ketahui juga, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala juga memberikan ujian kepada hamba-Nya dengan cara memudahkan kemaksiatan untuknya. Dan ini adalah suatu perkara yang terjadi pada ummat-ummat terdahulu dan juga pada ummat ini “.

QUBURIYYUN : “ Maksudnya ?? saya belum paham…?!”.

IKHWAN : “ Saya kasih contoh, salah satu ujian dari Allah dengan cara memberikan kemudahan dalam bermaksiat adalah seperti kisahnya Bani Isra’il yang melanggar aturan pada hari Sabtu (Lihat QS. Al-A’raf : 163). Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan Bani Isra’il untuk memancing ikan pada hari Sabtu, dan mereka tetap dalam kondisi seperti itu beberapa waktu lamanya. kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menguji mereka dengan adanya ikan-ikan besar pada hari Sabtu, ikan-ikan besar itu muncul dengan sangat banyak kepermukaan laut pada hari Sabtu, sedangkan dihari lainnya tidak mereka dapati. maka Bani Isra’il membuat tipu daya dan strategi. mereka kemudian meletakkan jaring dan.memasangnya pada hari Jum’at, lalu jika ikan-ikan itu muncul pada hari Sabtu pastilah ikan-ikan itu akan terperangkap dan mereka tidak akan bisa keluar dari jaring itu. dan bila hari Ahad tiba, maka mereka pergi mengambil jaring tersebut dan mendapatkan banyak ikan didalamnya. dengan tipu daya mereka akhirnya Allah meng-Adzab mereka dengan merubahnya menjadi kera.

Nah begitupun halnya dengan do’a-do’a mereka yang dikabulkan oleh Allah karena tawassulnya kepada orang yang sudah meninggal. Allah subhanahu wa ta’ala sengaja memberikan ujian kepada mereka dengan memberikan kemudahan dalam bermaksiat, hingga tiba akan waktunya datang adzab dari Allah berupa berbagai macam musibah atas diri mereka, ini nyata dan banyak terjadi…Wallahul musta’an ”.

QUBURIYYUN : “ Astaghfirullah…lantas bagaimana halnya dengan dalil-dalil yang menyebutkan tentang bolehnya tawassul kepada orang yang sudah meninggal itu..? ”.

IKHWAN : “ wahai saudaraku, sesungguhnya tawasul dalam islam itu ada yang sunnah dan ada yang bid’ah bahkan ada yang syirik, yang sunnah misalnya bertawasul dengan menyebut nama-nama Allah atau bertawasul dengan orang yang masih hidup. Misalnya kita minta kepada kedua orang tua kita yang masih hidup agar didoakan perjalanan kita supaya selamat sampai tujuan. Nah bentuk-bentuk tawasul seperti ini dibolehkan. Bukan bertawasul kepada orang yang sudah meninggal seperti yang kamu lakukan ini karena ini namanya syirik meminta kepada penghuni kubur. Adapun.mengenai dalil-dalil yang membolehkan tawasul itu menurut sepengetahuan saya bahwa tidak ada satupun dalil yang membolehkan bertawasul dengan orang yang sudah meninggal, adapun ada sebagian orang yang melakukan itu mereka biasanya tidak lepas dari sifat ghuluw (berlebih-lebihan/melampaui batas) kepada individu yang dianggap shalih dan itupun mereka para pelaku tawasul seperti ini biasanya banyak berdalil dengan qiyas, ra’yu (akal/logika) atau menggunakan hadits-hadits palsu atau haditsnya shahih tapi salah dalam pendalilan, ada juga dengan alasan anggapan ihtisan (anggapan baik). Baiklah saudaraku, untuk membahas dalil-dalil itu nanti kita cari waktu tersendiri untuk menjelaskannya karena itu butuh waktu yang luang dan panjang. Tapi intinya disini akan saya jelaskan secara ringkas saja, bahwa seluruh dalil yang dipakai oleh orang-orang yang membolehkan tawassul dengan orang yang telah mati itu ada dua kemungkinan :

1. Dalil itu dha’if (lemah) dan dalilnya maudhu’ (palsu) atau hadits dha’if dan palsu namun lafazdhnya sesuai kemauan mereka.

2. Dalil itu Shahih, tetapi difahami dengan keliru (salah dalam pendalilan atau hadits shahih yang maknanya sengaja dipelintir kesana kemari untuk melegalisasi atas perbuatan mereka yang rusak).

Atsar-atsar yang membolehkan Tawasul (meminta dikuburan) itu pada umumnya lemah bahkan palsu karena semuanya bertentangan dengan Al-Qur’an.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺭَﺑُّﻜُﻢُ ﺍﺩْﻋُﻮﻧِﻲ ﺃَﺳْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢْ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺴْﺘَﻜْﺒِﺮُﻭﻥَ ﻋَﻦْ
ﻋِﺒَﺎﺩَﺗِﻲ ﺳَﻴَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﺩَﺍﺧِﺮِﻳﻦَ

” Dan Tuhanmu berfirman : ” Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina “.
(QS. Al-Mu’min Ayat : 60).

” Wahai saudaraku Quburiyyun, kamu tahu hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang dikenal dengan hadits “Syaddur Rihal”…?? “.

” Hadits itu menjelaskan bahwa kita sebagai umatnya dilarang berpergian dalam rangka ibadah (safar) selain menuju ketiga mesjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid Al-Aqsha, dan Masjid Nabawi “.

Dengarlah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ﻟَﺎ ﺗُﺸَﺪُّ ﺍﻟﺮِّﺣَﺎﻝُ ﺇِﻟَّﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺛَﻠَﺎﺛَﺔِ ﻣَﺴَﺎﺟِﺪَ : ﻣَﺴْﺠِﺪِ ﺍﻟْﺤَﺮَﺍﻡِ، ﻭَﻣَﺴْﺠِﺪِ ﺍﻟْﺄَﻗْﺼَﻰ،ﻭَﻣَﺴْﺠِﺪِﻱ

“ Tidaklah diikat pelana unta (tidak dilakukan perjalanan jauh safar) kecuali menuju tiga masjid : Masjidil Haram, Masjid Al-Aqsha, dan masjidku (Masjid Nabawi) ”.
(HR. Al-Bukhari, no. 1197, HR. Muslim dalam shahihnya no. 1397 dari Abu Sa’id Al Khudri).

Maksud bahwa ” Mengikat pelana unta ” sama dengan ” safar “.
Dan Imam ibnu Hajar Al-Asqalany Asy-Syafi’i rahimahullah berkata : “ Yang dimaksud dengan ( ﻭَﻻَ ﺗُﺸَﺪُّ ﺍﻟﺮِّﺣَﺎﻝُ ) adalah larangan bersafar menuju selainnya (tiga masjid itu) “.

Juga Ath-Thibi rahimahullah menjelaskan :

“ Larangan dengan gaya bahasa bentuk penafian (negasi) seperti ini lebih tegas dari pada hanya kata larangan semata, seolah-olah dikatakan sangat tidak pantas melakukan ziarah ke selain tempat-tempat ini“.
(Lihat : Fathul Bari, 3/64).

Artinya kita tidak boleh safar ke tempat tertentu selain ketiga mesjid itu, padahal mesjid sudah jelas-jelas tempat ibadah tapi kita tidak diperbolehkan, apalagi mengunjungi kuburan yang jelas tempat ajang kemusyrikan…!!

Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya penghuni kubur ini sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi. semua amalan-amalanya telah terputus, kecuali hanya tiga perkara yaitu anak shalih yang mendo’akan kedua orang tuanya, ilmu yang bermanfaat, dan amal Jariyyah.

Seharusnya kamu lah yang mendo’akannya agar dia selamatdari adzab kubur dan api neraka, bukannya kamu yang malah meminta dia untuk mendo’akan kamu, terbalik itu …!!

Penghuni kubur justru sangat membutuhkan do’a dari kita yang masih hidup, karena kita tidak tahu apa yang dia alami didalam kubur ini. Sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menganjurkan umatnya jika kita memasuki kuburan agar kita mendo’akannya, inilah ziarah kubur yang disyari’atkan dan yang Islami.

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“ Wahai Rasulullah apakah yang harus aku ucapkan kepada mereka (kaum Muslimin, bila aku menziarahi mereka) ? ”. – Beliau menjawab : “ Katakanlah :

ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟﺪِّﻳَﺎﺭِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﺇِﻥْ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻜُﻢْ ﻻَﺣِﻘُﻮْﻥَ ﻧَﺴْﺄَﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﻨَﺎ ﻭَﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟْﻌَﺎﻓِﻴَﺔَ .

” Semoga dicurahkan kesejahteraan atas kalian wahai ahli kubur dari kaum mukminin dan muslimin. Dan mudah-mudahan Allah memberikan rahmat kepada orang yang telah mendahului kami dan kepada orang yang masih hidup dari antara kami dan insya Allah kami akan menyusul kalian “.
(HR. Ahmad VI/221, Muslim no. 974 dan an-Nasa-i IV/93, dan lafazdh ini milik Muslim).

Buraidah radhiallahu ‘anhu berkata :

“ Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada mereka (para sahabat) apabila mereka memasuki pemakaman (kaum muslimin) hendaknya mengucapkan :

ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟﺪِّﻳَﺎﺭِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﺇِﻥْ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻜُﻢْ ﻻَﺣِﻘُﻮْﻥَ ﻧَﺴْﺄَﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﻨَﺎ ﻭَﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟْﻌَﺎﻓِﻴَﺔَ .

” Mudah-mudahan dicurahkan kesejahteraan atas kalian, wahai ahli kubur dari kaum mukminin dan muslimin. Dan insya Allah kami akan menyusul kalian. Kami mohon kepada Allah agar mengampuni kami dan kalian “.
(HR. Al-Imam Muslim no.975, an-Nasa-i IV/94, ibnu Majah no.1547, Ahmad V/353, 359 dan 360. Lafazdh hadits ini adalah lafazdh Ibnu Majah, shahih).

Dari ‘Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :

“ Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila selesai menguburkan mayat, beliau berdiri lalu bersabda : “ Mohonkanlah ampunan untuk saudaramu dan mintalah keteguhan,sesungguhnya sekarang dia sedang ditanya ”.
(HR. Abu Dawud dan Hakim).

Selain itu bahwa penghuni kubur ini sudah tidak bisa mendengar perkataan apa-apa dari manusia yang hidup, sebagai mana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺴْﺘَﻮِﻱ ﺍﻟْﺄَﺣْﻴَﺎﺀُ ﻭَﻟَﺎ ﺍﻟْﺄَﻣْﻮَﺍﺕُ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳُﺴْﻤِﻊُ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻧْﺖَ ﺑِﻤُﺴْﻤِﻊٍ ﻣَﻦْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻘُﺒُﻮﺭِ

“ Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur dapat mendengar “.
(QS. Al-Faathir : 22).

Dan andaikan mereka penghuni kubur bisa mendengar seruan dari orang yang hidup, merekapun tidak sanggup berbuat apa-apa…Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

ﺗَﺪْﻋُﻮﻫُﻢْ ﻻَ ﻳَﺴْﻤَﻌُﻮﺍْ ﺩُﻋَﺂﺀَﻛُﻢْ ﻭَﻟَﻮْ ﺳَﻤِﻌُﻮﺍْ ﻣَﺎ ﺍﺳْﺘَﺠَﺎﺑُﻮﺍْ ﻟَﻜُﻢْ ﻭَﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻳَﻜْﻔُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺸِﺮْﻛِـﻜُﻢْ ﻭَﻻَ ﻳُﻨَﺒّﺌُﻚَ ﻣِﺜْﻞُ ﺧَﺒِﻴﺮٍ

” In tad’uuhum laayasma’uu du’aa-akum walaw sami’uu maaistajaabuu lakum wayawma lqiyaamati yakfuruuna bisyirkikum walaayunabbi-uka mitslu khabiir “.

” Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu ; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh yang maha mengetahui “.
(QS. Al–Fathir : 14).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

ﺃَﻣَّﻦ ﻳُﺠِﻴﺐُ ﺍﻟْﻤُﻀْﻄَﺮَّ ﺇِﺫَﺍ ﺩَﻋَﺎﻩُ ﻭَﻳَﻜْﺸِﻒُ ﺍﻟﺴُّﻮﺀَ ﻭَﻳَﺠْﻌَﻠُﻜُﻢْ ﺧُﻠَﻔَﺎﺀ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺃَﺇِﻟَﻪٌ ﻣَّﻊَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﻠِﻴﻠًﺎ ﻣَّﺎ ﺗَﺬَﻛَّﺮُﻭﻥَ

“ Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan Kamu (manusia) sebagai khalifah dibumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain) ? amat sedikitlah kamu mengingati (Nya) ”.
(QS. An-Naml : 62).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

ﺇِﻧّﻚَ ﻻَ ﺗُﺴْﻤِﻊُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺗَﻰَ ﻭَﻻَ ﺗُﺴْﻤِﻊُ ﺍﻟﺼّﻢّ ﺍﻟﺪّﻋَﺂﺀَ ﺇِﺫَﺍ ﻭَﻟّﻮْﺍْ ﻣُﺪْﺑِﺮِﻳﻦ

” Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang “.
(QS. An-Naml ayat : 80).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

ﻭَﻻَ ﺗَﺪْﻉُ ﻣِﻦ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻣَﺎ ﻻَ ﻳَﻨﻔَﻌُﻚَ ﻭَﻻَ ﻳَﻀُﺮُّﻙَ ﻓَﺈِﻥ ﻓَﻌَﻠْﺖَ ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﺇِﺫًﺍ ﻣِّﻦَ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦ

” Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu) maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zdhalim “.
(QS. Yunus : 106).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺿَﻞُّ ﻣِﻤَّﻦْ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﻦْ ﻟَﺎ ﻳَﺴْﺘَﺠِﻴﺐُ ﻟَﻪُ ﺇِﻟَﻰٰ
ﻳَﻮْﻡِ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻭَﻫُﻢْ ﻋَﻦْ ﺩُﻋَﺎﺋِﻬِﻢْ ﻏَﺎﻓِﻠُﻮﻥَ

” Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sesembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (do’anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka “.
(QS. Al-Ahqaaf : 5).

Adapun mayit yang mendengar suara langkah orang yang mengantarnya (ketika berjalan meninggalkan kuburnya) setelah dia dikubur, maka itu adalah pendengaran khusus yang ditetapkan oleh Nash (dalil), dan tidak lebih dari itu (tidak lebih dari sekedar mendengar suara terompah mereka), karena hal itu diperkecualikan dari dalil-dalil yang umum yang menunjukkan bahwa orang yang meninggal tidak bisa mendengar (suara orang yang masih hidup), sebagaimana yang telah lalu.

Dan sekali lagi janganlah kita terjebak dengan perbuatan yang tidak pernah disyari’atkan dalam agama, apalagi memohon do’a ke kuburan seperti ini, karena kalau tidak kita akan tergolong orang yang telah berbuat kesyirikan…na’uzubillahi minzalik…mari kita bertaubat dan hindari perbuatan seperti ini. Dan ancaman dosa syirik ini telah banyak disebutkan dalam Al-Qur’an  diantarannya, Allah subhanahu wa ta’ala :

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻻ ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺃَﻥْ ﻳُﺸْﺮَﻙَ ﺑِﻪِ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮُ ﻣَﺎ ﺩُﻭﻥَ ﺫَﻟِﻚَ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﺸْﺮِﻙْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻘَﺪِ ﺍﻓْﺘَﺮَﻯ ﺇِﺛْﻤًﺎ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ ‏( ٤٨‏)

” Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) jika Dia (Allah) dipersekutukan dengan yang lain, dan Dia (Allah) mengampuni segala dosa selain (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa besar “.
(QS. An Nisaa’ : 48).

Quburiyyun : ” %&$#@+:?/#….Glekk !! ”
__________________

Semoga simulasi dialog dapat diambil pelajaran dan manfaatnya. Hanya pada Allah subhanahu wa ta’ala kita memohon hidayah dan pentunjukNya.

Di nukil dari beberapa sumber.

Diarsipkan
https://arie49.wordpress.com
http://ariedoank49.blogspot.com

Imam Asy-Syafi’i Bertabarruk dengan Kubur Imam Abu Hanifah

Al-Khathib Al-Baghdadi rahimahulah meriwayatkan :

أخبرنا القاضي أبو عبد الله الحسين بن علي بن محمد الصيمري قال أنبأنا عمر بن إبراهيم المقرئ قال نبأنا مكرم بن أحمد قال نبأنا عمر بن إسحاق بن إبراهيم قال نبأنا علي بن ميمون قال سمعت الشافعي يقول اني لأتبرك بأبي حنيفة وأجيء إلى قبره في كل يوم يعني زائرا فإذا عرضت لي حاجة صليت ركعتين وجئت إلى قبره وسألت الله تعالى الحاجة عنده فما تبعد عني حتى تقضى

Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Qadli Abu ‘Abdillah Al-Husain bin ‘Ali bin Muhammad Ash-Shimari, ia berkata : Telah memberitakan kepada kamu ‘Umar bin Ibrahim Al-Muqri’, ia berkata : Telah memberitakan kepada kami Mukarram bin Ahmad, ia berkata : Telah memberitakan kepada kami ‘Umar bin Ishaq bin Ibrahim, ia berkata : Telah memberitakan kepada kami ‘Ali bin Maimun, ia berkata : Aku mendengar Asy-Syafi’i berkata : “Sesungguhnya aku akan ber-tabarruk dengan Abu Hanifah. Aku akan datang ke kuburnya setiap hari – yaitu untuk berziarah – . Apabila aku mempunyai satu hajat, aku pun shalat dua raka’at lalu datang ke kuburnya untuk berdo’a kepada Allah ta’ala tentang hajat tersebut disisinya. Maka tidak lama setelah itu, hajatku pun terpenuhi”.
(Taariikh Baghdaad 1/123).

Kisah ini seringkali dibawakan untuk melegalkan amalan tabarruk kepada orang yang telah meninggal. Namun kisah ini tidak shahih. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata :

فهذه رواية ضعيفة بل باطلة فإن عمر بن إسحاق بن إبراهيم غير معروف وليس له ذكر في شيء من كتب الرجال , و يحتمل أن يكون هو عمرو – بفتح العين – بن إسحاق بن إبراهيم بن حميد بن السكن أبو محمد التونسى و قد ترجمه الخطيب ( 12 / 226 ) . و ذكر أنه بخاري قدم بغداد حاجا سنة ( 341 ) و لم يذكر فيه جرحا و لا تعديلا فهو مجهول الحال , و يبعد أن يكون هو هذا إذ أن وفاة شيخه علي بن ميمون سنة ( 247 ) على أكثر الأقوال , فبين وفاتيهما نحو مائة سنة فيبعد أن يكون قد أدركه .

“Ini adalah riwayat yang lemah, bahkan bathil. ‘Umar bin Ishaq bin Ibrahim tidak dikenal, dan tidak disebutkan satupun dalam kitab-kitab rijaal. Kemungkinan ia adalah ‘Amr – dengan fathah pada huruf ‘ain – bin Ishaq bin Ibrahim bin Humaid bin As-Sakan Abu Muhammad At-Tunisi. Al-Khathib telah menyebutkan biografinya (dalamAt-Tariikh 12/226). Disebutkan bahwa ia orang Bukhara yang tiba di Baghdad pada perjalanan hajinya tahun 341 H. Tidak disebutkan padanya jarh maupun ta’dil, sehingga ia seorang yang berstatus majhuul haal. Namun kemungkinan ini jauh saat diketahui gurunya yang bernama ‘Ali bin Maimun wafat pada tahun 247 H menurut mayoritas pendapat. Maka diperoleh penjelasan kematian keduanya berjarak sekitar 100 tahun sehingga jauh kemungkinan ia bertemu dengannya (‘Ali bin Maimun)”.
(Silsilah Ad-Dla’iifah, 1/78).

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

وهذا كذلك معلوم كذبه بالاضطرار عند من له معرفة بالنقل، فإن الشافعي لما قدم بغداد لم يكن ببغداد قبر ينتاب للدعاء عنده البتة، بل ولم يكن هذا على عهد الشافعي معروفا، وقد رأى الشافعي بالحجاز واليمن والشام والعراق ومصر من قبور الأنبياء والصحابة والتابعين، من كان أصحابها عنده وعند المسلمين، أفضل من أبي حنيفة، وأمثاله من العلماء. فما باله لم يتوخ الدعاء إلا عنده. ثم أصحاب أبي حنيفة الذين أدركوه، مثل أبي يوسف ومحمد وزفر والحسن بن زياد وطبقتهم، لم يكونوا يتحرون الدعاء، لا عند قبر أبي حنيفة ولا غيره.

“Dan hal ini demikian juga telah diketahui sebagai kebohongan secara pasti yang dilakukan oleh orang yang mengetahui seluk-beluk penukilan, karena Asy-Syafi’i saat tiba di Baghdad, tidak ada dikota tersebut kuburan yang dijadikan tempat khusus untuk berdo’a. Bahkan ini tidak terjadi dimasa Asy-Syafi’i. Asy-Syafi’i telah melihat kuburan para Nabi, para shahabat, dan tabi’in di Hijaaz, Yaman, Syam, dan ‘Iraq, yang mereka itu menurutnya (Asy-Syafi’i) dan kaum muslimin semuanya lebih utama dibandingkan Abu Hanifah dan yang semisalnya dari kalangan ulama. Lantas, bagaimana mungkin ia hanya menyengaja berdo’a disisi Abu Hanifah saja ? Kemudian para shahabat Abu Hanifah yang bertemu (semasa) dengannya seperti Abu Yusuf, Muhammad (bin Al-Hasan), Zufar, Al-Hasan bin Ziyad, dan yang setingkat dengan mereka tidaklah bermaksud berdo’a disisi kubur Abu Hanifah ataupun yang lainnya”.
(Iqtidlaa’ Ash-Shiraathil-Mustaqiim, 2/206).

Terkait dengan bahasan ini, Ibnul-Qayyim rahimahullah memberikan penjelasan yang cukup bagus :

فلو كان الدعاء عند القبور، والصلاة عندها، والتبرك بها فضيلة أو سنة أو مباحا، لفعل ذلك المهاجرين والأصار، وسنّوا ذلك لمن بعدهم، ولكن كانوا أعلم بالله ورسوله ودينه من الخلوف التي خلفت بعدهم، وكذلك التابعون لهم بإحسان راحوا على هذه السبيل، وقد كان عندهم من قبور أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم بالأمصار عدد كثير، وهم متوافرون، فما منهم من استغاث عند قبر صاحب، ولا دعاه، ولا دعا به، ولا دعا عنده، ولا استشقى به، ولا استسقى به، ولا استنصر به، ومن المعلوم أن مثل هذا مما تتوفّر الهمم على نقله، بل على نقل ما دونه.

“Seandainya berdo’a disisi kuburan, shalat disisinya, dan mencari berkah dengannya adalah suatu keutamaan atau sesuatu yang disunnahkan atau diperbolehkan; tentunya hal itu pernah dilakukan oleh kaum Muhajirin dan Anshar, dan mencontohkannya kepada generasi setelah mereka. Akan tetapi mereka adalah orang yang lebih mengetahui tentang Allah, Rasul-Nya, dan agama-Nya daripada orang – orang yang datang belakangan setelah mereka. Seperti itulah, orang – orang yang mengikuti mereka dengan baik (tabi’in) menempuh jalan ini, padahal disekitar mereka banyak terdapat makam para shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang berada diberbagai negeri dan jumlah mereka (tabi’in) pun cukup banyak. Namun, tidak ada seorang pun yang meminta pertolongan (istighatsah) disisi makam seorang shahabat, tidak juga berdo’a kepadanya, berdo’a dengan perantaraannya, berdo’a disisiya, meminta kesembuhan, meminta hujan, dan meminta pertolongan dengannya. Sebagaimana diketahui bahwa hal seperti ini termasuk sesuatu yang memiliki perhatian penuh untuk diriwayatkan, bahkan meriwayatkan hal yang lebih rendah daripada itu”.
(Ighaatsatul-Lahfaan, 1/204 dengan sedikit perubahan – dinukil melalui perantaraan At-Tabarruk, Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu oleh Dr. Naashir Al-Judai’, hal. 405).

Demikian risalah kecil ini dituliskan, semoga ada manfaatnya

Sources : Silsilah Adl-Dha’ifah oleh Al-Albani, Maktabah Al-Ma’arif, Cet. 1/1412, Riyadl; Tarikh Baghdad oleh Al-Khathib Al-Baghdadi, Darul-Kutub, Beirut;Iqtidha’ Ash-Shirathil-Mustaqim oleh Ibnu Taimiyyah, tahqiq : Dr. Nashir Al-‘Aql, Darul-‘Alamil-Kutub, Cet. 7/1419, Beirut; At-Tabarruk, Anwa’uhu wa Ahkamuhu oleh Dr. Nashir Al-Judai’, Maktabah Ar-Rusyd, Cet. Thn. 1411, Riyadh; dan Zahid Al-Kautsari wa Arauhul-I’tiqadiyyah, ‘Ardlun wa Naqdun oleh ‘Ali bin ‘Abdillah Al-Fahiid, hal. 242-244, Universitas Ummul-Qurra’ (Thesis Magister/S2), Makkah.

Sumber:
http://abuljauzaa.blogspot.com

Diarsipkan:
https://arie49.wordpress.com
http://ariedoank49.blogspot.com

Derajat Hadits Do’a Sebelum Makan: “Allahumma Bariklana…

Dikeluarkan oleh Ath Thabrani dalam Ad Du’a [888],

حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْحَاقَ التُّسْتَرِيُّ، وَمُحَمَّدُ بْنُ أَبِي زُرْعَةَ الدِّمَشْقِيُّ، قَالَا: ثنا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى بْنِ سُمَيْعٍ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي الزُّعَيْزِعَةِ، حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ فِي الطَّعَامِ إِذَا قُرِّبَ إِلَيْهِ: «اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، بِسْمِ اللَّهِ»

“Al Husain bin Ishaq At Tustari dan Muhammad bin Abi Zur’ah Ad Dimasyqi, mereka berdua berkata, Hisyam bin ‘Ammarmengatakan kepadaku, Muhammad bin Isa bin Sumay’imengatakan kepadaku, Muhammad bin Abi Az Zu’aizi’ahmengatakan, ‘Amr bin Syu’aib mengatakan kepadaku, dari ayahnya (Syu’aib bin Muhammad As Sahmi), dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam:

Bahwa beliau ketika hendak makan dan hidangan didekatkan kepada beliau, beliau berdo’a:

“Allaahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa waqinaa ‘adzaabannaar”.

Artinya: “Ya Allah berkahilah makanan yang telah engkau karuniakan kepada kami, dan jauhkanlah kami dari api neraka”.

Juga dikeluarkan oleh Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah[457] dengan sanad yang sama.

Derajat hadits

Riwayat ini MUNKAR karena terdapat Muhammad bin Abi Az Zu’aizi’ah yang statusnya MUNKARUL HADITS.

Imam Al Bukhari mengatakan, “ia sangat munkarul hadits” (At Tarikh Al Kabir, 244). Abu Hatim mengatakan, “ia sangat munkarul hadits“. Beliau juga mengatakan: “jangan menyibukkan diri dengannya” (dinukil dari Lisanul Mizan, 7/137).Al Jurjani mengatakan, “ia sangat munkarul hadits, tidak ditulis haditsnya” (Al Kamil fid Dhu’afa, 7/426).Ibnu Hibban bahkan mengatakan: “ia termasuk diantara para Dajjal, ia meriwayatkan hadits – hadits palsu hingga akhir hayatnya” (dinukil dari Lisanul Mizan, 7/137).

Terdapat jalan lain untuk lafal do’a diatas. Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al Muwatha [3447], Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf [24512], Al Baihaqi dalam Al Asma’ wash Shifat [370],

عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ؛ أَنَّهُ كَانَ لاَ يُؤْتَى أَبَداً بِطَعَامٍ أَوْ شَرَابٍ، حَتَّى الدَّوَاءُ، فَيَطْعَمَهُ أَوْ يَشْرَبَهُ حَتَّى يَقُولَ: الْحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَانَا. وَأَطْعَمَنَا وَسَقَانَا. وَنَعَّمَنَا. اللهُ أَكْبَرُ. اللَّهُمَّ أَلْفَتْنَا نِعْمَتُكَ بِكُلِّ شَرٍّ. فَأَصْبَحْنَا مِنْهَا وَأَمْسَيْنَا بِكُلِّ خَيْرٍ. نَسْأَلُكَ تَمَامَهَا وَشُكْرَهَا. لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ. وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ. إِلَهَ الصَّالِحِينَ. وَرَبَّ الْعَالَمِينَ. الْحَمْدُ للهِ. وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. مَا شَاءَ اللهُ، وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا. وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya (‘Urwah bin Zubair bin Al ‘Awwam) bahwasanya tidaklah ia dihidangkan makanan atau minuman kecuali pasti ia berdo’a dengan beberapa do’a. Ia makan dan minum sesudah berdo’a:

“Alhamdulillaahilladzii hadaanaa wa ath’amnaa wa saqoona wa na’amnaa, Allaahu akbar. Allaahumma alfatnaa ni’matuka bikulli syarrin. fa ash-bahnaa minhaa wa amsaynaa bikulli syarrin. nas-aluka tamaamaha wa syukrohaa. laa khoyro illaa khoyruka. walaa ilaaha ghoyruka. ilaahas shoolihiin. wa robbal ‘alamiin. alhamdulillaah wa laa ilaaha illallah. waa syaa-allahu walaa quwwata illaa billaah. Allaahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa waqinaa ‘adzaabannaar”.

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita hidayah dan telah memberi kita makan dan telah memberi kita minum dan telah memberi kita nikmat. Allah Maha Besar. Ya Allah jauhkanlah nikmatMu ini dari segala keburukan. dan jadikanlah kami dipagi dan sore hari senantiasa dalam kebaikan. kami memohon nikmatMu yang sempurna dan kami memohon hidayah agar bisa bersyukur. tidak ada kebaikan kecuali dariMu. tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain diri-Mu, engkau Tuhannya orang – orang shalih, dan Tuhannya semesta alam. Segala puji bagi Allah dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Dan segala sesuatu atas kehendak Allah, dan tidak ada daya upaya melainkan atas izin Allah. Ya Allah berkahilah makanan yang telah engkau karuniakan kepada kami, dan jauhkanlah kami dari api neraka”.

Riwayat ini shahih namun do’a yang ada dalam riwayat ini tidak disandarkan kepada Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, melainkan kepada ‘Urwah bin Az Zubair. Dan ‘Urwah bin Az Zubair bin Al ‘Awwam adalah seorang tabi’in thabaqah ke tiga. Sedangkan perbuatan tabi’in bukanlah dalil.

Pada jalan yang lain, dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya [1313], Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman [5640], Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf [24509], Abu Nu’aim dalamHilyatul Auliya [1/70] semuanya dari jalan Sa’id Al Jurairiy,

، حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الْجُرَيْرِيُّ، عَنْ أَبِي الْوَرْدِ، عَنِ ابْنِ أَعْبُدَ، قَالَ: قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ: «يَا ابْنَ أَعْبُدَ هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ الطَّعَامِ؟» قَالَ: قُلْتُ: وَمَا حَقُّهُ يَا ابْنَ أَبِي طَالِبٍ؟ قَالَ: «تَقُولُ بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا» ، قَالَ: وَتَدْرِي مَا شُكْرُهُ إِذَا فَرَغْتَ؟ قَالَ: قُلْتُ: وَمَا شُكْرُهُ؟ قَالَ: «تَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا»

“.. Sa’id Al Jurairiy mengatakan kepadaku, dari Abul Warad, dari Ibnu A’bud, ia berkata: Ali bin Abi Thalib bertanya kepadaku: ‘wahai Ibnu A’bud, apakah engkau tahu apakah hak makanan ?’. Aku pun berkata: ‘apa itu wahai Ibnu Abi Thalib ?’. Ia menjawab: ‘hendaknya ia berdo’a: Allaahumma baariklanaa fiimaa rozaqtanaa‘. Dan apakah engkau tahu apa bentuk syukur ketika selesai makan ?”. Aku berkata: ‘apa itu ?’. Beliau menjawab: ‘engkau berdo’a:”Alhamdulillahilladzii ath’amnaa wa saqoonaa‘”.

Riwayat ini juga dha’if (lemah) karena Ibnu A’bud majhul.

Ibnu Hajar mengatakan: “Ali bin A’bud, terkadang ia tidak disebut namanya dalam sanad, ia majhul”. (Taqribut Tahdzib, 4689).Ali bin Al Madini mengatakan: “ia tidak dikenal” (dinukil dariTahdzibul Kamal, 4025).

Dan riwayat ini juga tidak disandarkan kepada NabiShallallahu’alaihi wa sallam melainkan sahabat Ali bin Abi Thalibradhiallahu’anhu. Selain itu, lafadz do’a yang ada disini hanya “Allaahumma baariklanaa fiimaa rozaqtanaa” tanpa tambahan “waqinaa ‘adzaabannaar“.

Kesimpulan

Hadits do’a sebelum makan “Allaahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa waqinaa ‘adzaabannaar” adalah hadits yang munkar. Ia bukanlah do’a yang dituntunkan dan diajarkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Yang tepat ia berasal dariatsar Urwah bin Zubair bin Al ‘Awwam rahimahullah.

Do’a sebelum makan yang shahih dituntunkan dan diajarkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam adalah ucapan “bismillah” saja. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim dari sahabat ‘Amr bin Abi Salamah Radhiallahu ‘anhu:

كنتُ غلامًا في حجرِ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فكانت يدي تطيشُ في الصَّحفةِ . فقال لي رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : يا غلامُ إذا أكلتَ فقلْ : بسمِ اللهِ وكُلْ بيمينِك وكُلْ ممَّا يليك

“Dahulu ketika aku masih kecil pernah berada dirumah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Ketika itu kedua tanganku menyambangi piring – piring yang ada. Maka RasulullahShallallahu’alaihi wa sallam bersabda kepadaku: ‘wahai bocah, jika engkau hendak makan, ucapkanlah: bismillah. Dan makanlah dengan tangan kanan serta makanlah makanan yang terdekat‘”.

Wallahu a’lam.

Sumber:
https://kangaswad.wordpress.com/2016

Diarsipkan:
https://arie49.wordpress.com
http://ariedoank49.blogspot.com

BEBERAPA CONTOH HADITS PALSU DAN LEMAH DALAM KITAB ILYA’ ULU’MIDDIN.

Catatan untuk Kitab Ihya’ Ulumiddin.

Ihya’ Ulûmiddîn, sebuah nama kitab yang sangat tenar ditengah kaum Muslimin, dan begitu terkenal dipesantren-pesantren tradisional, bahkan dikenal bukan hanya di Indonesia tapi diseluruh dunia.

Kalau ditilik dari makna harfiyah Ihya’ Ulûmiddîn, kita dapati sebuah makna yang sangat agung. Betapa tidak, Ihya’ Ulûmiddîn yang disematkan oleh penyusun kitab ini sebagai judul karya tulisnya itu bermakna menghidupkan ilmu-ilmu agama. Keagungan makna ini tidak diingkari oleh siapapun yang memiliki iman dalam hatinya. Karena, dengan ilmu-ilmu agama yang diaplikasikan dalam kehidupan nyata, seseorang akan bisa selamat dari siksa dan murka Allâh Azza wa Jalla serta bisa masuk ke surga-Nya yang penuh kenikmatan abadi.

Namun apakah semua kandungan kitab Ihya’ Ulumiddin itu benar ?

Dalam peribahasa kita, ada ungkapan “Tidak ada gading yang tak retak”. Para Ulama juga telah menegaskan bahwa Allâh Azza wa Jalla tidak menetapkan keselamatan dari segala bentuk kesalahan kecuali untuk nabi-Nya dan tidak memberikan jaminan ‘bebas dari kesalahan’ untuk sebuah kitab kecuali untuk kitab-Nya, Al-Qur’ân. Kita juga tidak lupa dengan perkataan Imam Mâlik rahimahullah : “Semua perkataan orang bisa diterima atau ditolak kecuali perkataan penghuni kuburan ini (sambil memberi isyarat ke arah makam Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam )”.

Ini menuntut kita untuk memiliki sifat kritis dan lapang dada. Sifat kritis untuk menyaring semua info yang masuk ke kita dan sifat lapang dada untuk menerima segala bentuk kritikan ilmiah yang sampai ke kita.

Kitab yang sangat masyhur ini, ternyata tidak luput dari kesalahan, bahkan kesalahan fatal, karena terdapat kesalahan dalam masalah aqidah. Mungkin ada pertanyaan, siapakah kalian sehingga berani menyalahkan kitab tersohor ini beserta penulisnya yang sangat ternama itu ? Tentu, jawaban kami, bukan kami yang menyalahkan. Namun para Ulama Islam yang telah menjelaskan sisi-sisi kekeliruan dan kesalahannya, berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’ân dan Sunnah yang mereka kuasai. Itulah pesan yang ingin kami sampaikan agar umat mengetahui kesalahan-kesalahan tersebut lalu meninggalkannya, bukan untuk merendahkan apalagi mencela penulisnya. ‘Iyâdzan billâh.

Diantara kesalahan itu, ada yang berawal dari kesalahan dalil, karena ternyata yang menjadi dalilnya adalah hadits maudhû’ (hadits palsu), seperti hadits berikut :

الْحَدِيْثُ فِي الْمَسْجِدِ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ الْبَهَائِمُ الْحَشِيْشَ

“Percakapan dalam masjid akan memakan/menghapus (pahala) kebaikan seperti binatang ternak yang memakan rumput”.
(Ihyâ’ Ulûmiddîn, 1/152, cet. Darul Ma’rifah, Beirut)

Keterangan : hadits ini dihukumi oleh Imam Al-‘Irâqi rahimahullah, As-Subki rahimahullah dan Syaikh Al-Albâni rahimahullah sebagai hadits palsu yang tidak ada asalnya dalam kitab-kitab hadits.
(Lihat Silsilatul Ahâdîtsidh Dha’îfah wal Maudhû’ah 1/60)

Juga hadits :

قَلِيْلُ التَّوْفِيْقِ خَيْرٌ مِنَ كَثِيْرِ الْعَقْلِ

“Taufik yang sedikit lebih baik dari ilmu yang banyak. (Ihyâ’ Ulûmiddîn, 1/31)

Hadits ini juga dihukumi oleh para ulama diatas sebagai sebagai hadits palsu yang tidak ada asalnya. (Thabaqâtusy Syâfi’iyyatil Kubrâ 6/287 dan Difâ’un ‘anil Hadîtsin Nabawi hlm. 46).

Ada sebagian orang mengatakan, “Meskipun maudhû’ (palsu) atau dha’îf, bukankah itu tetap merupakan sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Ucapan seperti ini menunjukkan orang yang melontarkannya belum memahami ilmu mustholah hadits dan belum menyadari bahaya dan ancaman besar akibat membuat atau ikut menyebarkan hadits palsu. Selain itu, kalau para ulama ahli hadits sudah menghukumi sebuah hadits sebagai hadits yang maudhû’ itu artinya berdasarkan penelitian mereka “hadits” itu bukan sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak boleh dinisbatkan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sehingga tidak bisa dijadikan sebagai landasan dalam beramal. Barangsiapa berani menisbatkan hadits maudhû’ (palsu) kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti dia telah berdusta atas nama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan terkena ancaman Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Jalan mewujudkan penghambaan diri kepada Allâh Azza wa Jalla hendaknya dengan mencukupkan diri dengan hadits yang shahîh dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Itulah jalan terbaik, Sebagaimana perkataan Imam Nawawi rahimahullah dalam mukaddimah Riyâdhus Shâlihîn. Setelah memaparkan tujuan penciptaan manusia, beliau rahimahullah mengatakan :

وأَصْوَبُ طريقٍ لهُ في ذَلِكَ ، وَأَرشَدُ مَا يَسْلُكُهُ مِنَ المسَالِكِ ، التَّأَدُّبُ بمَا صَحَّ عَنْ نَبِيِّنَا سَيِّدِ الأَوَّلينَ والآخرينَ ، وَأَكْرَمِ السَّابقينَ والَّلاحِقينَ

“Jalan yang paling benar dan terbaik bagi seorang mukallaf dalam beribadah, suluk terbaik yang dia lakukan yaitu beradab atau bertingkah laku dengan kandungan (riwayat-riwayat) yang shahîh dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ), sayyid orang terdahulu dan yang terakhir, manusia termulia pada zaman dahulu dan yang akan datang”.

Akhirnya, kami berdo’a, semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa membimbing kita untuk menempuh jalan yang diridhai dan dicintai-Nya. Amin

BEBERAPA CONTOH HADITS PALSU DAN LEMAH DALAM KITAB IHYA ULUMIDDIN.

Oleh Ustadz Abdullah bin Taslim Al-Buthoni, MA

1. Hadits :

الْحَدِيْثُ فِي الْمَسْجِدِ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ الْبَهَائِمُ الْحَشِيْشَ

“Percakapan dalam masjid akan memakan/menghapus (pahala) kebaikan seperti binatang ternak yang memakan rumput”.

Keterangan : hadits ini dihukumi oleh Imam Al-‘Irâqi rahimahullah, As-Subki rahimahullah dan Syaikh Al-Albâni rahimaullah sebagai hadits palsu yang tidak ada asalnya dalam kitab-kitab hadits.

2. Hadits :

قَلِيْلُ التَّوْفِيْقِ خَيْرٌ مِنَ كَثِيْرِ الْعَقْلِ

“Taufik yang sedikit lebih baik dari ilmu yang banyak”.

Hadits ini juga dihukumi oleh para ulama diatas sebagai sebagai hadits palsu yang tidak ada asalnya [4] .

3. Hadits :

بُنِىَ اْلدِّيْنُ عَلَى النَّظَافَةِ

“Agama Islam dibangun diatas kebersihan”.

Hadits ini adalah hadits yang palsu, karena pada sanadnya ada perawi yang bernama ‘Umar bin Shubh al-Khurâsâni. Ibnu Hajar rahimahullah berkata tentangnya : “Dia adalah perawi yang matruk (ditinggalkan riwayatnya karena sangat lemah), bahkan (Imam Ishâq) bin Rahuyah mendustakannya”.

4. Hadits :

إِنَّ الْعَالِمَ يُعَذَّبُ عَذَابًا يَطِيْفُ بِهِ أَهْلُ النَّارِ

“Sesungguhnya orang yang berilmu akan disiksa (dalam neraka) dengan siksaan yang akan membuat sempit (susah) penduduk neraka”.

Hadits ini dihukumi oleh Imam As-Subki rahimahullah sebagai hadits yang tidak ada asalnya.

5. Hadits :

شِرَارُ الْعُلَمَاءِ الَّذِيْنَ يَأْتُوْنَ الْأُمَرَاءَ وَخِيَارُ الْأُمَرَاءِ الَّذِيْنَ يَأْتُوْنَ الْعُلَمَاءَ

“Seburuk-buruk ulama adalah yang selalu mendatangi para penguasa (pemerintah) dan sebaik-sebaik penguasa adalah yang selalu mendatangi para ulama”.

Hadits ini juga dihukumi oleh Imam As-Subki rahimahullah sebagai hadits yang tidak ada asalnya.

6. Hadits :

مَنْ قَالَ أَنَا مُؤْمِنٌ فَهُوَ كَافِرٌ وَمَنْ قَالَ أَنَا عَالِمٌ فَهُوَ جَاهِلٌ

“Barangsiapa berkata : ‘Aku adalah seorang mukmin’ maka dia kafir, dan barang siapa berkata: ‘Aku adalah orang yang berilmu’ maka dia adalah orang yang jahil (bodoh)”.

Hadits ini juga dihukumi oleh Imam As-Subki rahimahullahsebagai hadits yang tidak ada asalnya dan dinyatakan dha’if  (lemah) oleh Imam As-Sakhâwi rahimahullah.

7. Hadits :

لَيْسَ لِلْعَبْدِ مِنْ صَلاَتِهِ إِلاَّ مَا عَقَلَ

“Seorang hamba tidak akan mendapatkan (keutamaan) dari shalatnya kecuali apa yang dipahaminya dari shalatnya”.

Hadits ini juga dihukumi oleh Imam As-Subki rahimahullah sebagai hadits yang tidak ada asalnya”.

8. Hadits :

أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللهُ الْعَقْلَ

“Sesuatu yang pertama kali Allâh Azza wa Jalla ciptakan adalah akal…”.

Hadits ini dihukumi oleh Imam Adz-Dzahabi rahimahullah dan Syaikh Al-Albâni rahimahullah sebagai hadits yang bathil dan palsu.

9. Hadits :

مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ وَرَثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Barangsiapa yang mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya, maka Allâh Azza wa Jalla akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya”.

Hadits ini dihukumi oleh Syaikh Al-Albâni rahimahullah sebagai hadits yang palsu.

10. Hadits :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْقُلُوْا عَنْ رَبِّكُمْ وَتَوَاصَوْا بِالْعَقْلِ

“Wahai manusia, pahamilah (dengan akal) dari Rabb-mu dan saling berwasiatlah dengan akal”.

Hadits ini adalah hadits maudhu’ (palsu), diriwayatkan oleh Dâwûd bin Al-Muhabbar dalam kitab Al-‘Aql yang dikatakan oleh Ibnu Hajar: “Dia adalah perawi yang matruk (ditinggalkan riwayatnya karena sangat lemah) dan kitab Al-‘Aql yang ditulisnya mayoritas berisi hadits-hadits yang palsu”.

11. Hadits tentang shalat Ar-Raghâib dibulan Rajab.
Hadits ini dihukumi sebagai hadits palsu oleh Imam Al-‘Iraqi.

(Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XV/1432H/2011. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196)
_______
Footnote
[1]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/152, cet. Darul ma’rifah, Beirut).
[2]. Silsilatul Ahâdîtsidh Dha’îfah wal Maudhû’ah 1/60
[3]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/31).
[4]. Thabaqâtusy Syâfi’iyyatil Kubrâ 6/287 dan Difâ’un ‘anil Hadîtsin Nabawi hlm. 46
[5]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/49).
[6]. Dalam Taqrîbut Tahdzîb hlm. 414
[7]. Lihat Silsilatul Ahâdîtsidh Dha’îfah wal Maudhû’ah no. 3264
[8]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/60).
[9]. Lihat Thabaqâtusy Syâfi’iyyatil Kubrâ 6/287
[10]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/68).
[11]. Lihat Thabaqâtusy Syâfi’iyyatil Kubrâ 6/288
[12]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/125).
[13]. Lihat Thabaqâtusy Syâfi’iyyatil Kubrâ 6/289
[14]. Lihat al-Maqâshidul Hasanah hlm. 663
[15]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/159).
[16]. Lihat Thabaqâtusy Syâfi’iyyatil Kubrâ 6/289
[17]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/83) dan (3/4).
[18]. Lihat Lisânul Mîzân 4/314 dan Takhrîju Ahâdîtsil Misykâh no. 5064
[19]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/71), (3/13) dan (3/23)
[20]. Silsilatul Ahâdîtsidh Dha’îfah wal Maudhû’ah no. 422
[21]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/202)
[22]. Dalam Taqrîbut Tahdzîb hlm. 200
[23]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/83)
[24]. Lihat takhrij beliau pada catatan kaki kitab tersebut (2/366, cet. Dar asy-Syi’ab, Kairo)

http://almanhaj.or.id

http://nahimunkar.com

Diarsipkan :
https://arie49.wordpress.com
http://ariedoank49.blogspot.com

HUKUM MANDI JUNUB MENGGUNAKAN AIR HANGAT

Oleh: Al Ustadz Ammi Nur Baits, Lc

Pertanyaan:
Apakah mandi Junub memakai air hangat itu sah ?

Jawaban:
Bismmillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah.
Bagi orang Junub yang tidak memungkinkan untuk mandi dengan air dingin, dibolehkan menggunakan air hangat. Diantara dalil yang menunjukkan hal ini adalah Dari Aslam Al-Qurasyiy Al-‘Adawy, mantan budak ‘Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu beliau bercerita:

ﺃَﻥَّ ﻋُﻤَﺮَ ﺑْﻦَ ﺍﻟْﺨَﻄَّﺎﺏِ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻐْﺘَﺴِﻞُ ﺑِﺎﻟْﻤَﺎﺀِ ﺍﻟْﺤَﻤِﻴﻢِ

“Sesungguhnya ‘Umar dahulu mandi dari air yang hangat”.
(HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya 675, dan Ibnu Hajar mengatakan sanadnya shahih Fathul Bari, 1:299)

Ibnu Hajar menjelaskan:

ﻭﺃﻣﺎ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﺍﻟﺘﻄﻬﺮ ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﻤﺴﺨﻦ ﻓﺎﺗﻔﻘﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺟﻮﺍﺯﻩ ﺍﻻ ﻣﺎ ﻧﻘﻞ ﻋﻦ ﻣﺠﺎﻫﺪ

“Masalah bersuci dengan air hangat, para ulama sepakat bolehnya kecuali riwayat yang dinukil dari Mujahid”.
(Lihat: Fathul Bari, 1:299)

Kemudian diriwayatkan dari Atha’ bahwa beliau mendengar Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma mengatakan:

‏«ﻟَﺎ ﺑَﺄْﺱَ ﺃَﻥْ ﻳُﻐْﺘَﺴَﻞَ ﺑِﺎﻟْﺤَﻤِﻴﻢِ ﻭَﻳُﺘَﻮَﺿَّﺄُ ﻣِﻨْﻪُ‏»

“Boleh seseorang mandi atau wudhu’ dengan air hangat”.
(HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya, 677).

Adapun hadits dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha , yang mengatakan:

ﺩَﺧَﻞَ ﻋَﻠَﻲَّ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﻗَﺪْ ﺳَﺨَّﻨْﺖُ ﻣَﺎﺀً ﻓِﻲ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲِ ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻟَﺎ ﺗَﻔْﻌَﻠِﻲ ﻳَﺎ ﺣُﻤَﻴْﺮَﺍﺀُ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻳُﻮﺭِﺙُ ﺍﻟْﺒَﺮَﺹَ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemuiku sementara saya telah menghangatkan air dengan sinar matahari. Maka beliau bersabda, “Jangan kamu lakukan itu wahai Humaira (‘Aisyah) karena itu bisa menyebabkan penyakit sopak”.

Keterangan: hadits ini dhai’f (lemah) Disebutkan oleh Ad-Daraquthni [1:38], Ibnu Adi dalam Al-Kamil 3:912, dan Al-Baihaqi 1:6 dari jalan Khalid bin Ismail dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari ‘Aisyah.

Tentang Khalid bin Ismail, Ibnu Adi berkomentar:

ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻀَﻊُ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚَ

“Dia telah memalsukan hadits”

Dalam sanad yang lain, hadits ini juga diriwayatkan dari jalur Wahb bin Wahb Abul Bukhtari dari Hisyam bin Urwah. Ibnu Adi mengatakan: “Wahb lebih buruk dari pada Khalid.”

Kesimpulannya: hadits ini tidak bisa jadi dalil karena statusnya hadits yang dha’if (lemah).

Demikian keterangan Ibnu Hajar di At-Talkhish Al-Habir , 1:21.

Dijawab oleh: Al Ustadz Ammi Nur Baits, Lc (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).

Al Ustadz Ammi Nur Baits Beliau adalah Alumni Madinah International University, Jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh. Saat ini, beliau aktif sebagai Dewan Pembina website pengusahamuslim.com, konsultasisyariah.com, dan Yufid.TV, serta mengasuh pengajian dibeberapa masjid disekitar kampus UGM.

Sumber:
https://konsultasisyariah.com/12274-mandi-junub-dengan-air-hangat.html

Diarsipkan oleh Abu Fina:
https://arie49.wordpress.com
http://ariedoank49.blogspot.com

SHOLAT SUNNAH RAWATIB

Shalat sunnah Rawatib (yang berada sebelum dan setelah shalat wajib). Ada tiga hadits yang menjelaskan jumlah shalat sunnah rawatib beserta letak-letaknya:

1. Dari Ummu Habibah isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Tidaklah seorang muslim mendirikan shalat sunnah ikhlas karena Allah sebanyak dua belas raka’at (12 raka’at) selain shalat fardhu, melainkan Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah disurga”.
(HR. Muslim no.728)

Dan dalam riwayat At-Tirmidzi dan An-Nasa’i, ditafsirkan ke-12 raka’at tersebut. Beliau bersabda:

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Barangsiapa menjaga dalam mengerjakan shalat sunnah dua belas raka’at, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya disurga, yaitu empat raka’at sebelum Dzhuhur, dua raka’at setelah Dzhuhur, dua raka’at setelah Maghrib, dua raka’at setelah Isya` dan dua raka’at sebelum Shubuh”.
(HR. At-Tirmidzi no.379 dan An-Nasai no.1772 dari ‘Aisyah).

2. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radliyallahu ‘anhu dia berkata:

حَفِظْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ

“Aku menghafal sesuatu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa shalat sunnat sepuluh raka’at yaitu; dua raka’at sebelum shalat Dzhuhur, dua raka’at sesudahnya, dua raka’at sesudah shalat Maghrib dirumah beliau, dua raka’at sesudah shalat Isya’ dirumah beliau, dan dua raka’at sebelum shalat Shubuh”.
(HR. Al-Bukhari no.937, 1165, 1173, 1180 dan Muslim no.729)

Dalam sebuah riwayat keduanya, “Dua raka’at setelah Jum’at”.

Dalam riwayat Muslim, “Adapun pada shalat Maghrib, Isya’, dan Jum’at, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat sunnah rawatibnya dirumah”.

3. Dari Ibnu ‘Umar dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا

“Semoga Allah merahmati seseorang yang mengerjakan shalat (sunnah) empat raka’at sebelum Ashar”.
(HR. Abu Daud no.1271 dan At-Tirmidzi no.430)

Sebagian ulama mengatakan yang dimaksud sholat sunnah empat raka’at sebelum Ashar dalam hadits ini adalah sholat sunnah mutlak

Maka dari sini kita bisa mengetahui bahwa shalat sunnah rawatib adalah:

A. Dua raka’at (2 raka’at) sebelum Shubuh, dan sunnahnya dikerjakan dirumah.
B. Empat raka’at (4 raka’at) sebelum Dzhuhur.
C. Dua raka’at (2 raka’at) setelah Dzhuhur
D. Dua raka’at (2 raka’at) setelah Jum’at.
E. Dua raka’at (2 raka’at) setelah Maghrib, dan sunnahnya dikerjakan dirumah.
F. Dua raka’at (2 raka’at) setelah Isya’, dan sunnahnya dikerjakan dirumah.

Lalu apa hukum shalat sunnah setelah Shubuh, sebelum Jum’at, setelah Ashar, sebelum Maghrib, dan sebelum Isya’ ?

Jawab:

Adapun dua rakaat sebelum Maghrib dan sebelum Isya’, maka dia tetap disunnahkan dengan dalil umum:

Dari Abdullah bin Mughaffal Al Muzani dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ قَالَهَا ثَلَاثًا قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ

“Diantara setiap dua adzan (adzan dan iqamah) itu ada shalat (sunnah)”. Beliau mengulanginya hingga tiga kali. Dan pada kali yang ketiga beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang mau mengerjakannya”.
(HR. Al-Bukhari no.588 dan Muslim no.1384)

Adapun setelah Shubuh dan Ashar, maka tidak ada shalat sunnah rawatib saat itu. Bahkan terlarang untuk shalat sunnah mutlak pada waktu itu, karena kedua waktu itu termasuk dari lima waktu terlarang.

Dari Ibnu ‘Abbas dia berkata:

شَهِدَ عِنْدِي رِجَالٌ مَرْضِيُّونَ وَأَرْضَاهُمْ عِنْدِي عُمَرُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَشْرُقَ الشَّمْسُ وَبَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ

“Orang-orang yang diridhai mempersaksikan kepadaku dan diantara mereka yang paling aku ridhai adalah ‘Umar, (mereka semua mengatakan) bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat setelah Shubuh hingga matahari terbit, dan setelah ‘Ashar sampai matahari terbenam”.
(HR. Al-Bukhari no.547 dan Muslim no.1367)

http://uowics.com/view-pembahasan-lengkap-shalat-sunnah-rawatib-al-atsariyyahcom_aHR0cDovL2FsLWF0c2FyaXl5YWguY29tL3BlbWJhaGFzYW4tbGVuZ2thcC1zaGFsYXQtc3VubmFoLXJhd2F0aWIuaHRtbA==.html

Diarsipkan:
https://arie49.wordpress.com
http://ariedoank49.blogspot.com

SUNNAH YANG BANYAK DITINGGALKAN.

Mungkin banyak diantara kaum muslimin yang tidak mengamalkan sunnah ini atau bahkan tidak kenal dengan sunnah ini sama sekali, padahal dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu membacanya dalam shalat sebelum salam.

Sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu mengatakan: “Bacaan paling akhir yang dibaca Beliau diantara tasyahud dan salam adalah:

اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

Allahummagh-firlii maa qod-damtu wa maa akh-khortu, ea maa asrortu wa maa a’lantu, wa maa asroqtu wa maa anta a’lamu bihi minnii, antal-moqoddimu wa antal-miakh-khiru, laa ilaaha illaa anta

(Ya Allah, ampunilah aku, karena dosa yang kulakukan dahulu dan yang kulakukan belakangan, dosa yang kusembunyikan dan yang kutampakkan, dosa dari perbuatanku yang melampui batas dan dosa yang Engkau lebih tahu daripada diriku. Engkaulah Dzat yang mendahulukan dan yang mengakhirkan, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau)

[HR. Muslim: 771].

Kalau Anda sudah menghapalnya, maka mulailah untuk mempraktekkannya. Beliau yang ma’shum saja selalu membaca do’a ini, bagaimana dengan kita.

Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى

Sumber :

http://bbg-alilmu.com/archives/16759

Diarsipkan :

https://arie49.wordpress.com

http://ariedoank49.blogspot.com

Mengeringkan Anggota Badan Setelah Berwudhu, Bolehkah ?

Sebagian orang menganggap bahwa kita tidak boleh mengeringkan anggota badan setelah berwudhu’ dengan handuk, kain, dan sejenisnya karena akan terluput dari keutamaan wudhu’ sebagaimana dijelaskan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut ini:

ﺇِﺫَﺍ ﺗَﻮَﺿَّﺄَ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢُ – ﺃَﻭِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦُ – ﻓَﻐَﺴَﻞَ ﻭَﺟْﻬَﻪُ ﺧَﺮَﺝَ ﻣِﻦْ ﻭَﺟْﻬِﻪِ ﻛُﻞُّ ﺧَﻄِﻴﺌَﺔٍ ﻧَﻈَﺮَ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ ﺑِﻌَﻴْﻨَﻴْﻪِ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ – ﺃَﻭْ ﻣَﻊَ ﺁﺧِﺮِ ﻗَﻄْﺮِ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ – ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻏَﺴَﻞَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﺧَﺮَﺝَ ﻣِﻦْ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻛُﻞُّ ﺧَﻄِﻴﺌَﺔٍ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻄَﺸَﺘْﻬَﺎ ﻳَﺪَﺍﻩُ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ ﺃَﻭْ ﻣَﻊَ ﺁﺧِﺮِ ﻗَﻄْﺮِ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ – ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻏَﺴَﻞَ ﺭِﺟْﻠَﻴْﻪِ ﺧَﺮَﺟَﺖْ ﻛُﻞُّ ﺧَﻄِﻴﺌَﺔٍ ﻣَﺸَﺘْﻬَﺎ ﺭِﺟْﻠَﺎﻩُ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ – ﺃَﻭْ ﻣَﻊَ ﺁﺧِﺮِ ﻗَﻄْﺮِ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ – ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺨْﺮُﺝَ ﻧَﻘِﻴًّﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺬُّﻧُﻮﺏِ

“Jika seorang hamba yang muslim atau mukmin berwudhu’, ketika dia membasuh wajahnya, maka keluarlah dari wajahnya tersebut semua kesalahan yang dilakukan oleh pandangan matanya bersama dengan (tetesan) air atau tetesan air terakhir (yang mengalir darinya). Ketika dia membasuh kedua tangannya, maka keluarlah dari kedua tangannya tersebut semua kesalahan yang dilakukan oleh kedua tangannya bersama dengan (tetesan) air atau tetesan air terakhir (yang mengalir darinya). Ketika dia membasuh kedua kakinya, maka keluarlah dari kedua kakinya tersebut semua kesalahan yang dilakukan (dilangkahkan) oleh kedua kakinya, bersama dengan (tetesan) air atau tetesan air terakhir (yang mengalir darinya), sehingga dia keluar dalam keadaan bersih dari dosa (yaitu dosa kecil, pen)”.
(HR. Muslim no. 244).

Mereka beranggapan, jika air bekas wudhu’ yang masih menempel dianggota badan dikeringkan, maka mereka tidak bisa mendapatkan keutamaan dibersihkan dari dosa (kesalahan) bersamaan dengan tetesan air wudhu’ yang terakhir.

Benarkah anggapan semacam ini ?

Berkenaan dengan masalah ini, terdapat perselisihan pendapat dikalangan para ulama tentang hukum mengeringkan anggota badan setelah berwudhu’.

Pendapat pertama menyatakan bahwa hukumnya makruh. Para ulama yang berpendapat seperti ini berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Maimunah Radhiyallahu ‘anha ketika menggambarkan tata cara mandi wajib (mandi janabah) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadits tersebut Maimunah Radhiyallahu ‘anha mengatakan:

ﺛُﻢَّ ﺃَﺗَﻴْﺘُﻪُ ﺑِﺎﻟْﻤِﻨْﺪِﻳﻞِ ﻓَﺮَﺩَّﻩُ

“Kemudian aku ambilkan kain untuk beliau, namun beliau menolaknya ”.
(Muttafaq ‘alaihi. Lafadz hadits ini milik Muslim no. 317).

Namun hadits ini tidaklah menunjukkan hukum makruh mengeringkan anggota badan setelah wudhu’. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menggunakan handuk setelah mandi, tidaklah menunjukkan bahwa itu dibenci.

Pendapat kedua menyatakan bahwa hukumnya mubah (boleh), baik setelah berwudhu’ atau setelah mandi. Banyak ulama yang berpendapat bolehnya menyeka anggota wudhu’ dengan handuk atau semisalnya. Diantaranya adalah ‘Utsman bin Affan, Anas bin Malik, Hasan bin Ali, Hasan Al-Basri, Ibnu Sirin, Asy-Sya’bi, Ishaq bin Rahawaih, Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad, dan salah satu pendapat Madzhab Imam Asy-Syafi’i. Ini juga berdasarkan riwayat dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma.

Dalil yang menguatkan pendapat kedua ini adalah:

Pertama, hadits dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha , beliau mengatakan:

ﻛَﺎﻥَ ﻟِﺮَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺧِﺮْﻗَﺔٌ ﻳُﻨَﺸِّﻒُ ﺑِﻬَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟﻮُﺿُﻮﺀِ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kain yang beliau gunakan untuk mengeringkan anggota badan setelah berwudhu’ ”.
(HR. At-Tirmidzi no. 53, An-Nasa’i dalam Al-Kuna dengan sanad shahih. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ , 4706).

Kedua: hadits yang diriwayatkan oleh Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺗَﻮَﺿَّﺄَ، ﻓَﻘَﻠَﺐَ ﺟُﺒَّﺔَ ﺻُﻮﻑٍ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ، ﻓَﻤَﺴَﺢَ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﺟْﻬَﻪُ

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu’, kemudian membalik jubah wol beliau dan mengusap wajahnya dengannya (bagian dalam jubahnya, pen.)”.
(HR. Ibn Majah 468. Fuad Abdul Baqi mengatakan: dalam Zawaid sanadnya shahih dan perawinya tsiqat. Syaikh Al-Albani menilai hasan [baik]).

Para ulama yang membolehkan berargumentasi bahwa hadits Maimunah Radhiyallahu ‘anha diatas tidak bisa digunakan sebagai dasar makruhnya mengeringkan anggota badan setelah berwudhu’ atau mandi. Hal ini karena penolakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut mengandung banyak kemungkinan, misalnya karena kainnya yang kotor (tidak bersih), atau beliau tidak ingin kain tersebut basah terkena air, atau alasan – alasan lainnya. Selain itu, hadits Maimunah Radhiyallahu ‘anha ini justru mengisyaratkan bahwa diantara kebiasaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau biasa mengeringkan anggota badan setelah berwudhu’ sehingga Maimunah pun menyiapkan kain untuk beliau. Isyarat ini dikuatkan oleh hadits ‘Asiyah Radhiyallahu ‘anha yang menyatakan bahwa beliau memiliki kain khusus yang biasa beliau gunakan untuk menyeka air setelah berwudhu’.

Kesimpulan:

Pendapat yang lebih rajih (kuat) adalah bahwa mengeringkan atau menyeka anggota badan setelah berwudhu’ hukumnya BOLEH (MUBAH) dan tidak makruh.

Syaikh Abu Malik mengatakan: ”Boleh mengeringkan anggota badan setelah berwudhu’ karena tidak adanya dalil yang melarang hal tersebut, sehingga hukum asalnya adalah boleh (mubah)”.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang mengabarkan tentang keutamaan berwudhu’ dalam hadits riwayat Muslim diatas sehingga beliau adalah orang yang paling paham dalam masalah ini dan paling paham bagaimanakah cara meraih keutamaannya. Oleh karena itu, antara terhapusnya dosa bersamaan dengan tetesan air wudhu’ yang terahir dengan mengeringkan anggota badan setelah berwudhu’, tidaklah saling bertentangan.
Wallahu a’lam.

Catatan kaki:
[1] Lihat Shifat Wudhu’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Fahd bin Abdurrahman Ad-Dausri, hal. 42-43.
[2]. Lihat Shahih Fiqh Sunnah 1/127.
[3]. Shahih Fiqh Sunnah 1/126.

(Pertanyaan yang dijawab oleh Al-Ustadz Ammi Nur Baits, Lc dewan pembina konsultasisyariah.com/)

Al-Ustadz Ammi Nur Baits, Lc Beliau adalah Alumni Madinah International University, Jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh. Saat ini, beliau aktif sebagai Dewan Pembina website pengusahamuslim.com, konsultasisyariah.com, dan Yufid.TV, serta mengasuh pengajian dibeberapa masjid disekitar kampus UGM.

Sumber:
http://www.konsultasisyariah.com/
http://muslim.or.id

Diarsipkan oleh Abu Fina:
https://arie49.wordpress.com
http://arie.doank49.blogspot.com

KUMPULAN KALIMAT TOYYIBAH, ISTILAH BAHASA ARAB DAN ISTILAH – ISTILAH LAINNYA

Salaf = ﺍﻟﺴﻠﻒ atau  Salaf aṣ-Ṣāli =  ﺍﻟﺴﻠﻒ  ﺍﻟﺼﻠﺢ = adalah tiga generasi awal yaitu, para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, salafussalih artinya pendahulu yang shalih.

Manhaj salafi. =  ﻣﻨﻬﺞ ﺍﻟﺴﻠﻔﻴﺔ = jalan pendahulu.
Catatan = Minhaj atau Manhaj, menurut bahasa Arab artinya jalan yang jelas dan terang.Mengikuti salaf berarti mengikuti ajaran para pendahulu (para sahabat) karena merekalah orang yang paling berilmu dan paling semangat ibadahnya dan memiliki guru berdasarkan belajar langsung dari guru mereka yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jalan salaf untuk memurnikan aqidah dari bercampurnya agama Islam dengan perbuatan syirik, bid’ah dan khurafat dan mengembalikan Islam ke ajaran yang asli yaitu kembali ke ajaran Al-Qur’an dan As Sunnah shahih.

Para ulama menyebutkan batasan salaf hingga abad ke 3 hijriyah, berarti kurang lebih dari itu disebut dengan kholaf, 3 hijriyah berarti setelah imam Ahmad bin Hanbal (w. 264 H) jadi imam yang empat itu termasuk generasi Salaf. Imam Asy Syafi’i w. 204 H-Imam Malik w 179 H (Ustadz Abu Yahya Badrusalam)

Takhshish = Mendengar pada saat-saat khusus saja.
Ini berlaku hanya untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Misalnya ketika Nabi lewat di 2 kuburan yang sedang disiksa, dikuburan lainnya tidak terjadi.

Shallallahu ‘alaihi wa sallam = 

ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ

= Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam sejahtera kepada beliau.

Alaihissalam =
ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ

= semoga keselamatan dilimpahkan kepadanya.

Allah ‘Aza wa jalla =

ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞ = ﺍﻟﻠﻪ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞ

= maha perkasa dan maha mulia.

ﻋَﺰَّ ‘

Aza = ‘Aziz = perkasa.

Subhanahu wa ta’ala =

ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ

= Allah yang maha suci dan maha tinggi.

Radiyallahu ‘anhu =

ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ

= Semoga Allah senantiasa melimpahkan keridhaan kepadanya (seorang laki-laki).

Radiyallahu ‘anha =

  ﺭﺿﻲﺍﻟﻠﻪﻋﻨﻪ

= Semoga Allah senantiasa melimpahkan keridhaan kepadanya (seorang perempuan).

Radiyallahu ‘anhum =

ﺭﺿﻲﺍﻟﻠﻪﻋﻨﻬﻢ

= Semoga Allah senantiasa melimpahkan keridhaan kepada mereka (dua orang atau lebih).

Rahimahullah =

ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ.

= Semoga Allah Mengasihinya.

Rahimakumullah =

ﺭﺣﻤﻜﻢ ﺍﻟﻠﻪ.

= semoga Allah merahmati kalian.

Hafizhanallah =

ﺣﻔﻄﻨﺎ ﺍﻟﻠﻪ

= Semoga Allah menjaga kita.

Hafizhahullah =

ﺣَﻔِﻈَﻪُ ﺍﻟﻠﻪ

= semoga Allah menjaganya.

Ghafarahullah =

ﻏَﻔَﺮَﻩُ ﺍﻟﻠﻪ

= Semoga Allah mengampuninya.

ﺁﻣﻴﻦ ﻳﺎ ﺭَﺏَّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴْﻦ

= Amin ya Robbal ‘alamin.

La’anahullah =

ﻟَﻌَﻨَﻪُ ﺍﻟﻠﻪ

= Semoga Allah melaknatnya.

Waffaqahullah =

ﻭَﻓَّﻘَﻪٌ ﺍﻟﻠﻪ

= Semoga Allah memberinya petunjuk.

Hadahullah =

ﻫَﺪَﺍﻩُ ﺍﻟﻠﻪ

= Semoga Allah memberinya hidayah taufik.

Almarhum =

ﺍَﻟْﻤَﺮْﺣُﻮْﻡ

= Yang dirahmati.

Syekh =

ﺷﻴﺦ

= Juga dapat ditulis Shaikh, Sheik, Shaykh atau Sheikh adalah kata dari Bahasa Arab yang berarti kepala suku, pemimpin, tetua, atau ahli agama Islam. Istri atau anak seorang Syekh sering disebut Syeikha (Bahasa Arab = ﺷﻴﺨﺔ )

Ahlus Sunnah Wal Jamaah =

ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ =…..

Barakallahu fik/kum

بَارَكَ اللَّهُ فِيْكُمْْ

= Semoga Allah memberi kalian berkah (laki-laki).

Barakallahu fiki atau Barakallahu fik =

ﺑﺎﺭﻙ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻴﻚ

= Semoga Allah memberkahimu (perempuan).

Tafadhdhol = silahkan (untuk umum).

Tafadhdholiy = silahkan (untuk perempuan).

Al-Kadzdzaab = pendusta

Nisfu sya’ban = Nisfu artinya pertengahan.

Mumtaz = Hebat, (Nilai sempurna, bagus sekali).

Allahul musta’an = hanya Allah-lah tempat kita minta tolong

La adri = tidak tahu.

Baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur = Negeri yang aman, dan senantiasa mendapat ampunan Rabb-nya.

Qadarallah masyaa fa’ala = Demikianlah takdir Allah, apa yang Dia kehendaki pasti akan Dia lakukan.
(HR Muslim [2664]).

Khusnudzon = berprasangka baik.

Wara’ = meninggalkan hal yang masih meragukan.

Ana aidon = aku juga.

Laa bahsa = ga papa.

Mafi musykila = ga masalah.

Wa anta kadzalik = begitu jg antum.

Syafakillah =

ﺷﻔﺎﻙ ﺍﻟﻠﻪ

= Semoga Allah memberikan kesembuhan kepadamu (perempuan).

Syafakumullah =

ﺷﻔﺎﻛﻢ ﺍﻟﻠﻪ

= Semoga Allah memberikan kesembuhan kepada kalian (laki-laki).

Sakinah = Tentram, dilindungi, kedamaian, ketenangan

Mawaddah =

ﻣَﻮَﺩَّﺓ

= Dicinta/kasih sayang.

Warohmah =

ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔً

= Dirahmati.

Jazzakumullah Khairan Katsiran =

ﺟَﺰَﺍﻛُﻢُ ﺍﻟﻠﻪُ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ

= Semoga Allah memberikan balasan kepada Anda yang lebih baik dan lebih banyak = bisa juga untuk ucapan = terima kasih (syukran).

Wa iyyaakum =

  ﻭﺇﻳﺎﻛﻢ 

= dan kepadamu juga.

Istihsan =

  ﺍﺳﺘﺤﺴﺎﻥ.

=  Anggapan baik.

Ikhwah fillah = Saudara sekalian.

In syaa Allaah =

ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ

= Jika Allah mengizinkan.

Ahlan wa sahlan =

  ﺍَﻫْﻼًﻭَﺳَﻬْﻼً

= Selamat datang.

Syukron =

ﺷﻜﺮﺍ

= Terima kasih

‘Afwan =

ﻋﻔﻮﺍِ

= Maaf = Permisi.

Na’am =

ﻧﻌﻢ

= Ya

Taqabalallahu minna wa minkum =

ﺗَﻘَﺒَّﻞَ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻣِﻦَّ ﻭَ ﻣِﻨْﻜُﻢ

= Semoga Allah menerima amalan aku dan kamu.

Ta’wil =

ﺍﻟﺘﺄﻭﻳﻞ

= Tafsir.

Secara laughwi (etimologis) Ta’wil berasal dari kata Al-awl ( ﺃﻭّﻝ – ﻳﺆﻭّﻝ ), artinya kembali; atau dari kata Al ma’al artinya tempat kembali; Al-iyalah yang berarti Al –siyasah yang berarti mengatur.Sedangkan pengertian Ta’wil, menurut sebagian ulama, sama dengan “Tafsir”. Namun ulama yang lain membedakannya, bahwa ta’wil adalah mengalihkan makna sebuah lafazdh ayat ke makna lain yang lebih sesuai karena alasan yang dapat diterima oleh akal (As-Suyuthi, 1979: I, 173).Sedangkan “tafsir” menurut bahasa adalah penjelasan atau keterangan, seperti yang bisa dipahami dari QS. Al-Furqan: 33. ucapan yang telah ditafsirkan berarti ucapan yang tegas dan jelas. Menurut istilah, pengertian tafsir adalah ilmu yang mempelajari kandungan kitab Allah yang diturunkan kepada nabi, berikut penjelasan maknanya serta hikmah-hikmahnya.

Wallahu a’lam bish shawabi =  Hanya Allah Maha tahu yang benar/yang sebenarnya.
Shawabi = benar/kebenaran.

Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun =

ﺍِﻧّﺎ ﻟِﻠّﻪِ ﻭَﺍِﻧّﺎ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺭَﺍﺟِﻌُﻮْﻥ

= Sesungguhnya kita milik Allah , dan kepada Allah jualah kita kembali.

Astaghfirullah hal adzim =

ﺍَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُ ﺍَﻟﻠّﻪَ ﺍﻟْﻌَﻈِﯿْﻢ

= Kami mohon ampun kepada Allah yang maha Agung.

Allahummaghfir lana wal muslimin =

ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻏﻔﺮ ﻟﻨﺎ ﻭﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ

= Ya Allah ampunilah kami dan kaum muslimin.

Zadanallah ilman wa hirsha =

ﺯﺍﺩﻧﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻤﺎ ﻭﺣﺮﺻﺎ

= Semoga Allah manambah kita ilmu dan semangat.

Allahul musta’an =

ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺴﺘﻌﺎﻥ

= Hanya Allah-lah tempat kita minta tolong.

Subhanallah =

ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠّﻪُ 

=  Maha suci Allah.

Ma syaa Allah  =

ﻣَﺎﺷَﺂﺀَﺍﻟﻠّﻪُ

= Allah telah berkehendak akan hal itu.

Laa ilaaha illallah =

ﻻَ ﺍِﻟَﻪَ ﺍِﻻَّ ﺍﻟﻠّﻪ

= Tiada tuhan selain Allah.

Assalamu ‘alaikum warohmatullahi wabarakatuh =

ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪ

Wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarakatuh =

ﻭَﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪ

Bismillahirrahmanirrahim =

  ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ

Halal =

   ﺣَﻼَﻝ

ًHaram =

   ﺣَﺮَﻡً

Laa haula wa laa quwwata illa billah =

ﻫَﻮْﻝَ ﻭَﻻَ ﻗُﻮَّﺕَ ﺍِﻻَّﺑِﺎﻟﻠّﻪ

Al-Qur’ an =

ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ

Ad-dīn =

ﺍَﻟﺪِّﻳْﻦُ

= agama = Islam.

Al insan =

ﺍَﻹِﻧْﺴَﺎﻥ

= Manusia.

Al ustad =

ﺍَﻷُﺳْﺘَﺎﺫُ

= Guru.

Tholabul ilmi =

  ﺍﻃْﻠُﺒُﻮﺍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢ

= Mencari ilmu.

Thooba nahaaruk =

ﻃﺎﺏ ﻧﻬﺎﺭﻙ.

= Selamat siang.

Thooba yaumuk =

ﻃﺎﺏ ﻳﻮﻣﻚ

= Selamat sore.

Masaa’ul khoir =

ﻣﺴﺎﺀ ﺍﻟﺨﻴﺮ

= Selamat Malam.

Ilal liqoo. =

ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻘﺎﺀ

= Sampai jumpa Lagi/sampai bertemu kembali.

Hanii’an marii’an =

ﻫﻨﻴﺌﺎ ﻣﺮﻳﺌﺎ.

= Selamat makan.

Tashbakhu ‘alal khoir =

ﺗﺼﺒﺢ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﻴﺮ

= Selamat tidur.

Ya akhi = wahai saudaraku (laki – laki).

Ya ukhti = wahai saudaraku (perempuan).

Akhi fillah = saudaraku seiman (kepada Allah).

Wa anta kadzalik =

ﻭﺃﻧﺖ ﻛﺬﻟﻚ

= Begitu jg antum.

Taslim = Tunduk/patuh.

Madzhab =

  ﻣﺬﻫﺐ.

= Adalah istilah dari bahasa Arab, yang berarti jalan yang dilalui dan di lewati, sesuatu yang menjadi tujuan seseorang baik konkrit maupun abstrak.

Ta’ashshub = Fanatik.

Tahiyyah = Penghormatan.

Ghazwul fikri = perang pemahaman.

Mutholaah = Menelaah kitab.

Shahafi = otodidak.

Khimar = Kerudung
http://abul-jauzaa.blogspot.in/2008/07/taqlid-dan-sedikit-penjelasan-tentang.html?m=1

Taqliid =

ﺗَﻘْﻠِﻴْﺪٌُ

= adalah mashdar dari qallada – yuqallidu =

ﻗَﻠَّﺪَ – ﻳُﻘَﻠِّﺪ

= Secara bahasa, ia adalah bermakna =

ﻭﺿﻊ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻨﻖ ﻣﺤﻴﻄﺎً ﺑﻪ ﻛﺎﻟﻘﻼﺩﺓ”

Meletakkan sesuatu dileher dengan melilitkannya seperti kalung”. (Al-Ushul min ’Ilmil-Ushul oleh Ibnu ’Utsaimin hal.49 – Maktabah Al-Misykah.

Definisi yang serupa dikatakan pula oleh Asy-Syinqithi dalam Mudzakaratu Ushuulil-Fiqh hal. 305 – Cet.Multaqaa ahlii-Hadiits).

Adapun secara istilah (syari’at) taqlid bermakna:

ﻗﺒﻮﻝ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﻐﻴﺮ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻣﻌﺮﻓﺔ ﺩﻟﻴﻠﻪ

”Menerima satu perkataan tanpa mengetahui dalilnya”.
(Mudzakaratu Ushuulil-Fiqh hal. 306–Cet. Multaqaa Ahlil-Hadiits).

ﺍﺗﺒﺎﻉ ﻣﻦ ﻟﻴﺲ ﻗﻮﻟﻪ ﺣﺠﺔ

”Mengikuti orang yang perkataannya bukan hujjah”.(Al-Ushul min ’Ilmil-Ushul oleh Ibnu ’Utsaimin hal. 49 – Maktabah al-Misykah)

.ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺑﻘﻮﻝ ﺍﻟﻐﻴﺮ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺣﺠﺔ

”Satu perbuatan yang didasarkan oleh satu perkataan tanpa hujjah”.
(Irsyaadul-Fuhuul oleh Asy-Syaukani juz 2 hal. 51–Maktabah Al-Misykah).

Taqlid =

ﺗَﻘْﻠِﻴْﺪٌُ

= Hakekat taqlid menurut ahli bahasa, diambil dari kata-kata “Al-qiladatun” (kalung),

Taqlid secara bahasa adalah meletakkan “Al-qiladatun” (kalung) ke leher. Dipakai juga dalam hal menyerahkan perkara kepada seseorang seakan – akan perkara tersebut diletakkan dilehernya seperti kalung.(Lisanul Arab 3/367 dan Mudzakkirah Ushul Fiqh hal. 3 14).

Adapun taqlid menurut istilah adalah mengikuti perkataan yang tidak ada hujjahnya sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Abu Abdillah bin Khuwaiz Mindad.(Jami’ Bayanil Ilmi wa Ahlihi 2/993 dan l’lamul Muwaqqi’in 2/178).

Ada juga yang mengatakan bahwa taqlid adalah mengikuti perkataan orang lain tanpa mengetahui dalilnya.
(Mudzakkirah Ushul Fiqh hal. 3 14).

Artinya = mengikuti/mengekor  tanpa alasan, meniru dan menurut tanpa dalil.

Al-Ittiba’ =

ﺍَﻟْﺎِﺗِّﺒَﺎﻉ
 
= Adalah menempuh jalan orang yang (wajib) diikuti dan melakukan apa yang dia lakukan.

Ittiba artinya menurut atau mengikut.
Menurut istilah agama yaitu menerima ucapan atau perkataan orang serta mengetahui alasan-alasannya (dalil), baik dalil itu Al-Qur’an maupun hadits yang dapat dijadikan hujjah.

Atau ittiba’ artinya mengikuti yang jelas ada dalilnya, dalam hal ini ittiba’ kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Ta’ashshub =

ﺍﻟﺘَّﻌَﺼُّﺐ  

berasal dari kata =

ﺍﻟﻌَﺼَﺒِﻴَّﺔُ

= ‘Ashabiyyah = Fanatik.

Tasyabbuh =

ﺗُﺸﺒَﻬـ

= Menyerupai.

Marhaban ya Ramadhan =

ﻣَﺮْﺣَﺒًﺎ ﻳَﺎ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥ

Tarawiyah =

ﺗَﺮْﻭِﻳْﺤَﺔٌ

= Waktu sesaat untuk istirahat.
(Lisanul ‘Arab, 2/462 dan Fathul Bari,4/294).

Tarawih =

ﺗَﺮْﻭِﻳْﺤَﺔٌ

= Waktu sesaat untuk istirahat.

Ni’mati bid’atu hadzihi =

ﻧِﻌْﻤَﺖِ ﺍﻟْﺒِﺪْﻋَﺔُ ﻫَﺬِﻩ

= Sebaik baik bid’ah (yang diada-adakan) adalah ini.

Idul Adha =

ﻋﻴﺪ ﺍﻷﺿﺤﻰ

= Hari raya haji.

Jayyid =

ﺤﻴﺢ

= Bagus (tentang hadits jayyid).

Shahih Al-Bukhari =

ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ

Shahih Muslim =

ﺻﺤﻴﺢ ﻣﺴﻠﻢ

Abi Dawood =

  ﺃﺑﻲ ﺩﺍﻭﺩ

Al-Tirmidhi =

  ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ

Hadits dha’if =

ﺿَﻌِﻴْﻒٌ

= Hadits lemah.

BID’AH = Tata cara baru dalam syari’at yang menyerupai suatu ibadah dengan maksud untuk beribadah kepada Allah.

Izar

ﺇِﺯَﺍﺭ

= Adalah sarung/kain bawahan ihram.

Hadits hasan =

  ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺤﺴﻦ

(Al-Hadîts Al-hasan) = Adalah tingkatan hadits yang ada dibawah hadits shahih.

Menurut Imam Tirmidzi, hadits hasan adalah hadits yang tidak berisi informasi yang bohong.

Hadts mursal =

ﺍﻟﻤﺮﺳﻞ

= Adalah hadits yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh sahabat atau tabi’in yang tidak mendengar langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Hadits Mu’alaq =

ﺍﻟﻤﻌﻠﻖ

= Adalah hadits yang dihilangkan awal atau terkadang yang dimaksudkan adalah yang dibuang semua sanadnya,

Hadits Mu’dhol =

ﺍﻟﻤﻌﻀﻞ

= Adalah hadits yang dibuang ditengah-tengah sanadnya, dua rawi secara berturut-turut.

Hadits. Mudhthorib =

  ﺍﻟﻤﻀﻄﺮﺏ

= Adalah hadits yang para rawinya berselisih dalam sanad atau matannya yang tidak mungkin dikompromikan.

Ket = Hukum hadits mudhtorib adalah dha’if (lemah) dan tidak dapat dijadikan hujjah.

’Ilal =

ﺍﻳﻼﻝ.

= ’ilah = Al-ilah =

ﺍﻹﻟﻪ.

= ( ‘ilah hadits) = Berarti. “ penyakit.” ’Illah menurut istilah ahli hadits adalah suatu sebab yang tersembunyi yang dapat mengurangi status keshahihan hadits, padahal dhahirnya tidak nampak kecacatan.

Isra’iliyyat =

  ﺍﺳﺮﺍﺋﯿﻠﯿﺎﺕ

=  Kisah dan dongeng kuno yang menyusup ke dalam tafsir dan hadits, yang bersumber periwayatannya kembali kepada sumber Yahudi dan Nasrani.

Sami`naa wa atha`naa =

ﺳَﻤِﻌْﻨَﺎ ﻭَﺍَﻃَﻌْﻨَﺎ 

= kami mendengar dan kami taat.

Fakُir =

ﺍَﻟْﻔَﻘِﻴْﺮُ

= kemiskinan (umum)

Menurut imam Asy  Syafi’i Fakir ialah orang yang tidak mempunyai harta dan usaha; atau mempunyai usaha atau harta yang kurang dari seperdua kecukupannya, dan tidak ada orang yang berkewajiban memberi belanjanya.

Ijtihad =

  ﺍﺟﺘﻬﺎﺩ

= Adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadits dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang.

Syaithan = 

ﺷَﻴْﻄَﺎﻥٌ 

= Diambil dari bahasa Arab yang berarti jauh, kata syaithan artinya yang jauh dari kebenaran atau dari rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala.
(Lihat Al-Misbahul Munir, hal. 313).

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad = hanya Allah yang memberi pertolongan untuk menjauhi yang haram.

Wallahu waliyyut taufiq = hanya Allah yang dapat memberi pertolongan.

Takhsis = pengkhususan

Khawaarij =

ﺍﻟْﺨَﻮَﺍﺭِﺝُ

= Adalah bentuk jamak (plural) dari kata “khaarijiy” =

ﺍﻟْﺨَﺎﺭِﺟِﻲُّ

= Disebut khawaarij, karena mereka keluar dari jama’ah kaum muslimin.

Ikhtilaath =

ﺍﻻﺧﺘﻼﻁ

= Secara istilah didefinisikan sebagai bercampur-baurnya laki – laki dan wanita yang bukan mahramnya secara fisik dalam satu tempat tanpa penghalang, yang dapat menimbulkan fitnah.

Jaahil/jahl =

ﺟﻬﻞ.

= Dalam bahasa ‘Arab merupakan asal dari dua. hal, yaitu :1. Kosongnya jiwa dari ilmu. Dikatakan Fulaan jaahil , yaitu tidak ada ada ilmu pada dirinya.

2. Al-Khiffah =

ﺍﻟﺨِﻔﺔ

= Yang merupakan lawan kata dari Ath-thuma’niinah =
ﺍﻟﻄﻤﺄﻧﻴﻨﺔ

= Ketenangan.

Jaahiliyyah =

ﺍﻟﺠﺎﻫﻠﻴﺔ

As-Suyuuthiy rahimahullah menjelaskan:
“Jaahiliyyah adalah keadaan dimana orang-orang ‘Arab berada dalam kondisi itu sebelum Islam (datang). Yaitu bodoh terhadap Allah, Rasul-Nya, dan syari’at – syari’at agama”.

Al-barakah =

  ﺍْﻟﺒَﺮَﻛَﺔُ 

Bentuk jamaknya Al-barakaat =

ﺍْﻟﺒَﺮَﻛَﺎﺕُ

Artinya = adalah kebaikan yang melimpah

  ﻛََﺜْﺮَﺓُ ﺍْﻟﺨَﻴْﺮِ

Adapun tabarruk =

ﺍﻟﺘَّﺒَﺮُّﻙُ 

=.Merupakan mashdar dari =

ﺗَﺒَﺮَّﻙَ – ﻳَﺘَﺒَﺮَّﻙ

Artinya adalah mengharapkan barakah

ﻃَﻠَﺐُ ﺍْﻟﺒَﺮَﻛَﺔ

Dan tabarruk dengan sesuatu artinya adalah mengharapkan keberkahan dengan perantaraan sesuatu tersebut.

’Aqiqah berasal dari kata ’aqqu =

  ﻋَﻖُّ

Artinya = Potong.

Definisi ’aqiqah secara syar’i yang paling tepat adalah binatang yang disembelih karena kelahiran seorang bayi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah Ta’ala dengan niat dan syarat – syarat tertentu.

Fiqhul Waqi = berasal dari kata Fiqh berarti “Ilmu”. Waqi’ berarti “Kenyataan atau kebenaran”. Apabila dua kalimah ini digabungkan ia berarti “Ilmu kenyataan atau ilmu kebenaran”.

Thoghut =

ﻃَﻐَﻰ

= Yaitu setiap apa-apa yang disembah selain Allah.

Secara syar’i adalah segala sesuatu yang menyebabkan seorang hamba melebihi batasannya (berlebih-lebihan), baik itu sesuatu yang diibadahi selain Allah.
(Lihat: http://abul-jauzaa.blogspot.in/2011/10/salah-paham-tentang-thaghut.html?m=1)

Ro”yu = akal/logika

Tholabul ‘ilmi =

ﻃَﻠَﺐُ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢ

= Mencari ilmu

Dzikir jama’iy

ﺍﻟﺬﻛﺮ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﻲ

= Dzikir berjamaah.

Majelis =

ﻣَﺠْﻠِﺲ

ٌTafrîth = meremehkan.

Muraqabatullah (merasa diawasi Allah)

Tasahul (bermudah – mudahan)

Ma’asyiral Muslimin Kaidah = Aturan

Thayyib = baik.

Al Furqan = pembeda

Masyru’ = disyari’atkan.

Khutbatul hajah = Khutbah hajat.

Muhadharah = ceramah

ِLaw kaana khairan lasabaquunaa ilaihi =

ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣَﺎ ﺳَﺒَﻘُﻮﻧَﺎ ﺇِﻟَﻴْﻪ

ِ= Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentulah para Shahabat telah mendahului kita mengamalkannya.

Istimrar = Melakukannya secara terus menerus (peladziman dalam amalan yang bukan ibadah ataupun perbuatan bid’ah).

Nama-nama hari dalam sepekan:
Ahad = Minggu artinya =1
atau hari Ahad,
Senin = Isnaini = 2 atau hari Senin),
Selasa = Tsulatsaa,
Rabu =Arbi’aa,
Kamis = Khamiis,
Jum’at = Jumu’ah dan
Sabtu = sabtun.

Al-Afrath = Anak (bayi keguguran/meninggal bayi) yang akan menolong orang tuanya. Apabila janin keguguran sebelum usia 4 bulan, tidak perlu diberi nama, tidak ada aqiqah. Karena aqiqah dan diberi nama hanya bagi keguguran diusia masuk 5 bulan atau setelah ditiupkan ruh ke janin.

Ikhtilath = bercampur/berbaur antara lelaki dan perempuan.

Dayus = Adalah laki-laki atau suami yang tidak punya rasa cemburu.

Atau Dayus adalah dimaksudkan kepada orang yang membiarkan atau merelakan keluarganya melakukan maksiat tanpa dicari jalan untuk mencegahnya.

Contohnya: Seorang suami membiarkan isterinya bergaul bebas dengan lelaki bukan mahram, sementara isteri pula merelakan dirinya begitu. Atau kedua ibu bapa membiarkan anak-anak mereka melakukan pergaulan bebas dan melakukan maksiat.

Contoh lagi jika istrinya berbuat maksiat atau menampilkan aurat dia dayyus tidak punya rasa cemburunya.

Salaful ummah = Para pendahulu umat ini.

Shalat ‘Atamah = Shalat Isya’

Berkhalwat = berdua – duaan

Ajnabiyyah = Wanita asing/bukan makhram.

Takfiriy = Gemar mengkafirkan orang.

Khawariqul ‘adah’ = Kemampuan luar biasa misalnya memiliki ilmu kebal. Ilmu ini ada dua katagori, bisa datangnya dari Allah bisa juga dari syaithan.Bacaan

Ta’awwudz = Bacaan minta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, misalnya membaca a’uzubillahiminasyaithonirrojim.

Ikhwan = Saudara laki: laki (jamak)

Akhwat = Saudara perempuan (jamak)

Ukhri = Panggilan untuk saudari perempuan.

Akhi = Panggilan untuk saudara laki-laki.

Duduk iftirosy = adalah duduk dengan menegakkan kaki kanan dan membentangkan kaki kiri kemudian menduduki kaki kiri tersebut.

Duduk Tawarruk = adalah duduk dengan menegakkan kaki kanan dan menghamparkan kaki kiri ke depan (dibawah kaki kanan), dan duduknya di atas tanah/lantai.

Shalat Sunnah Ghairu mu’akkad = adalah shalat Sunnah yang tidak dikuatkan (kadang dikerjakan Rasulullah dan kadang tidak dikerjakannya).

Qona’ah = adalah sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari dari rasa tidak puas dan perasaan kurang. Orang yang memiliki sifat qana’ah memiliki pendirian bahwa apa yang diperoleh atau yang ada didirinya adalah kehendak Allah .

Tasamuh = Toleransi

Defunisi zuhud = Secara harfiah, zuhud berarti tidak berminat kepada sesuatu yang bersifat keduniawian, atau meninggalkan gemerlap kehidupan yang bersifat material.

Zuhud secara bahasa = berarti berpaling dari sesuatu karena hinanya sesuatu tersebut dan karena (seseorang) tidak memerlukannya.

Dalam bahasa Arab terdapat ungkapan “syaiun zahidun” yang berarti “sesuatu yang rendah dan hina”.

Makna secara istilah: Ibnu Taimiyah mengatakan – sebagaimana dinukil oleh muridnya, Ibnu Al- Qayyim – bahwa zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat demi kehidupan akhirat.

Tabayyun = Secara bahasa memiliki arti mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya.

Sedangkan secara istilah adalah meneliti dan meyeleksi berita, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah baik dalam hal hukum, kebijakan dan sebagainya hingga jelas benar permasalahannya.

As-Sunnah = Maknanya menurut para ulama adalah jalan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc)

Thiyaroh atau Tathayyur =  Adalah beranggapan sial ketika tertimpanya suatu musibah pada sesuatu yang bukan merupakan sebab dilihat dari sisi syar’i atau inderawi, baik itu dengan orang, dengan benda tertentu, dengan tumbuhan, dengan waktu, dengan angka tertentu atau dengan tempat tertentu.

Kata Amma ba’du =

ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪ

Bisa juga diungkapkan dengan =

ﻭَﺑَﻌْﺪُ

= wa ba’du

Keduanya bermakna sama, yaitu = adapun selanjutnya.

Kalimat ini disebut “ ﻓَﺼْﻞُ ﺍﻟﺨِﻄَﺎﺏِ ” (kalimat pemisah). Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau mengatakan, “Orang yang pertama kali mengucapkan ‘amma ba’du’ adalah Nabi Daud ‘Alaihis salam, dan itu adalah fashlal khitab .”
(Lihat: Al-Awail Ibni Abi Ashim, no. 188 : Al-Awail Ath-Thabrani, no. 40).

Syubhat = Adalah ke tidak jelasan atau kesamaran, sehingga tidak bisa diketahui halal haramnya sesuatu secara jelas. Syubhat terhadap sesuatu bisa muncul baik karena ke tidak jelasan status hukumnya, atau ke tidak jelasan sifat atau faktanya. Status hukumnya dapat diketahui baik berdasarkan nash ataupun berdasarkan ijtihad yang dilakukan ulama dengan metode qiyas, istishab, dan sebagainya.

FITNAH secara bahasa berarti ujian ( ikhtibaar), sedangkan secara istilah FITNAH KUBUR adalah pertanyaan yang ditujukan kepada mayit tentang Rabbnya, agamanya dan Nabinya.
Hal ini benarberdasarkan Al Qur’an dan Sunnah.
(Lihat Syarah Lum’atul I’tiqod hal 67, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin).
( muslimah.or.id/aqidah/setelah-kita-dimasukkan-ke-liang-kubur.html)

Pertanyaan pertama didalam kubur:
“Man Robbuka?” … “Siapakah Robbmu?”
Kedua, “Wa maa diinuka ?” dan “apakah agamamu ?”
Ketiga, “Wa maa hadzaar rujululladzii bu’itsa fiikum?” … dan “siapakah orang yang telah diutus diantara kalian ini ?”
(muslimah.or.id/aqidah/setelah-kita-dimasukkan-ke-liang-kubur.html)